Akuntansi Tak Berasal dari Satu Peradaban: Jejak Mesir, China, Yunani, Roma hingga Abad Pertengahan


Gambar dibuat oleh AI

MAKASSAR — Sejarah akuntansi ternyata jauh lebih panjang dan beragam daripada sekadar kisah lahirnya pembukuan berpasangan di Eropa. Artikel karya Masdar Ryketeng dan Kartika Septiary Musa dari Universitas Negeri Makassar, yang terbit pada 2026, menelusuri perkembangan praktik akuntansi di Mesir Kuno, China, Yunani, Roma, hingga era Abad Pertengahan. Kajian tersebut menunjukkan bahwa akuntansi berkembang secara bertahap di berbagai peradaban sesuai kebutuhan ekonomi, sosial, politik, hukum, dan keagamaan masing-masing.

Temuan ini memberikan perspektif yang lebih luas mengenai sejarah akuntansi. Praktik pencatatan ternyata tidak muncul secara tiba-tiba sebagai produk dunia modern. Jauh sebelum sistem akuntansi modern berkembang, masyarakat kuno telah menggunakan berbagai bentuk pencatatan untuk mengelola sumber daya, mengawasi kegiatan ekonomi, mencatat transaksi, hingga mendukung administrasi pemerintahan.

Akuntansi Tumbuh Bersama Peradaban

Masdar Ryketeng dan Kartika Septiary Musa menempatkan akuntansi sebagai bagian dari perkembangan masyarakat. Menurut kajian mereka, sistem pencatatan berkembang seiring kemajuan tulisan, aritmetika, penggunaan uang, perdagangan, sistem kredit, serta kebutuhan pengelolaan sumber daya. Karena itu, sejarah akuntansi tidak dapat dipahami hanya sebagai perkembangan teknik mencatat angka.

Pendekatan tersebut juga memperluas cara melihat sejarah akuntansi. Literatur sebelumnya sering membahas satu peradaban atau satu periode secara terpisah. Akibatnya, perkembangan akuntansi dapat terlihat seperti rangkaian sejarah yang terfragmentasi.

Artikel dari Universitas Negeri Makassar ini kemudian membandingkan berbagai peradaban untuk melihat persamaan, perbedaan, serta faktor yang memengaruhi perkembangan praktik akuntansi.

Menelusuri Literatur tentang Akuntansi Kuno

Kajian dilakukan melalui non-systematic literature review, yaitu penelusuran dan analisis literatur secara kritis tanpa menggunakan protokol systematic literature review formal. Artikel yang dipilih harus berkaitan dengan praktik akuntansi, pencatatan, audit, administrasi ekonomi, atau historiografi akuntansi pada Mesir Kuno, China, Yunani, Roma, dan periode Abad Pertengahan.

Literatur kemudian dibandingkan berdasarkan tema, konteks peradaban, fungsi akuntansi, karakteristik pencatatan, serta faktor yang mendorong perkembangannya. Analisis dilakukan secara tematik, komparatif, dan kritis untuk menemukan pola perkembangan dan perbedaan antarperadaban.

Artikel mencatat jumlah literatur yang dianalisis secara tidak sepenuhnya konsisten pada beberapa bagian. Bagian metodologi menyebut 24 artikel, sementara abstrak dan bagian keterbatasan menyebut 22 artikel. Karena itu, angka tersebut tidak menjadi dasar utama pemberitaan ini.

Mesir Kuno: Akuntansi untuk Negara, Tenaga Kerja, dan Kegiatan Keagamaan

Di Mesir Kuno, pencatatan memiliki hubungan erat dengan administrasi negara dan kegiatan keagamaan.

Literatur yang dikaji menunjukkan bahwa pencatatan digunakan dalam proyek negara, termasuk pembangunan piramida dan pengelolaan kuil. Informasi yang dicatat mencakup kehadiran tenaga kerja, distribusi upah dalam bentuk barang, pengelolaan makanan, logistik, hingga aktivitas ekonomi.

Para juru tulis memiliki peran penting dalam struktur birokrasi. Dengan pencatatan tersebut, aktivitas ekonomi berskala besar dapat dipantau dan dikelola secara lebih terstruktur.

China Memiliki Tradisi Pembukuan yang Kompleks

China menunjukkan perkembangan lain. Literatur yang dianalisis mencatat praktik pembukuan pada perusahaan Fengshengtai yang memiliki kemiripan dengan sistem double-entry bookkeeping, yaitu transaksi dicatat pada dua akun berbeda.

Sistem tersebut menunjukkan adanya prinsip keseimbangan dalam pencatatan transaksi yang memiliki kemiripan dengan konsep debit dan kredit dalam akuntansi modern.

Praktik pencatatan di China juga digunakan dalam pengelolaan kas, persediaan, perdagangan berskala besar, serta pengendalian internal. Literatur yang dikaji menunjukkan bahwa perkembangan tersebut berlangsung secara independen dan tidak bergantung pada perkembangan akuntansi di Eropa.

Yunani dan Roma Menghubungkan Akuntansi dengan Hukum dan Ekonomi

Dalam peradaban Yunani dan Roma, praktik akuntansi berkembang dalam lingkungan administrasi dan hukum yang kuat.

Di Roma, catatan digunakan untuk mendokumentasikan transaksi ekonomi, pajak, pengeluaran pemerintah, dan aktivitas perdagangan. Sistem pencatatan juga berkaitan dengan mekanisme kredit dan hukum ekonomi, termasuk pencatatan klaim serta kewajiban dalam transaksi.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa akuntansi sejak masa lalu tidak hanya berkaitan dengan angka. Pencatatan juga berfungsi sebagai bagian dari sistem administrasi, perdagangan, hukum, dan pengelolaan aset.

Abad Pertengahan Membentuk Dasar Akuntansi Modern

Periode Abad Pertengahan menjadi salah satu tahap penting dalam perkembangan akuntansi. Literatur yang dikaji mencatat penggunaan konsep depresiasi sejak abad ke-12 dan ke-13, meskipun belum memiliki aturan yang seragam.

Pembukuan juga digunakan sebagai bukti dalam sistem hukum perdagangan. Di Italia Utara, pedagang dan bankir telah menggunakan sistem double-entry bookkeeping sebelum sistem tersebut kemudian diformalkan oleh Luca Pacioli.

Perkembangan perdagangan dan kredit mendorong kebutuhan pencatatan transaksi yang semakin sistematis. Penggunaan buku besar juga menunjukkan pemisahan antara informasi deskriptif dan nilai moneter dalam pencatatan.

Akuntansi Berkembang Sesuai Kebutuhan Masyarakat

Salah satu pesan utama artikel Masdar Ryketeng dan Kartika Septiary Musa adalah bahwa perkembangan akuntansi tidak berlangsung dalam satu jalur lurus.

Perdagangan, modal, kredit, sistem tulisan, aritmetika, penggunaan uang, budaya, struktur politik, dan kebutuhan administrasi saling berinteraksi dalam membentuk sistem pencatatan di setiap peradaban.

Dengan perspektif tersebut, akuntansi dapat dipahami sebagai praktik sosial dan institusional, bukan hanya teknik pencatatan transaksi.

Para penulis dari Universitas Negeri Makassar juga menunjukkan bahwa berbagai peradaban memiliki fungsi dasar akuntansi yang serupa, seperti mengelola sumber daya, mencatat transaksi, dan menjaga akuntabilitas. Namun, bentuk serta penggunaannya berbeda sesuai kebutuhan masing-masing masyarakat.

Pelajaran bagi Pendidikan Akuntansi

Perspektif sejarah yang lebih beragam dapat memberikan manfaat bagi pendidikan akuntansi. Artikel ini mendorong pengembangan materi pembelajaran yang tidak hanya menempatkan satu tradisi sebagai pusat sejarah, tetapi juga memperkenalkan kontribusi berbagai peradaban.

Menurut Masdar Ryketeng dan Kartika Septiary Musa, pemahaman terhadap sejarah akuntansi yang lebih inklusif dapat memperkaya teori akuntansi sekaligus membantu melihat bagaimana praktik pencatatan terbentuk oleh konteks sosial dan kelembagaan.

Kajian tersebut juga membuka peluang penelitian lanjutan dengan metode yang lebih sistematis, sumber arsip yang lebih luas, serta pendekatan lintas disiplin seperti sejarah ekonomi, antropologi, dan sosiologi.

Profil Penulis

Masdar Ryketeng dan Kartika Septiary Musa merupakan penulis dari Universitas Negeri Makassar. Artikel mereka membahas sejarah dan perkembangan akuntansi, historiografi akuntansi, praktik pencatatan lintas peradaban, serta hubungan antara akuntansi dan konteks sosial, ekonomi, politik, dan kelembagaan.

Sumber Penelitian

Judul: Accounting in The Mesopotamian Era, The Ancient Egyptian Kingdom, China, Greece, Rome, And The Medieval Period
Penulis: Masdar Ryketeng dan Kartika Septiary Musa
Afiliasi: Universitas Negeri Makassar
Jurnal: International Journal of Finance and Business Management (IJFBM)
Tahun: 2026
Volume: 3, Nomor 3, halaman 305–318
DOI: 10.59890/ijfbm.v4i3.10
Situs jurnal: International Journal of Finance and Business Management (IJFBM)

Posting Komentar

0 Komentar