Analisis Teologis dan Antropologis terhadap Penggambaran Tradisi Pesta Babi dalam Film Dokumenter di Papua

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Papua - Film Dokumenter Sukses Ungkap Tradisi Pesta Babi Papua Sebagai Simbol Kebersamaan dan Nilai Spiritual. Temuan ini diungkapkan dalam riset Umas Tabuni dari Sekolah Tinggi Teologi Baptis di Papua dalam artikel agama yang dipublikasikan pada Indonesian Journal of Christian Education and Theology (IJCET) edisi Vol. 5 No. 3 Tahun 2026 menyoroti bahwa arena mempertemukan pendekatan antropologi dan teologi kontekstual untuk melihat media modern sebagai wadah penguat solidaritas serta identitas kolektif.

Latar Belakang dan Konteks Budaya
Di Papua, babi bukan sekadar komoditas ekonomi atau bahan pangan. Tradisi pesta babi memegang peranan kunci dalam struktur sosial, sistem pertukaran adat, dan pengikatan hubungan kekerabatan. Namun, di era modernisasi dan globalisasi, pergeseran makna budaya sering kali terjadiKehadiran film dokumenter menjadi ruang publik yang memengaruhi cara masyarakat umum memahami kebudayaan Papua. Sayangnya, kajian media selama ini cenderung memisahkan antara elemen komunikasi visual dengan dimensi keagamaan atau nilai spiritual lokal. Penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan mengeksplorasi makna antropologis sekaligus teologis yang terefleksi di dalam layar kaca.

Metodologi Penelitian Sederhana
Untuk menguraikan makna budaya dalam media, Umas Tabuni menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis isi kualitatif (qualitative content analysis).
  • Objek Analisis: Penelitian berfokus pada analisis teks audio-visual, yaitu adegan, narasi, dialog, dan simbol visual dalam film dokumenter yang mengangkat tradisi pesta babi.
  • Teknik Pengumpulan Data: Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan dan dokumentasi. Peneliti menonton film secara berulang, mencatat adegan penting, dan mengelompokkan elemen visual maupun simbolik.
  • Pengolahan Data: Analisis data dibantu dengan perangkat lunak NVivo untuk mengodekan data ke dalam kategori teologis dan antropologis secara terstruktur, objektif, dan transparan.
Temuan Utama Penelitian

Berdasarkan analisis visual dan tematik, penelitian ini menemukan tiga dimensi utama dari representasi pesta babi dalam film dokumenter:

  • Ekspresi Spiritual dan Kebaktian (Perspektif Teologis). Proses persiapan hingga pembagian hasil pesta babi ditampilkan sebagai bentuk rasa syukur atas sumber kehidupan dan rezeki. Narasi film memperlihatkan bahwa tradisi ini merupakan medium yang menghubungkan masyarakat dengan sistem kepercayaan lokal sebagai wujud spiritualitas yang hidup.
  • Mekanisme Solidaritas Sosial (Perspektif Antropologis). Film dokumenter secara dominan menampilkan adegan kerja sama kelompok, mulai dari tetua adat, keluarga besar, pria, wanita, hingga generasi muda. Tradisi ini berfungsi membagi peran sosial, mempererat tali silaturahmi, menegaskan keadilan distribusi sumber daya, dan merawat harmoni antaranggota komunitas.
  • Penguat Struktur Adat dan Identitas Papua. Kehadiran pemangku adat dalam film digambarkan sebagai penentu arah ritual dan pelindung nilai-nilai luhur. Elemen seperti pakaian adat, bahasa daerah, dan simbol-simbol ritual yang muncul berulang kali mengonstruksi identitas kolektif Papua yang kuat dan berkelanjutan antar-generasi.
  • Simbol Kebersamaan Visual. Secara visual, kamera lebih sering merekam kegiatan kelompok daripada aktivitas individu. Hal ini mengarahkan penonton untuk memahami pesta babi sebagai institusi sosial yang mengedepankan nilai gotong royong dan inklusivitas.
Implikasi dan Dampak Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini memberikan dampak positif bagi berbagai sektor:
  • Dunia Perfilman dan Media: Menjadi panduan bagi pembuat film dokumenter agar lebih sensitif, etis, dan komprehensif saat merepresentasikan kebudayaan lokal tanpa terjebak pada stereotip.
  • Pendidikan dan Kebijakan Budaya: Memberikan literasi media dan budaya bagi masyarakat luas serta pembuat kebijakan untuk melihat tradisi lokal sebagai aset sosial dan keagamaan yang perlu dilestarikan.
  • Pengembangan Teologi Kontekstual: Membuktikan bahwa nilai-nilai keagamaan dan rasa syukur tidak hanya ditemukan dalam ritual formal keagamaan, tetapi juga terwujud dalam praktik adat yang menjaga keberlanjutan hidup bersama.
Profil Peneliti
Umas Tabuni, Sekolah Tinggi Teologi Baptis di Papua. Teologi Kontekstual, Antropologi Budaya, dan Studi Agama

Sumber Penelitian
Umas Tabuni. Theological and Anthropological Analysis of the Representation of the Pig Feast Tradition in Documentary Films in Papua. Indonesian Journal of Christian Education and Theology (IJCET). Volume 5, No. 3, Agustus 2026, Halaman 315–324.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijcet.v5i3.35
URL: https://journalijcet.my.id/index.php/ijce/Index

Posting Komentar

0 Komentar