Artikel berjudul Business Development Strategy for Oyster Mushroom Cultivation: A Case Study of Mr. Adi Sumarno in Sri Basuki Village, Batanghari District, East Lampung diterbitkan dalam Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO), Vol. 4 No. 2 Tahun 2026, halaman 119–130.
Jamur tiram menjadi alternatif usaha pertanian
Pertanian masih menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat. Di tengah fluktuasi produksi pertanian, diversifikasi usaha menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan pendapatan. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dinilai memiliki potensi karena masa pertumbuhannya relatif cepat, bernilai gizi, dan memiliki pasar untuk konsumsi rumah tangga maupun industri kuliner.
Kondisi produksi jamur tiram di Lampung Timur juga menunjukkan perubahan yang cukup besar. Data yang dikutip dalam artikel mencatat produksi sebesar 2.697 kilogram pada 2022, turun menjadi 1.577 kilogram pada 2023, kemudian melonjak menjadi 117.655 kilogram pada 2024. Di Desa Sri Basuki, pengembangan usaha masih menghadapi sejumlah kendala. Dari 22 pembudidaya jamur tiram yang ada, hanya sekitar separuh yang masih bertahan.
Keterbatasan modal, pengetahuan, fasilitas produksi, dan fluktuasi hasil panen menjadi tantangan bagi pembudidaya. Kondisi tersebut membuat strategi pengembangan usaha menjadi penting, terutama bagi pelaku usaha yang ingin meningkatkan kapasitas produksi tanpa kehilangan pasar yang sudah dimiliki.
Penelitian dilakukan langsung di lokasi usaha
Eva Yuliana dan rekan-rekannya menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi langsung di lokasi budidaya, dokumentasi, dan studi literatur.
Informan utama terdiri atas pemilik usaha, dua karyawan, serta pengepul jamur yang menjadi mitra distribusi. Penelitian berlangsung dari Mei 2025 sampai Januari 2026. Para peneliti kemudian menganalisis biaya, penerimaan, dan pendapatan usaha, serta memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman melalui analisis SWOT, IFAS, dan EFAS.
Dengan pendekatan tersebut, penelitian tidak hanya melihat apakah usaha jamur tiram menghasilkan keuntungan, tetapi juga mengidentifikasi faktor yang dapat membantu atau menghambat pertumbuhan bisnis.
Usaha menghasilkan pendapatan Rp18,88 juta per periode produksi
Dari sisi keuangan, usaha budidaya jamur tiram Adi Sumarno menunjukkan hasil positif. Dalam satu periode produksi selama empat bulan, penerimaan yang dicatat mencapai Rp32,032 juta. Setelah dikurangi biaya variabel sebesar Rp13,15 juta, pendapatan yang dihitung dalam penelitian mencapai Rp18,882 juta.
Produksi pada periode tersebut mencapai 2.464 kilogram dengan harga jual Rp13.000 per kilogram. Rata-rata penjualan mencapai sekitar 612 kilogram per bulan. Jamur mulai dapat dipanen sekitar 45 hari setelah proses budidaya dan dapat dipanen tiga hingga empat kali dengan interval sekitar tujuh sampai delapan hari.
Namun, artikel juga memuat perhitungan biaya tetap dan total biaya usaha yang perlu diperhatikan. Karena itu, angka pendapatan dalam artikel perlu dibaca sesuai komponen biaya dan rumus yang digunakan peneliti, bukan semata-mata sebagai laba bersih setelah seluruh biaya ekonomi diperhitungkan.
Pelanggan tetap menjadi kekuatan terbesar
Analisis internal menunjukkan usaha tersebut memiliki sejumlah kekuatan. Faktor paling kuat adalah keberadaan pelanggan tetap, terutama pengepul. Kondisi ini memberikan kepastian relatif dalam pemasaran hasil panen.
Usaha juga memiliki jaringan pasar yang luas, keterampilan budidaya yang telah berkembang, lokasi yang dinilai strategis, serta kemampuan melakukan panen setiap hari.
Sebaliknya, kelemahan terbesar terletak pada fasilitas produksi yang masih sederhana. Usaha juga belum melakukan pencatatan keuangan secara formal, kapasitas produksi belum optimal, modal pengembangan terbatas, belum memiliki izin usaha, dan produk jamur memiliki daya tahan yang relatif singkat.
Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan usaha bukan hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan jamur, tetapi juga dengan pengelolaan bisnis dan peningkatan kapasitas produksi.
Produk olahan menjadi peluang terbesar
Dari sisi eksternal, para peneliti menemukan bahwa peluang terbesar berasal dari kemungkinan mengolah hasil panen menjadi produk lain. Jamur tiram dapat dikembangkan menjadi keripik, jamur crispy, abon, atau produk siap saji.
Diversifikasi tersebut dinilai penting karena jamur tiram merupakan produk yang tidak tahan lama. Mengubah sebagian hasil panen menjadi produk olahan dapat membantu meningkatkan nilai tambah sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat produk yang tidak segera terjual.
Peningkatan permintaan jamur tiram putih juga menjadi peluang penting. Hubungan baik dengan pemasok bahan baku dan kemungkinan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar turut memperkuat prospek usaha. Sementara itu, ancaman utama yang teridentifikasi adalah serangan hama, perubahan cuaca, kenaikan biaya bahan baku, dan munculnya pesaing baru.
Strategi agresif dinilai paling sesuai
Hasil pemetaan SWOT menempatkan usaha Adi Sumarno pada Kuadran I. Posisi tersebut menunjukkan bahwa usaha memiliki kekuatan internal sekaligus peluang eksternal yang relatif besar sehingga strategi pertumbuhan agresif dinilai sesuai.
Strategi dengan nilai tertinggi adalah strategi SO (Strengths-Opportunities) dengan skor 3,96. Strategi ini menggabungkan kekuatan usaha dengan peluang pasar yang tersedia.
Eva Yuliana, Diky Angga Hendrawan, dan Dina Nadiyah Faiqoh merekomendasikan tiga langkah utama. Pertama, memanfaatkan jaringan pasar yang luas dan hubungan dengan pengepul untuk meningkatkan penjualan. Kedua, meningkatkan kualitas serta jumlah produksi sambil mengembangkan produk makanan berbahan baku jamur tiram. Ketiga, memanfaatkan peningkatan pendapatan usaha untuk membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Peningkatan produksi perlu diikuti profesionalisasi usaha
Para peneliti juga menyarankan pemilik usaha mengalokasikan sebagian pendapatan untuk meningkatkan kapasitas produksi, termasuk mengupayakan mesin pengisi baglog. Pencatatan pemasukan dan pengeluaran secara rutin serta pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) juga dinilai penting untuk meningkatkan profesionalisme dan kepercayaan mitra usaha.
Bagi pemerintah daerah, artikel tersebut merekomendasikan dukungan berupa bantuan modal dan pelatihan teknis, termasuk pembuatan biopestisida atau penggunaan rumah jamur berpendingin agar produksi lebih stabil ketika terjadi perubahan cuaca.
Implikasinya lebih luas daripada satu usaha. Jika strategi tersebut dapat diterapkan, budidaya jamur tiram berpotensi menjadi bagian dari diversifikasi ekonomi pedesaan sekaligus menciptakan kesempatan kerja bagi warga yang tidak memiliki lahan pertanian.
Profil penulis
Eva Yuliana merupakan penulis utama dan corresponding author artikel ini dari Program Studi Kewirausahaan, Universitas Nahdlatul Ulama Lampung. Ia menulis artikel bersama Diky Angga Hendrawan dan Dina Nadiyah Faiqoh, yang juga tercantum dalam afiliasi Program Studi Kewirausahaan, Universitas Nahdlatul Ulama Lampung. Artikel yang ditulis berfokus pada strategi pengembangan usaha budidaya jamur tiram dan analisis kekuatan serta peluang bisnisnya.
Dokumen jurnal yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian individual masing-masing penulis secara lebih rinci. Karena itu, informasi tersebut tidak ditambahkan di luar data yang tersedia dalam artikel.
Sumber penelitian
Judul: Business Development Strategy for Oyster Mushroom Cultivation: A Case Study of Mr. Adi Sumarno in Sri Basuki Village, Batanghari District, East Lampung
Penulis: Eva Yuliana, Diky Angga Hendrawan, Dina Nadiyah Faiqoh
Afiliasi: Program Studi Kewirausahaan, Universitas Nahdlatul Ulama Lampung
Jurnal: Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO)
Volume: 4, Nomor 2, 2026, halaman 119–130
Tanggal diterima: 26 Februari 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/marcopolo.v4i2.14
Website jurnal: https://journalmarcopolo.my.id/index.php/marcopolo
0 Komentar