Canva Whiteboard Meningkatkan Keterampilan Kolaborasi Mahasiswa dalam Pengembangan Multimedia

Ilustrasi by AI

Surabaya — Penggunaan Canva Whiteboard yang dirancang sebagai ruang kerja virtual kolaboratif menunjukkan hasil positif dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi mahasiswa pada mata kuliah Pengembangan Multimedia. Temuan ini berasal dari penelitian Ima Pinensi Br Tarigan, Mustaji, Utari Dewi, dan Almaida Vebibina. Penelitian dilaksanakan pada Februari hingga Maret 2026 dengan melibatkan 56 mahasiswa semester enam Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Palangka Raya. Setelah mengikuti pembelajaran selama enam pertemuan, skor rata-rata keterampilan kolaborasi mahasiswa meningkat dari 62,64 menjadi 86,88.

Kolaborasi menjadi kemampuan penting bagi mahasiswa karena tugas akademik maupun pekerjaan profesional semakin banyak membutuhkan pembagian tanggung jawab, pertukaran gagasan, pengambilan keputusan bersama, dan penyelesaian pekerjaan secara tim. Dalam pengembangan multimedia, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena sebuah produk multimedia tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga analisis kebutuhan, penyusunan materi, desain visual, pembuatan navigasi, pengembangan prototipe, hingga evaluasi produk. Seluruh proses tersebut membutuhkan koordinasi antarmahasiswa.

Namun, bekerja dalam kelompok tidak selalu menghasilkan kolaborasi yang seimbang. Penelitian menemukan bahwa mahasiswa sebelumnya menghadapi sejumlah persoalan ketika mengerjakan tugas kelompok secara digital. Pembagian pekerjaan belum merata, sebagian mahasiswa cenderung mengerjakan porsi pekerjaan yang lebih besar, dan tanggung jawab setiap anggota belum selalu terlihat dengan jelas. Mahasiswa juga masih mengalami kesulitan dalam memberikan umpan balik yang membangun serta menyelesaikan perbedaan pendapat terkait keputusan visual dan teknis.

Kondisi tersebut juga terlihat dalam analisis awal di Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Palangka Raya. Lebih dari 78 persen mahasiswa dari angkatan sebelumnya berada dalam kategori keterampilan kolaborasi sedang. Dosen juga mengalami kesulitan memantau kontribusi masing-masing anggota karena tugas sebelumnya lebih menekankan produk akhir daripada proses pembentukan ide, pembagian tanggung jawab, penyelesaian perbedaan pendapat, dan revisi pekerjaan.

Situasi itu mendorong peneliti mengembangkan Collaborative Virtual Workspace berbasis Canva Whiteboard. Platform tersebut tidak sekadar digunakan sebagai papan tulis digital, tetapi diatur menjadi lingkungan pembelajaran visual yang memiliki tahapan dan fungsi khusus. Ruang kerja tersebut menyediakan area untuk analisis kebutuhan, pemetaan konsep, pembuatan storyboard, pengorganisasian aset visual, pengembangan prototipe, pemberian umpan balik, presentasi produk, serta refleksi kolaborasi.

Menurut peneliti, kekuatan pendekatan tersebut bukan semata-mata terletak pada penggunaan Canva Whiteboard. Nilai pembelajarannya muncul dari cara berbagai fitur seperti komentar, sticky notes, templat, area visual, dan pengeditan bersama disusun mengikuti tujuan pembelajaran. Dengan struktur tersebut, mahasiswa dapat melihat tahapan proyek, mengetahui pekerjaan yang harus diselesaikan, memberikan masukan kepada anggota kelompok, serta mendokumentasikan perubahan produk.

Penelitian menggunakan metode penelitian pengembangan dengan model ADDIE yang terdiri atas tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Sebanyak 56 mahasiswa semester enam yang mengikuti mata kuliah Pengembangan Multimedia menjadi peserta utama penelitian. Mereka dibagi menjadi sembilan kelompok dengan sekitar enam mahasiswa per kelompok. Pembelajaran berlangsung selama enam pertemuan, masing-masing 150 menit, dengan kombinasi kegiatan kolaboratif secara langsung di kelas dan tugas kelompok yang dikerjakan di luar jam perkuliahan.

Setiap pertemuan memiliki aktivitas yang saling terhubung. Pada pertemuan pertama, mahasiswa mempelajari media pembelajaran dan membuat mind map mengenai contoh media yang digunakan di sekolah beserta permasalahannya. Pertemuan kedua berfokus pada analisis peserta didik, materi, hambatan pembelajaran, dan konteks penggunaan media. Selanjutnya, mahasiswa menyusun alur navigasi dan storyboard, mengembangkan aset visual dan prototipe, memberikan umpan balik kepada kelompok lain, melakukan revisi, kemudian mempresentasikan produk akhir.

Proses pengembangan juga melibatkan evaluasi sebelum produk diterapkan secara penuh. Ahli materi memberikan penilaian validitas sebesar 90 persen, sedangkan ahli desain memberikan nilai 94 persen. Kedua hasil tersebut masuk kategori sangat valid. Perbaikan dilakukan berdasarkan masukan ahli, termasuk penyederhanaan penjelasan prosedur desain, penambahan glosarium, peningkatan kontras tampilan, serta pengaturan jarak antararea kelompok agar ruang kerja lebih mudah digunakan.

Uji coba kelompok kecil menghasilkan tingkat kepraktisan sebesar 85 persen. Aspek fungsi kolaboratif memperoleh nilai 91,11 persen, sedangkan keterbacaan visual dan kejelasan instruksi memperoleh 82,22 persen. Masukan mahasiswa dalam uji coba digunakan untuk memperbaiki navigasi, aturan pengeditan secara bersamaan, serta akses terhadap aset visual. Setelah perbaikan, kepraktisan dalam penerapan lapangan meningkat menjadi 91 persen.

Perubahan keterampilan kolaborasi terlihat jelas dari hasil pengukuran sebelum dan sesudah pembelajaran. Rata-rata skor mahasiswa meningkat 24,23 poin, dari 62,64 pada pretest menjadi 86,88 pada posttest. Seluruh 56 mahasiswa memperoleh skor posttest yang lebih tinggi dibandingkan skor awal mereka. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan tersebut signifikan dengan nilai t(55) = 41,99 dan p < 0,001. Nilai normalized gain sebesar 0,649 menunjukkan peningkatan dalam kategori sedang.

Peningkatan tersebut berkaitan dengan aktivitas yang secara langsung melatih berbagai aspek kolaborasi. Mahasiswa berkontribusi dalam analisis kebutuhan, penyusunan storyboard, produksi aset, dan pengembangan prototipe. Komunikasi dilakukan melalui komentar, sticky notes, dan diskusi. Ketika menentukan materi, gaya visual, atau alternatif desain, mahasiswa juga harus bernegosiasi dan menyelesaikan perbedaan pendapat. Sementara itu, peer review melatih mahasiswa memberikan kritik secara konstruktif dan menghargai keputusan kelompok lain.

Ruang kerja bersama juga membantu membuat proses kolaborasi lebih terlihat. Komentar, elemen visual, dan riwayat revisi memberikan informasi mengenai perkembangan pekerjaan yang tidak selalu terlihat dalam tugas kelompok konvensional. Dosen dapat memantau perkembangan kelompok, komentar, serta revisi melalui satu ruang kerja bersama. Meski demikian, peneliti menekankan bahwa jumlah aktivitas digital tidak otomatis menunjukkan kualitas kontribusi seseorang sehingga penilaian sebaiknya tetap menggabungkan penilaian diri, penilaian teman sebaya, observasi, dan kualitas produk.

Bagi pendidikan tinggi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan papan tulis digital akan lebih bermanfaat jika ditempatkan dalam desain pembelajaran yang terstruktur. Dosen tidak cukup hanya menyediakan ruang digital dan meminta mahasiswa bekerja dalam kelompok. Tahapan pekerjaan, aturan pengeditan, target setiap kegiatan, navigasi visual, umpan balik, dan proses revisi perlu dirancang secara jelas agar teknologi benar-benar mendukung kolaborasi.

Meski hasilnya positif, peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini belum dapat membuktikan bahwa Canva Whiteboard menjadi satu-satunya penyebab peningkatan keterampilan kolaborasi. Penelitian menggunakan satu kelompok tanpa kelompok pembanding dan sebagian besar pengukuran efektivitas didasarkan pada penilaian diri mahasiswa. Faktor seperti pengalaman selama proyek, dukungan dosen, efek pengukuran, dan kebaruan penggunaan platform juga mungkin memengaruhi hasil. Karena itu, temuan ini diposisikan sebagai bukti awal yang masih perlu dikonfirmasi melalui penelitian eksperimental atau metode campuran dengan desain yang lebih kuat.

Secara keseluruhan, penelitian Ima Pinensi Br Tarigan, Mustaji, Utari Dewi, dan Almaida Vebibina menunjukkan bahwa Collaborative Virtual Workspace berbasis Canva Whiteboard memiliki validitas dan kepraktisan yang tinggi serta berkaitan dengan peningkatan keterampilan kolaborasi mahasiswa. Lingkungan pembelajaran tersebut menggabungkan kerja bersama, aktivitas visual, umpan balik teman sebaya, revisi, dan refleksi dalam satu rangkaian pembelajaran. Pendekatan ini memberikan alternatif bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan pembelajaran multimedia yang tidak hanya berorientasi pada produk akhir, tetapi juga memperhatikan proses kerja sama mahasiswa.

Profil Penulis

Ima Pinensi Br Tarigan — Program Doktor Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya.

Mustaji — Program Doktor Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya.

Utari Dewi — Program Doktor Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya.

Almaida Vebibina — Departemen Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Medan.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Developing a Collaborative Virtual Workspace-Based Visual Learning Environment to Enhance University Students’ Collaboration Skills in a Multimedia Development Course

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 8, 2026, halaman 3457–3474.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.273

Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar