Tes Masuk Kampus Tidak Menentukan Pilihan Spesialisasi Mahasiswa Teknologi Informasi

Ilustrasi by AI

Bayombong – Nilai tes masuk perguruan tinggi ternyata tidak menjadi penentu utama mahasiswa dalam memilih spesialisasi Teknologi Informasi. Temuan tersebut diungkap oleh Von P. Gabayan dan Jaylord V. Bacani dari Nueva Vizcaya State University melalui penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR). Dengan melibatkan 62 mahasiswa tahun pertama Bachelor of Science in Information Technology atau BSIT pada tahun akademik 2025–2026, penelitian ini menemukan bahwa performa Nueva Vizcaya State University College Admission Test (NCAT) tidak memiliki hubungan signifikan dengan pilihan spesialisasi mahasiswa. Hasil ini penting bagi perguruan tinggi karena menunjukkan bahwa minat, aspirasi karier, dan faktor di luar kemampuan akademik kemungkinan memiliki peran lebih besar dalam menentukan jalur pendidikan mahasiswa.

Perguruan tinggi selama ini menggunakan tes penerimaan dan catatan akademik sebagai salah satu dasar untuk menilai kesiapan calon mahasiswa. Nilai ujian dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan kognitif dan kesiapan seseorang mengikuti pendidikan tingkat universitas. Dalam pendidikan komputer dan teknologi informasi, informasi tersebut juga kerap dipertimbangkan untuk membantu mahasiswa masuk ke program yang dinilai sesuai dengan kompetensinya.

Namun, pilihan mahasiswa tidak selalu mengikuti pola yang dapat diprediksi hanya melalui nilai ujian. Mahasiswa dapat memilih bidang pendidikan berdasarkan ketertarikan pribadi, peluang kerja, keyakinan terhadap kemampuan diri, pengaruh lingkungan, maupun gambaran karier yang ingin mereka bangun. Kondisi ini menjadi semakin penting dalam pendidikan Teknologi Informasi karena satu program dapat menawarkan beberapa spesialisasi dengan kompetensi dan prospek profesional yang berbeda.

Gabayan dan Bacani mengkaji kondisi tersebut di College of Information Technology Education, Nueva Vizcaya State University–Bayombong Campus. Para peneliti menggunakan data 62 mahasiswa BSIT tahun pertama. Informasi yang dianalisis berasal dari catatan penerimaan universitas dan mencakup hasil NCAT, pilihan program pertama, kedua, dan ketiga saat pendaftaran, serta spesialisasi BSIT yang akhirnya dipilih mahasiswa. Data kemudian dibandingkan untuk melihat apakah hasil tes dan preferensi awal memiliki hubungan dengan keputusan spesialisasi.

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki performa NCAT pada kategori rata-rata. Sebanyak 35 mahasiswa atau 56,45 persen berada dalam kategori Average. Sebanyak 18 mahasiswa atau 29,03 persen berada pada kategori Low Average, sedangkan 7 mahasiswa atau 11,29 persen memperoleh kategori High Average. Hanya satu mahasiswa yang berada pada kategori Superior dan satu lainnya tercatat sebagai mahasiswa transfer. Data pada tabel hasil penelitian di halaman 2573 memperlihatkan bahwa kelompok mahasiswa BSIT didominasi oleh peserta dengan kesiapan akademik rata-rata berdasarkan klasifikasi NCAT.

Pilihan spesialisasi mahasiswa ternyata hampir seimbang. Sebanyak 32 mahasiswa atau 51,61 persen memilih Web and Mobile Application Development (WMAD), sementara 30 mahasiswa atau 48,39 persen memilih Network Design and Management (NDM). Komposisi yang terlihat pada tabel kedua di halaman 2573 tersebut menunjukkan bahwa ketertarikan mahasiswa terbagi relatif merata antara pengembangan perangkat lunak berbasis web dan seluler dengan bidang desain serta pengelolaan jaringan.

Menariknya, mayoritas mahasiswa sebenarnya sudah menunjukkan ketertarikan terhadap Teknologi Informasi sejak proses penerimaan. Sebanyak 47 mahasiswa atau 75,81 persen menempatkan program terkait TI sebagai pilihan pertama. Hanya 15 mahasiswa yang memilih program non-TI sebagai prioritas pertama. Temuan ini memperlihatkan bahwa sebagian besar responden memasuki universitas dengan niat awal untuk menempuh pendidikan yang berhubungan dengan teknologi informasi.

Pola pilihan berubah ketika mahasiswa menentukan program alternatif. Pada pilihan kedua, masing-masing 30 mahasiswa memilih program terkait TI dan program non-TI, sedangkan dua mahasiswa tidak mencantumkan pilihan kedua. Pada pilihan ketiga, program non-TI justru mendominasi dengan 36 mahasiswa atau 58,06 persen. Sebanyak 23 mahasiswa masih memilih program terkait TI dan tiga mahasiswa tidak mencantumkan pilihan ketiga. Gambaran ini menunjukkan bahwa mahasiswa dapat memiliki minat pendidikan yang cukup beragam meskipun pilihan utamanya berada di bidang Teknologi Informasi.

Analisis hubungan antara nilai NCAT dan spesialisasi BSIT menghasilkan temuan utama penelitian. Hasil pengujian menunjukkan nilai p sebesar 0,305, lebih tinggi dari batas 0,05. Hubungan antara kedua variabel juga tergolong lemah dengan nilai Cramér's V sebesar 0,279. Artinya, performa NCAT tidak memiliki hubungan signifikan dengan keputusan mahasiswa memilih NDM atau WMAD. Mahasiswa dengan nilai penerimaan tertentu tidak secara otomatis memilih spesialisasi yang dapat diprediksi berdasarkan klasifikasi hasil tesnya.

Preferensi program saat pendaftaran juga menunjukkan pola serupa. Pilihan program pertama tidak memiliki hubungan signifikan dengan spesialisasi BSIT yang akhirnya dipilih, dengan nilai p sebesar 0,455. Pilihan kedua menghasilkan nilai p 0,291, sedangkan pilihan ketiga mencatat nilai p 0,719. Seluruh angka tersebut berada di atas batas signifikansi 0,05. Dengan demikian, pilihan akademik yang dicantumkan mahasiswa selama proses penerimaan tidak cukup untuk memprediksi apakah mereka akan memilih spesialisasi jaringan atau pengembangan aplikasi.

Menurut Gabayan dan Bacani dari Nueva Vizcaya State University, hasil tersebut mengarah pada kemungkinan bahwa keputusan spesialisasi lebih banyak dipengaruhi faktor lain. Minat pribadi, aspirasi karier, persepsi mengenai peluang kerja, pengaruh keluarga, orientasi dari institusi, serta tingkat pemahaman mahasiswa terhadap masing-masing spesialisasi dapat memainkan peran lebih besar dibandingkan nilai tes penerimaan semata.

Temuan ini memberikan pesan penting bagi universitas. Tes penerimaan tetap dapat digunakan untuk melihat kesiapan akademik mahasiswa, tetapi hasil ujian sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar dalam mengarahkan pilihan spesialisasi. Perguruan tinggi perlu memperkuat bimbingan akademik, layanan konseling karier, seminar orientasi spesialisasi, serta pemberian informasi mengenai kompetensi dan peluang kerja dari setiap jalur pendidikan.

Bagi mahasiswa Teknologi Informasi, pemahaman yang lebih baik mengenai perbedaan antara Network Design and Management dan Web and Mobile Application Development dapat membantu mereka mengambil keputusan yang lebih sesuai dengan minat serta tujuan profesional. Pilihan spesialisasi bukan hanya menentukan mata kuliah yang dipelajari selama kuliah, tetapi juga dapat berhubungan dengan kompetensi, pengalaman magang, dan peluang kerja setelah lulus.

Gabayan dan Bacani juga membuka peluang penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam proses pendampingan mahasiswa. Penelitian lanjutan dapat mengembangkan sistem pendukung keputusan berbasis AI yang menggabungkan hasil NCAT, minat mahasiswa, preferensi karier, dan pemahaman mengenai spesialisasi BSIT. Pendekatan tersebut berpotensi membantu mahasiswa memperoleh rekomendasi jalur pendidikan yang lebih personal tanpa hanya bergantung pada satu nilai ujian.

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa angka dalam tes masuk tidak selalu menjelaskan arah pilihan pendidikan mahasiswa. Dalam bidang Teknologi Informasi yang berkembang cepat, keputusan memilih spesialisasi membutuhkan pemahaman mengenai kemampuan diri, ketertarikan, dan tujuan karier. Bagi perguruan tinggi, menggabungkan data akademik dengan layanan bimbingan yang lebih personal dapat menjadi langkah penting untuk membantu mahasiswa memilih jalur pendidikan secara lebih tepat.

Profil Penulis

Von P. Gabayan
Nueva Vizcaya State University

Jaylord V. Bacani
Nueva Vizcaya State University

Sumber Penelitian

Judul: Program Alignment in Information Technology Education: The Role of NCAT Performance in BSIT Major Selection

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 7, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.245

Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar