Beban Kerja Berlebih Ganggu Keseimbangan Hidup dan Kinerja Pegawai di Dinas Pendidikan Subang

Ilustrasi by AI

Subang — Beban kerja yang tinggi dapat menurunkan keseimbangan kehidupan kerja dan kinerja pegawai secara berkelanjutan, sementara lingkungan kerja yang mendukung memberikan dampak sebaliknya. Temuan tersebut diungkap Susi Rugun Munthe dan Tine Yuliantini dari Program Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mercu Buana, melalui penelitian terhadap pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang pada 2026. Penelitian melibatkan 154 pegawai dari total populasi 250 pegawai dan menunjukkan bahwa work-life balance atau keseimbangan kehidupan kerja menjadi penghubung penting antara kondisi pekerjaan dan kemampuan pegawai mempertahankan kinerja dalam jangka panjang.

Kinerja pegawai yang berkelanjutan menjadi perhatian penting dalam organisasi publik karena kualitas pelayanan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh pencapaian target dalam jangka pendek. Pegawai juga perlu mampu mempertahankan produktivitas, beradaptasi dengan perubahan, dan menjalankan tanggung jawab secara konsisten tanpa kehilangan kapasitas untuk bekerja pada masa mendatang.

Konteks tersebut menjadi penting bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang yang memiliki peran strategis dalam memberikan pelayanan di bidang pendidikan dan kebudayaan. Data kinerja organisasi pada 2024 menunjukkan capaian rata-rata sebesar 98,68 persen. Namun, indikator tenaga pendidik dan kependidikan yang memenuhi Standar Pelayanan Minimal hanya mencapai 91 persen dari target 100 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa capaian organisasi yang tinggi secara keseluruhan belum tentu berarti seluruh aspek kinerja telah mencapai target.

Penelitian ini juga melihat adanya perubahan kondisi kehadiran pegawai selama Juni hingga November 2025. Jumlah pegawai, hari kerja, keterlambatan, dan kategori ketidakhadiran mengalami fluktuasi. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar untuk melihat lebih jauh bagaimana beban pekerjaan dan lingkungan kerja berkaitan dengan kemampuan pegawai mempertahankan kinerjanya.

Susi Rugun Munthe dan Tine Yuliantini melihat persoalan tersebut melalui empat aspek utama, yaitu workload, work environment, work-life balance, dan sustainable employee performance. Beban kerja dipandang sebagai tuntutan pekerjaan yang membutuhkan waktu, energi, dan perhatian pegawai. Sementara itu, lingkungan kerja menjadi sumber daya yang dapat membantu pegawai menghadapi tuntutan tersebut melalui fasilitas yang memadai, komunikasi yang baik, hubungan kerja yang mendukung, serta supervisi yang konstruktif.

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menguji hubungan antarvariabel. Populasinya terdiri dari 250 pegawai tetap aktif Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang. Sebanyak 154 pegawai dipilih melalui simple random sampling dan seluruh kuesioner yang dikumpulkan dapat digunakan dalam analisis. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan skala lima tingkat dan dianalisis menggunakan SEM-PLS melalui SmartPLS 4.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh hubungan langsung yang diuji memiliki pengaruh signifikan. Beban kerja berpengaruh negatif terhadap kinerja pegawai berkelanjutan dengan koefisien -0,179 dan signifikansi 0,004. Artinya, semakin tinggi tuntutan pekerjaan, semakin sulit bagi pegawai mempertahankan kinerja secara konsisten dalam jangka panjang.

Sebaliknya, lingkungan kerja memberikan pengaruh positif terhadap kinerja berkelanjutan. Koefisien pengaruhnya mencapai 0,160 dengan signifikansi 0,007. Lingkungan yang memiliki fasilitas memadai, komunikasi yang jelas, hubungan kerja yang baik, dan suasana yang mendukung dapat membantu pegawai menghadapi tuntutan pekerjaan dengan lebih baik.

Beban kerja juga terbukti berpengaruh negatif terhadap work-life balance. Koefisiennya mencapai -0,354 dengan signifikansi di bawah 0,001. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan yang semakin berat dapat mengurangi waktu dan energi yang tersedia bagi kehidupan keluarga, sosial, maupun kebutuhan pribadi.

Sebaliknya, lingkungan kerja berpengaruh positif terhadap work-life balance dengan koefisien 0,385 dan signifikansi di bawah 0,001. Lingkungan kerja yang mendukung dapat mengurangi hambatan pekerjaan dan membantu pegawai mengatur sumber daya psikologis serta waktunya secara lebih efektif antara pekerjaan dan kehidupan di luar pekerjaan.

Temuan paling kuat terlihat pada hubungan antara work-life balance dan sustainable employee performance. Koefisiennya mencapai 0,561 dengan signifikansi di bawah 0,001. Pengaruh tersebut menjadi yang terbesar di antara hubungan langsung dalam model. Artinya, kemampuan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi salah satu faktor paling penting untuk membantu pegawai mempertahankan kinerja secara konsisten.

Work-life balance juga terbukti menjadi mediator atau penghubung antara kondisi pekerjaan dan kinerja. Pengaruh tidak langsung beban kerja terhadap kinerja melalui work-life balance mencapai -0,199 dengan signifikansi di bawah 0,001. Sementara itu, pengaruh tidak langsung lingkungan kerja terhadap kinerja melalui work-life balance mencapai 0,216 dengan signifikansi di bawah 0,001. Kedua jalur tersebut menunjukkan bahwa work-life balance hanya memediasi sebagian hubungan, karena pengaruh langsung masing-masing variabel tetap signifikan.

Model penelitian mampu menjelaskan 28,6 persen variasi work-life balance dan 53,5 persen variasi sustainable employee performance. Setelah penyesuaian, nilai Adjusted R² masing-masing mencapai 27,7 persen dan 52,6 persen. Work-life balance juga memiliki ukuran pengaruh terbesar terhadap kinerja dengan nilai f² sebesar 0,480, menunjukkan perannya yang cukup kuat dalam model.

Temuan tersebut memberikan implikasi praktis bagi organisasi pemerintah. Pengelolaan kinerja tidak seharusnya hanya berfokus pada peningkatan jumlah pekerjaan atau target. Organisasi perlu memastikan bahwa pembagian tugas sesuai dengan kapasitas pegawai, menetapkan prioritas ketika beberapa pekerjaan datang secara bersamaan, dan mengurangi pekerjaan administratif berulang melalui pemanfaatan sistem digital.

Dari sisi lingkungan kerja, perbaikan fasilitas perlu berjalan bersama dengan komunikasi, kerja sama tim, supervisi yang mendukung, dan koordinasi antarbagi­an. Lingkungan fisik yang baik saja tidak cukup apabila proses kerja masih tidak terkoordinasi atau hubungan antarpegawai kurang mendukung.

Penelitian juga menekankan pentingnya mengelola lembur, tugas tambahan, tenggat waktu, dan prioritas pekerjaan. Beban kerja bukan semata-mata persoalan kemampuan individu mengatur waktu, karena keputusan organisasi mengenai pembagian tugas secara langsung menentukan ruang yang dimiliki pegawai untuk menjalankan kehidupan di luar pekerjaan.

Susi Rugun Munthe dan Tine Yuliantini menyimpulkan bahwa beban kerja yang tinggi dapat mengganggu work-life balance sekaligus menurunkan kinerja berkelanjutan. Sebaliknya, lingkungan kerja yang mendukung dapat meningkatkan keduanya. Work-life balance menjadi bagian penting dari strategi pengelolaan sumber daya manusia karena membantu menjaga energi, konsentrasi, motivasi, dan kemampuan adaptasi pegawai dalam mempertahankan kinerja dari waktu ke waktu.

Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya dilakukan pada satu institusi pemerintah daerah dan menggunakan data cross-sectional. Penelitian selanjutnya dapat menguji model pada organisasi publik maupun swasta lain, menggunakan pengamatan jangka panjang, serta memasukkan faktor seperti dukungan organisasi, gaya kepemimpinan, fleksibilitas kerja, stres kerja, kesejahteraan psikologis, keterikatan kerja, kepuasan kerja, dan komitmen organisasi.

Penulis

Susi Rugun Munthe — Universitas Mercu Buana, Indonesia

Tine Yuliantini — Universitas Mercu Buana, Indonesia

Sumber Penelitian

Judul: The Effects of Workload and Work Environment on Sustainable Employee Performance: The Mediating Role of Work-Life Balance at the Department of Education and Culture of Subang Regency

Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 8, 2026, halaman 1661–1676.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.148

Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr

Posting Komentar

0 Komentar