Tanpa Modal Teknologi Canggih, UMKM Kuliner Rumahan di Surabaya Mampu Bertahan di Era Digital

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Digitalisasi telah menjadi kekuatan transformatif yang mengubah lanskap ekonomi pascapandemi secara global. Di Indonesia, pemerintah terus gencar mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk masuk ke dalam ekosistem digital nasional. Kementerian Koperasi dan UKM bahkan sempat menetapkan target ambisius agar 30 juta UMKM bergabung dalam ekosistem digital pada tahun 2024. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan kesiapan digital yang nyata, terutama bagi pelaku usaha skala mikro di wilayah perkotaan.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan pada Juli 2026 mengungkapkan fenomena menarik mengenai ketahanan bisnis lokal di Kota Pahlawan. Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Widya Kartika Surabaya yang terdiri dari Esti Retnaningtyas, Arief Budiman, dan Muis Murtadho. Hasil studi mereka menunjukkan bahwa pelaku UMKM kuliner rumahan di Surabaya memiliki strategi bertahan hidup yang sangat adaptif dalam menghadapi tekanan digitalisasi, meskipun tanpa didukung oleh modal teknologi yang canggih. Temuan ini menjadi sangat penting karena menantang asumsi umum yang menganggap bahwa transformasi digital harus selalu melibatkan adopsi platform teknologi tinggi untuk mencapai keberhasilan bisnis.

Tantangan Digitalisasi dan Kesenjangan Kesiapan di Surabaya

Kebijakan pemerintah untuk mendorong digitalisasi massal sering kali kurang selaras dengan kapasitas nyata yang dimiliki oleh pelaku usaha mikro. Berdasarkan data kota Surabaya, dari total 287.543 UMKM yang terdaftar, baru sekitar 35,63 persen atau 102,456 unit usaha yang telah mengadopsi platform digital dalam operasional mereka. Sisanya sebesar 64,37 persen masih beroperasi secara konvensional atau hanya menggunakan alat digital yang sangat mendasar.

UMKM kuliner rumahan menjadi salah satu segmen yang paling banyak mengalami kendala adopsi ini. Mereka umumnya beroperasi dari kediaman pribadi atau kedai sederhana dengan modal terbatas, mengandalkan tenaga kerja keluarga, serta memiliki basis pelanggan yang sangat lokal. Karakteristik produk kuliner yang mudah rusak, ketergantungan pada bahan baku segar, serta pentingnya menjaga kualitas sensorik dan hubungan personal dengan pelanggan membuat pemanfaatan platform pengiriman berbayar yang mahal sering kali berbenturan dengan efisiensi bisnis mereka.

Metodologi Sederhana untuk Menggali Pengalaman Nyata

Dalam mengumpulkan data riset ini, Esti Retnaningtyas dan timnya menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis. Metode ini bertujuan untuk memahami secara mendalam pengalaman hidup nyata dari para pemilik UMKM dalam menafsirkan keterbatasan sumber daya mereka. Peneliti memilih lima pemilik usaha kuliner rumahan dari lima kecamatan berbeda di Surabaya yang mewakili karakteristik wilayah perkotaan padat melalui teknik purposive sampling.

Kelima wilayah tersebut mencakup Kecamatan Pabean Cantikan (warung kopi dan penyetan), Mulyorejo (katering harian), Rungkut (camilan dan minuman), Tegalsari (kue tradisional dan makanan berat), dan Kenjeran (minuman tradisional). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi langsung terhadap aktivitas operasional sehari-hari, serta dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara tematis menggunakan perangkat lunak NVivo 15 untuk memastikan keakuratan pola temuan lintas informan.

Empat Pilar Strategi Bertahan Tanpa Teknologi Tinggi

Berdasarkan hasil analisis data, tim peneliti Universitas Widya Kartika Surabaya menemukan empat pilar utama yang menjadi strategi bertahan hidup bagi UMKM kuliner rumahan di tengah gempuran tren digital:

Konsep "Resilience through Constraints" (Ketahanan Melalui Keterbatasan)

Studi ini memperkenalkan konsep baru yang disebut "Resilience through Constraints" atau ketahanan yang lahir dari keterbatasan. Esti Retnaningtyas bersama rekan-rekannya memaparkan bahwa keterbatasan modal, literasi digital, dan akses teknologi tidak lantas membuat UMKM kuliner di Surabaya gulung tikar. Sebaliknya, keterbatasan tersebut justru memicu kreativitas operasional yang mandiri dan memperkuat ekosistem pasar lokal yang berbasis kepercayaan.

Secara akademis, temuan ini memperkuat teori Resource-Based View (RBV) yang menyatakan bahwa keunggulan bersaing berkelanjutan berasal dari aset internal perusahaan yang bernilai, langka, unik, dan tidak mudah digantikan. Dalam konteks ini, modal sosial, resep leluhur, loyalitas komunitas, dan fleksibilitas pelayanan terbukti memenuhi kriteria tersebut dan menjadi benteng pertahanan utama UMKM dari gempuran korporasi digital.

Implikasi Kebijakan dan Manfaat bagi Masyarakat

Temuan dari penelitian ini memiliki implikasi penting bagi para pembuat kebijakan, akademisi, dan lembaga pemberdayaan ekonomi. Pemerintah daerah disarankan untuk tidak hanya fokus mendorong adopsi platform digital pihak ketiga yang sering kali memotong margin keuntungan UMKM hingga 15–20 persen melalui biaya komisi. Sebaliknya, pendekatan program bantuan harus disesuaikan dengan kapasitas riil pelaku usaha, seperti pelatihan literasi digital dasar secara bertahap, kemudahan perizinan usaha mikro, penyediaan infrastruktur internet murah, serta penguatan jaringan pasar lokal.

Bagi dunia usaha dan masyarakat luas, studi ini membuktikan bahwa kedekatan emosional dan kualitas produk yang konsisten tetap memiliki ruang tersendiri di hati konsumen urban di tengah maraknya digitalisasi.

Profil Penulis & Sumber Penelitian:

Retnaningtyas, E., Budiman, A., & Murtadho, M. (2026). Survival Strategies of Urban Home-Based Culinary MSMEs in Surabaya Amid Digitalization without High-Tech Capital. Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), 5(7), 1157-1174. 

DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i7.16829

Link: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar

Posting Komentar

0 Komentar