Davao City — Desain ruang dan fungsi menjadi faktor paling penting bagi mahasiswa pascasarjana dan pekerja profesional ketika memilih coworking space di Davao City. Temuan tersebut berasal dari penelitian Shania Jiv S. Alaba, Johanna Mae M. Andrin, Milaana Therese G. Hsu, Juan Alesandro Miguel P. Saguid, Jessie P. Wu, dan Emmanuel Joseph B. Sumatra dari Ateneo de Davao University. Penelitian dilakukan pada 28 Agustus hingga 20 September 2025 dengan melibatkan 360 responden yang terdiri dari 180 mahasiswa pascasarjana dan 180 pekerja profesional. Hasilnya menunjukkan bahwa efisiensi tata ruang, petunjuk arah yang jelas, dan pengaturan suhu menjadi kombinasi desain yang paling disukai pengguna.
Pertumbuhan pola kerja jarak jauh dan sistem kerja hibrida membuat kebutuhan terhadap ruang kerja alternatif semakin meningkat. Coworking space berkembang sebagai tempat yang memungkinkan pekerja profesional, pekerja mandiri, dan mahasiswa menjalankan aktivitas mereka dalam lingkungan bersama. Selain menyediakan meja dan fasilitas kerja, ruang tersebut juga menjadi lingkungan yang dapat memengaruhi kenyamanan, produktivitas, dan pengalaman pengguna.
Di Davao City, perkembangan sektor coworking space berjalan seiring dengan pertumbuhan aktivitas ekonomi perkotaan dan perubahan pola kerja. Namun, karakter lingkungan tropis di wilayah tersebut membuat aspek kenyamanan seperti suhu dan pencahayaan menjadi perhatian tersendiri. Penelitian sebelumnya banyak membahas manfaat coworking space, tetapi informasi mengenai elemen fisik apa yang paling menentukan pilihan pengguna di Davao City masih terbatas. Kondisi tersebut mendorong para peneliti untuk mengukur secara lebih spesifik preferensi pengguna terhadap berbagai karakteristik desain ruang.
Penelitian ini melihat desain coworking space melalui tiga kelompok utama, yaitu Ambiance, Space and Function, serta Signs, Symbols, and Artifacts. Ketiganya digunakan untuk melihat bagaimana pengguna menilai lingkungan fisik sebuah ruang kerja. Aspek Space and Function mencakup tata letak ruang, kenyamanan, fungsi operasional, navigasi, dan aksesibilitas. Signs, Symbols, and Artifacts mencakup petunjuk arah, logo, elemen branding, dekorasi, serta tanda aturan. Sementara Ambiance mencakup suhu, aroma, pencahayaan, warna, kebersihan, dan kondisi suara.
Untuk mendapatkan gambaran preferensi pengguna, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan analisis Choice-Based Conjoint. Sebanyak 360 responden dipilih melalui kombinasi purposive sampling dan quota sampling. Responden terdiri dari pekerja profesional dari sektor seperti BPO, e-commerce, kesehatan, dan pariwisata, serta mahasiswa pascasarjana dari bidang seperti kedokteran, hukum, bisnis, seni dan sains, serta pendidikan. Data preferensi dikumpulkan menggunakan perangkat lunak 1000minds dengan metode PAPRIKA.
Dari 430 peserta awal, sebanyak 70 data dikeluarkan karena dianggap tidak valid, seperti pengisian terlalu cepat, profil yang tidak lengkap, atau pola jawaban yang terlalu seragam. Dengan demikian, terdapat 360 responden yang digunakan dalam analisis akhir. Komposisinya seimbang, yakni 180 pekerja profesional dan 180 mahasiswa pascasarjana. Sebagian besar responden berada pada kelompok usia 25–28 tahun, yaitu 65,8 persen. Responden perempuan mencapai 64,2 persen, sedangkan laki-laki dan interseks secara keseluruhan mencapai 35,8 persen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Space and Function menjadi faktor dengan tingkat kepentingan tertinggi, yaitu 38,8 persen. Faktor berikutnya adalah Signs, Symbols, and Artifacts dengan 31,5 persen, sedangkan Ambiance berada di posisi ketiga dengan 29,7 persen. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengguna lebih memperhatikan bagaimana ruang dapat mendukung aktivitas kerja dibandingkan sekadar tampilan dekoratifnya.
Dalam kelompok Space and Function, tata letak ruang yang efisien menjadi pilihan paling kuat dengan nilai utilitas 0,388. Aspek kenyamanan ruang melalui variasi tempat duduk dan kursi ergonomis berada setelahnya dengan nilai 0,300. Fungsi operasional memperoleh nilai 0,216, sementara kemudahan navigasi dan aksesibilitas mendapatkan nilai dasar 0,00 dalam perhitungan tingkat utilitas.
Pada kelompok Signs, Symbols, and Artifacts, petunjuk arah atau directional signage menjadi pilihan paling disukai dengan nilai utilitas 0,315. Elemen logo dan branding berada berikutnya dengan nilai 0,220, sementara dekorasi seperti karya seni dan tanaman memperoleh nilai 0,154. Hasil ini menunjukkan bahwa tanda yang membantu pengguna menemukan area tertentu dianggap lebih bernilai dibandingkan dekorasi semata.
Sementara pada aspek Ambiance, pengaturan suhu ruangan menjadi faktor paling penting dengan nilai utilitas 0,297. Penggunaan aroma atau fragrance diffuser berada di urutan berikutnya dengan nilai 0,202. Pencahayaan, tingkat kecerahan, dan warna memperoleh nilai 0,142. Dalam model penelitian, tidak adanya suara dan kebersihan estetis tidak memberikan tambahan nilai utilitas.
Simulasi pilihan pasar semakin memperjelas pola tersebut. Desain fisik pertama yang menggabungkan pengaturan suhu, tata ruang, dan petunjuk arah memperoleh skor utilitas 1,000 dan menghasilkan simulasi pangsa pilihan sebesar 100 persen. Ketika konfigurasi utama tersebut tidak tersedia, pilihan beralih ke desain yang menggunakan aroma dan tata ruang dengan pangsa 41,7 persen, kemudian desain yang menggabungkan pengaturan suhu, kenyamanan ruang, dan petunjuk arah dengan pangsa 33,1 persen.
Tingkat kesepakatan responden terhadap urutan preferensi juga tergolong kuat. Nilai Kendall’s coefficient of concordance mencapai 0,790, sedangkan Spearman’s rank correlation coefficient berada pada angka 0,788. Hasil tersebut menunjukkan adanya konsistensi yang kuat dalam penilaian responden terhadap berbagai konfigurasi desain coworking space.
Menurut hasil penelitian, pengguna coworking space di Davao City tidak hanya mencari ruangan yang terlihat menarik, tetapi terutama membutuhkan ruang yang membantu mereka bekerja secara efektif. Tata letak meja dan area kerja yang seimbang memungkinkan pengguna memiliki ruang untuk bekerja secara individual sekaligus berkolaborasi. Petunjuk arah yang jelas juga membantu pengguna bergerak di dalam fasilitas bersama yang memiliki banyak ruangan atau area layanan.
Pengaturan suhu menjadi temuan penting lainnya. Sebagai wilayah dengan iklim tropis, Davao City membutuhkan pengelolaan temperatur yang dapat menjaga kenyamanan pengguna selama bekerja. Penelitian merekomendasikan agar operator mempertimbangkan sistem pengendalian suhu yang lebih terarah dan menjaga temperatur ruangan pada kisaran 22°C hingga 24°C untuk mendukung kenyamanan dan konsentrasi selama jam kerja.
Bagi pengelola coworking space, hasil tersebut memberikan dasar praktis dalam menentukan prioritas investasi. Pengelola dapat mengutamakan furnitur modular dan tata ruang fleksibel yang mampu memisahkan area kerja individual dari ruang kolaborasi. Petunjuk arah juga perlu ditempatkan secara jelas menuju area penting seperti tempat mencetak dokumen, zona tenang, toilet, dan pintu keluar darurat.
Penelitian juga menyarankan agar pengelola tidak menggunakan pola layanan dan harga yang sama untuk seluruh pengguna. Mahasiswa pascasarjana dan pekerja profesional memiliki pola penggunaan yang berbeda sehingga paket keanggotaan dapat disesuaikan. Misalnya, paket khusus mahasiswa pada jam tertentu dapat berjalan berdampingan dengan paket profesional yang menyediakan meja khusus dan akses ruang rapat.
Secara keseluruhan, penelitian Shania Jiv S. Alaba dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa desain coworking space yang efektif bukan sekadar persoalan estetika. Bagi mahasiswa pascasarjana dan pekerja profesional di Davao City, fungsi ruang, kemudahan penggunaan, petunjuk arah, serta kenyamanan suhu menjadi bagian penting dalam menentukan daya tarik sebuah fasilitas kerja bersama. Temuan tersebut dapat menjadi acuan bagi pelaku usaha lokal dalam merancang ruang kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan penggunanya.
Penulis
Shania Jiv S. Alaba — Ateneo de Davao University.
Johanna Mae M. Andrin — Ateneo de Davao University.
Milaana Therese G. Hsu — Ateneo de Davao University.
Juan Alesandro Miguel P. Saguid — Ateneo de Davao University.
Jessie P. Wu — Ateneo de Davao University.
Emmanuel Joseph B. Sumatra — Ateneo de Davao University.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: The Value of Design: A Conjoint Analysis of Physical Design Attributes in the District 1, Davao City Coworking Market
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 8, 2026, halaman 1817–1826.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.70
Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar