Tata Kelola Berbasis Kepercayaan Dinilai Lebih Kuat untuk Memperkuat Integritas Perusahaan

Created by AI

FORMOSA NEWS - Penelitian Feliks Setia Wau dan Posma Sariguna Johnson Kennedy dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) mengusulkan perubahan pendekatan dalam tata kelola perusahaan, dari sekadar kepatuhan terhadap aturan menuju tata kelola berbasis kepercayaan. Kajian konseptual yang diterbitkan pada 2026 ini menilai bahwa prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan kewajaran atau TARIF tetap penting, tetapi belum cukup untuk mencegah penyalahgunaan wewenang dan perilaku tidak etis dalam organisasi.

Gagasan utama penelitian ini berangkat dari persoalan yang masih sering muncul dalam organisasi dan perusahaan. Berbagai mekanisme formal seperti dewan komisaris independen, komite audit, sistem pengendalian internal, serta kebijakan transparansi telah banyak diterapkan. Namun, keberadaan struktur tersebut tidak selalu mampu mencegah konflik kepentingan, manipulasi laporan, penyalahgunaan wewenang, dan berbagai bentuk moral hazard.

Menurut Feliks Setia Wau dan Posma Sariguna Johnson Kennedy, persoalan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kepatuhan prosedural dan integritas substantif. Sebuah organisasi dapat terlihat telah memenuhi seluruh persyaratan tata kelola secara administratif, tetapi tetap menghadapi masalah apabila nilai integritas belum benar-benar menjadi bagian dari budaya kerja.

Dari Kepatuhan Aturan Menuju Tata Kelola Berbasis Nilai

Selama ini, tata kelola perusahaan atau Good Corporate Governance (GCG) banyak dibangun berdasarkan prinsip TARIF. Prinsip tersebut menekankan pentingnya keterbukaan informasi, pertanggungjawaban, tanggung jawab, independensi, dan keadilan dalam pengelolaan organisasi.

Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan prinsip tersebut masih menghadapi tantangan ketika hanya dipahami sebagai kewajiban administratif. Transparansi dapat berhenti pada penyusunan laporan formal, sedangkan akuntabilitas dapat dipersempit menjadi kewajiban melaporkan kinerja dan keuangan.

Padahal, tata kelola yang efektif tidak hanya bergantung pada dokumen dan prosedur. Perilaku para pengelola organisasi, budaya kerja, kualitas kepemimpinan, dan nilai moral juga memiliki peran penting.

Karena itu, Wau dan Kennedy menawarkan pendekatan tata kelola berbasis kepercayaan. Dalam model ini, kepercayaan tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem pengawasan formal. Kepercayaan justru diposisikan sebagai mekanisme pelengkap yang memperkuat prinsip-prinsip GCG.

Organisasi yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi dapat membangun komunikasi yang lebih terbuka, meningkatkan kolaborasi, mengurangi konflik internal, dan mempercepat pengambilan keputusan. Dengan demikian, kepercayaan dapat berfungsi sebagai bentuk pengendalian informal yang berjalan bersama sistem pengendalian formal.

Akuntabilitas Manajerial Tidak Sekadar Laporan

Salah satu unsur penting dalam model yang ditawarkan adalah akuntabilitas manajerial. Dalam penelitian ini, akuntabilitas tidak dipahami hanya sebagai kewajiban untuk membuat laporan atau mempertanggungjawabkan kinerja kepada atasan dan pemegang saham.

Akuntabilitas juga dipandang sebagai tanggung jawab moral dan profesional atas setiap keputusan yang diambil oleh manajer.

Pemahaman tersebut membuat akuntabilitas memiliki fungsi yang lebih luas. Manajer tidak hanya dituntut untuk menjelaskan apa yang telah dilakukan, tetapi juga harus mempertimbangkan dampak etis dan jangka panjang dari keputusan yang diambil.

Akuntabilitas yang kuat dapat menjembatani sistem pengawasan formal dengan kesadaran moral individu. Ketika nilai tersebut telah terinternalisasi, perilaku bertanggung jawab tidak hanya muncul karena adanya audit atau ancaman sanksi, tetapi juga karena adanya kesadaran untuk bertindak sesuai dengan kepentingan organisasi dan para pemangku kepentingan.

Penelitian ini juga menekankan bahwa kepercayaan dan akuntabilitas bukan dua hal yang bertentangan. Akuntabilitas memberikan kejelasan mengenai tanggung jawab, sedangkan kepercayaan memberikan ruang bagi individu untuk menjalankan tugas secara fleksibel dan inovatif.

Keseimbangan antara keduanya dinilai penting untuk mencegah organisasi menjadi terlalu birokratis maupun terlalu longgar dalam melakukan pengawasan.

Integritas Harus Menjadi Budaya, Bukan Sekadar Slogan

Selain akuntabilitas, integritas organisasi menjadi fondasi penting dalam model tata kelola berbasis kepercayaan.

Integritas organisasi merujuk pada konsistensi antara nilai, kebijakan, dan perilaku. Organisasi yang memiliki integritas tidak hanya mencantumkan nilai etika dalam dokumen atau slogan, tetapi juga menerapkannya dalam proses pengambilan keputusan dan perilaku sehari-hari.

Dalam praktiknya, integritas menjadi sangat penting karena sistem pengawasan formal tidak mungkin mengawasi seluruh aktivitas organisasi setiap saat. Ketika nilai integritas telah menjadi bagian dari budaya kerja, individu diharapkan tetap bertindak secara etis meskipun tidak sedang berada di bawah pengawasan langsung.

Penelitian Feliks Setia Wau dan Posma Sariguna Johnson Kennedy menempatkan kepemimpinan sebagai salah satu faktor penting dalam membangun budaya integritas. Pemimpin yang konsisten antara ucapan dan tindakan dapat menjadi teladan bagi anggota organisasi.

Selain itu, sistem penghargaan, pendidikan etika, keterbukaan komunikasi, serta penerapan sanksi yang adil juga diperlukan agar integritas tidak berhenti sebagai nilai normatif.

Model Baru Menggabungkan Struktur, Nilai, dan Kepercayaan

Hasil utama kajian ini adalah pengembangan model konseptual trust-based corporate governance atau tata kelola perusahaan berbasis kepercayaan.

Model tersebut mengintegrasikan tiga komponen utama.

Pertama, struktur GCG formal yang mencakup dewan komisaris, komite audit, sistem pengendalian internal, serta mekanisme transparansi dan akuntabilitas.

Kedua, nilai-nilai organisasi yang meliputi integritas, etika kerja, dan tanggung jawab moral.

Ketiga, hubungan kepercayaan yang berfungsi menghubungkan struktur formal dan nilai organisasi dengan perilaku nyata para anggotanya.

Dalam model ini, kepercayaan tidak berdiri sendiri. Kepercayaan harus dibangun melalui perilaku yang konsisten, kepemimpinan yang menjadi teladan, akuntabilitas yang jelas, serta budaya integritas yang kuat.

Peneliti juga menekankan bahwa kepercayaan harus tetap diimbangi dengan pengawasan dan akuntabilitas. Kepercayaan tanpa kontrol dapat membuka peluang penyalahgunaan. Sebaliknya, kontrol yang berlebihan dapat menghambat fleksibilitas, inovasi, dan kecepatan pengambilan keputusan.

Karena itu, model yang ditawarkan mengarah pada tata kelola hibrida yang menggabungkan mekanisme formal dan informal. Prinsip TARIF tetap menjadi fondasi, sementara kepercayaan, integritas, dan budaya organisasi memperkuat penerapannya dalam kehidupan nyata.

Relevan bagi Organisasi di Era Kompleksitas Modern

Menurut penulis, pendekatan tata kelola berbasis kepercayaan semakin relevan ketika organisasi menghadapi perubahan lingkungan bisnis yang cepat, ketidakpastian pasar, tuntutan inovasi, serta meningkatnya kompleksitas pengambilan keputusan.

Pendekatan yang terlalu berorientasi pada kepatuhan dapat menyebabkan proses organisasi menjadi lambat dan birokratis. Sebaliknya, kepercayaan yang dibangun secara bertanggung jawab dapat meningkatkan koordinasi dan memungkinkan organisasi mengambil keputusan secara lebih adaptif.

Model ini juga memiliki implikasi bagi dunia usaha dan kebijakan tata kelola. Perusahaan tidak cukup hanya membangun sistem audit dan pengawasan, tetapi juga perlu mengembangkan budaya integritas, kepemimpinan etis, dan akuntabilitas yang benar-benar diterapkan dalam praktik.

Bagi pengembangan ilmu pengetahuan, model tata kelola berbasis kepercayaan yang dikembangkan oleh Feliks Setia Wau dan Posma Sariguna Johnson Kennedy dapat menjadi dasar bagi penelitian empiris selanjutnya. Penelitian mendatang dapat menguji secara langsung hubungan antara kepercayaan organisasi, akuntabilitas manajerial, integritas, dan efektivitas tata kelola perusahaan.

Profil Penulis

Feliks Setia Wau merupakan peneliti dan akademisi dari Universitas Kristen Indonesia yang memiliki perhatian pada bidang tata kelola perusahaan, akuntabilitas manajerial, integritas organisasi, dan pengembangan model tata kelola berbasis kepercayaan.

Posma Sariguna Johnson Kennedy merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Kristen Indonesia dengan kontribusi pada kajian tata kelola organisasi, manajemen, dan pengembangan sistem kelembagaan berbasis nilai.

Sumber Penelitian

Judul: Towards Trust-Based Corporate Governance: Integration of Managerial Accountability and Organizational Integrity Beyond the Tariff Principle

Penulis: Feliks Setia Wau dan Posma Sariguna Johnson Kennedy

Afiliasi: Universitas Kristen Indonesia

Tahun publikasi: 2026

Jurnal: Sospolbud

DOI: https://doi.org/10.55927/sospolbud.v5i2.17015

ISSN-E: 2962-2417

Posting Komentar

0 Komentar