Temuan ini penting karena infrastruktur sungai tidak hanya berfungsi untuk mengatur air, irigasi, dan mengurangi risiko banjir. Dalam perspektif pertahanan negara, sungai dan bangunan pengendalinya juga menjadi bagian dari infrastruktur sipil yang mendukung keselamatan masyarakat, ketahanan wilayah, konektivitas transportasi, serta kelancaran mobilitas saat terjadi bencana.
Indonesia menghadapi risiko hidrometeorologi yang tinggi. Curah hujan tahunan di berbagai wilayah Indonesia dapat mencapai sekitar 2.000–4.000 milimeter, sementara banjir menjadi salah satu bencana yang paling sering menimbulkan korban dan kerugian ekonomi. Ketika tanggul, groundsill, revetment, atau struktur pengendali sungai mengalami kerusakan, dampaknya tidak berhenti pada bangunan tersebut. Gangguan dapat merembet pada lahan pertanian, permukiman, jaringan transportasi, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Sungai Progo bukan sekadar saluran air
DAS Progo membentang di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan luas sekitar 243.833 hektare. Sungai ini berperan dalam mendukung irigasi pertanian sekaligus mengendalikan banjir bagi wilayah yang berada di sepanjang alirannya menuju Samudra Hindia.
Salah satu contoh penting terjadi di Srandakan, Kabupaten Bantul, pada Januari 2025. Hujan ekstrem di bagian hulu meningkatkan debit Sungai Progo secara tajam hingga menyebabkan kerusakan pada bendung penahan sepanjang 160 meter dan mengancam stabilitas Jembatan Srandakan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kerusakan infrastruktur sungai dapat berdampak langsung terhadap konektivitas antarwilayah.
Dalam konteks pertahanan, konektivitas tersebut memiliki nilai strategis. Jalan dan jembatan yang tetap berfungsi memungkinkan masyarakat, barang, bantuan, serta sumber daya bergerak ketika terjadi keadaan darurat.
Karena itu, para peneliti menempatkan pengelolaan sungai dalam kerangka pertahanan nirmiliter. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara menempatkan pertahanan sebagai sistem yang melibatkan seluruh sumber daya nasional, bukan hanya kekuatan militer. Bencana alam, termasuk banjir, juga dipandang sebagai salah satu ancaman nirmiliter yang perlu diantisipasi.
88 bangunan sungai dianalisis
Studi Mone, Jupriyanto, dan Basworo menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak. Seluruh 88 bangunan sungai yang tercatat dalam inventaris aset DAS Progo dianalisis, sehingga penelitian menggunakan pendekatan sensus, bukan mengambil sebagian sampel.
Data yang digunakan mencakup nilai AKNOP, realisasi anggaran operasi dan pemeliharaan, kondisi bangunan, usia bangunan, jenis bangunan, serta lokasi segmen sungai. Kondisi bangunan dinilai dalam skala 0–100 berdasarkan pemeriksaan lapangan.
Karena data tidak memenuhi asumsi distribusi normal, peneliti menggunakan regresi peringkat atau rank regression. Metode tersebut memungkinkan hubungan antarvariabel tetap dianalisis ketika data tidak mengikuti distribusi normal.
Dari 88 bangunan yang dianalisis, sebanyak 72 unit atau 81,8 persen merupakan struktur jenis groundsill/krib. Sebanyak 10 unit atau 11,4 persen berupa tanggul, sedangkan enam unit atau 6,8 persen berupa revetment. Sebagian besar, yaitu 84 bangunan atau 95,5 persen, berada di segmen hilir.
Kondisi bangunan rata-rata berada pada skor 70,34
Hasil pengukuran menunjukkan rata-rata kondisi bangunan sungai mencapai 70,34 pada skala 0–100. Nilai tersebut berada dalam kategori kondisi cukup baik, tetapi masih memerlukan perhatian dan pemeliharaan.
Nilai AKNOP memiliki rentang yang sangat lebar, mulai sekitar Rp3,57 juta hingga Rp664,02 juta. Sementara itu, rata-rata realisasi anggaran mencapai 51,76 persen, dengan rentang antara 3,25 persen hingga 96,40 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pemeliharaan setiap bangunan tidak sama. Perbedaan ukuran, jenis, lokasi, dan volume pekerjaan membuat kebutuhan biaya dapat berbeda secara signifikan.
AKNOP sendiri tidak boleh dibaca sebagai ukuran langsung tingkat kerusakan. Nilai tersebut dihitung berdasarkan volume pekerjaan dan harga satuan. Artinya, bangunan berukuran besar dapat memiliki nilai AKNOP tinggi meskipun kondisinya masih relatif baik. Sebaliknya, bangunan kecil yang mengalami penurunan kondisi belum tentu memiliki nilai AKNOP yang besar.
AKNOP dan anggaran menjelaskan 87,1 persen variasi kondisi
Analisis statistik menunjukkan bahwa nilai AKNOP memiliki hubungan yang signifikan dengan kondisi bangunan sungai. Nilai statistik t mencapai -16,737 dengan tingkat signifikansi 0,000.
Realisasi anggaran juga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kondisi bangunan, dengan nilai t sebesar -2,361 dan signifikansi 0,021. Ketika kedua variabel dianalisis secara bersamaan, hasil uji menunjukkan nilai F sebesar 118,237 dengan signifikansi 0,000.
Yang paling menonjol adalah nilai adjusted R-square sebesar 0,871. Artinya, AKNOP dan realisasi anggaran secara bersama-sama menjelaskan sekitar 87,1 persen variasi kondisi bangunan sungai dalam model tersebut, sementara 12,9 persen sisanya berkaitan dengan faktor lain di luar model.
Namun, temuan mengenai koefisien negatif perlu dibaca secara hati-hati. Hasil tersebut tidak berarti bahwa semakin besar anggaran maka kondisi sungai semakin buruk.
Menurut penjelasan para peneliti, hubungan negatif terutama berkaitan dengan mekanisme penyusunan AKNOP berdasarkan volume pekerjaan serta sistem prioritas pemeliharaan. Bangunan dengan kondisi lebih buruk justru dapat memperoleh alokasi anggaran lebih besar karena kebutuhan penanganannya lebih mendesak.
Penafsiran tersebut diperkuat oleh validasi terhadap tujuh ahli dan praktisi sumber daya air. Dimensi realisasi berbasis prioritas memperoleh tingkat dukungan paling tinggi, dengan nilai rata-rata 4,64 dari skala 5 atau sekitar 89 persen persetujuan. Secara keseluruhan, validasi menghasilkan rata-rata 4,34 dari 5 dengan tingkat persetujuan sekitar 80,6 persen.
Pemeliharaan sungai menjadi bagian dari ketahanan nasional
David Carlos Methlis Mone dan rekan-rekannya menilai hasil tersebut menunjukkan pentingnya sistem pemeliharaan berbasis kondisi dan prioritas. Infrastruktur yang paling membutuhkan penanganan dapat ditempatkan sebagai prioritas sehingga anggaran terbatas tidak dibagi secara merata tanpa mempertimbangkan tingkat kebutuhan.
Pendekatan ini memiliki dampak lebih luas daripada sekadar menjaga bangunan tetap berfungsi. Pemeliharaan sungai dapat membantu melindungi fondasi jembatan dari gerusan, menjaga jalur transportasi antarwilayah, mengurangi risiko gangguan akibat banjir, serta mempertahankan konektivitas yang dibutuhkan masyarakat dan layanan darurat.
Dalam kerangka pertahanan nirmiliter, infrastruktur sungai yang terpelihara menjadi salah satu bentuk kesiapan sipil menghadapi ancaman bencana. Rata-rata skor kondisi 70,34 juga menunjukkan bahwa pengelolaan harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, bukan hanya ketika kerusakan sudah terjadi.
Para peneliti merekomendasikan agar BBWS Serayu Opak mendokumentasikan mekanisme penentuan prioritas pemeliharaan secara jelas dan dapat diaudit. Mereka juga mengusulkan pengukuran ulang kondisi bangunan pada 2028 untuk membandingkannya dengan kondisi dasar tahun 2023.
Perbandingan tersebut penting karena data kondisi yang digunakan dalam studi merupakan kondisi tahun 2023, sedangkan realisasi anggaran berjalan dalam siklus pemeliharaan berikutnya. Dengan data 2028, efektivitas pemeliharaan setelah satu siklus penuh dapat dievaluasi secara lebih langsung.
Profil penulis
Sumber penelitian
Judul artikel: AKNOP, Budget Realization, and River Structure Performance in Flood Mitigation: A Quantitative Study of the Progo River Basin as Non-Military Defense Infrastructure
Penulis: David Carlos Methlis Mone, Jupriyanto, Gregorius Henu Basworo
Afiliasi: Defense Industry Study Program, Faculty of Defense Science and Technology, Republic of Indonesia Defense University
Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR)
Volume: 5, Nomor 8
Tahun: 2026
Halaman: 1335–1348
DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i8.16917
https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar
Sumber artikel menunjukkan bahwa studi ini diterbitkan dalam Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR) dan tersedia sebagai artikel akses terbuka.
0 Komentar