Strategi Pemasaran E-Commerce: Ulasan Pengguna Shopee di Kudus Tunjukkan Brand Ambassador Tak Lagi Ampuh


Ilustrasi by AI 

Sebuah studi ilmiah terbaru mengungkapkan bahwa strategi pemasaran menggunakan brand ambassador dan iklan konvensional tidak lagi efektif dalam membangun kesadaran merek (brand awareness) di era digital. Hasil riset yang dilakukan oleh tiga peneliti Universitas Muria Kudus—Isti Faizah, Dina Lusianti, dan Dian Wismar'ein—pada tahun 2026 ini menunjukkan pergeseran besar dalam perilaku konsumen e-commerce, khususnya bagi para pengguna Shopee di Kabupaten Kudus. Temuan ini menjadi alarm penting bagi para pelaku industri digital bahwa pendekatan emosional lewat figur publik mulai tergantikan oleh interaksi langsung dan rekomendasi antar-pengguna.

Pergeseran Tren di Tengah Ketatnya Persaingan E-Commerce

Pasar belanja daring (e-commerce) di Indonesia terus mengalami persaingan yang sengit. Data internal menunjukkan adanya tekanan besar pada platform raksasa seperti Shopee, yang mengalami penurunan kunjungan secara global dari 2,35 miliar interaksi pada tahun 2023 menjadi 147 juta kunjungan pada tahun 2025.

Kondisi tersebut diperparah oleh munculnya ketidakpuasan konsumen di berbagai platform digital terkait kenaikan biaya administrasi, kualitas barang yang tidak sesuai deskripsi, hingga keraguan terhadap keaslian produk. Banyak pengguna bahkan mulai melirik platform kompetitor seperti Tokopedia yang dinilai memberikan kepuasan lebih tinggi. Fenomena ketidaksesuaian antara kampanye pemasaran dengan pengalaman belanja riil inilah yang melatarbelakangi para peneliti untuk menguji apa saja faktor yang benar-benar bisa mempertahankan ingatan masyarakat terhadap sebuah merek.

Metodologi Penelitian Sederhana

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif objektif untuk menguji hubungan sebab-akibat antavariabel. Para peneliti mengumpulkan data dari 166 responden yang berdomisili di Kabupaten Kudus.

Seluruh partisipan adalah pengguna aktif Shopee yang berusia minimal 17 tahun dan mengetahui grup idola JKT48 sebagai brand ambassador resmi platform tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner berskala 1 sampai 5 (dari Sangat Tidak Setuju hingga Sangat Setuju), kemudian diolah menggunakan perangkat lunak statistik SPSS versi 26 untuk menguji validitas, reliabilitas, dan hipotesis data.

Temuan Utama: Digital Marketing dan Word of Mouth Jadi Kunci

Melalui pengujian parsial (t-test) dan simultan (F-test), riset ini menghasilkan data yang mengejutkan industri periklanan modern:

  • Brand Ambassador Sama Sekali Tidak Berpengaruh: Penggunaan figur publik seperti JKT48 terbukti tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan brand awareness masyarakat Kudus. Konsumen saat ini jauh lebih rasional dan fokus pada manfaat platform serta layanan nyata daripada sekadar terbujuk idola.

  • Iklan Konvensional Kehilangan Taji: Anggaran iklan yang besar tidak otomatis membuat merek diingat. Banyaknya paparan iklan digital di berbagai lini masa justru memicu kejenuhan konsumen (advertising fatigue).

  • Digital Marketing Berdampak Positif Besar: Strategi pemasaran digital interaktif seperti fitur Shopee Live, kampanye media sosial, dan program promo terbukti sukses meningkatkan pengenalan merek secara signifikan.

  • Rekomendasi Word of Mouth (Promosi dari Mulut ke Mulut) Menjadi Faktor Terkuat: Testimoni jujur, ulasan produk, dan diskusi antarpengguna (baik langsung maupun lewat electronic word of mouth di media sosial) memiliki pengaruh paling dominan dalam membangun kepercayaan konsumen.

Secara gabungan, kombinasi dari brand ambassador, iklan, digital marketing, dan word of mouth mampu menjelaskan 46,3% perubahan tingkat kesadaran merek pada pengguna Shopee di Kudus. Sementara 53,7% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian.

Implikasi Bisnis dan Manfaat bagi Industri

Hasil penelitian dari tim akademisi Universitas Muria Kudus ini membawa implikasi penting bagi para pelaku usaha, manajer pemasaran, dan penentu kebijakan di industri e-commerce. Strategi bakar uang demi membayar selebritas mahal atau menayangkan iklan masif perlu dievaluasi total.

Perusahaan disarankan untuk mengalihkan fokus dan anggarannya guna memperkuat konsistensi konten digital interaktif dan memperbaiki sistem layanan konsumen agar tercipta ulasan positif dari mulut ke mulut. Pengalaman belanja yang memuaskan secara otomatis akan mengubah pengguna menjadi promotor sukarela yang jauh lebih dipercaya oleh calon konsumen baru.

Profil Penulis

  • Isti Faizah: Peneliti dan akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muria Kudus, berspesialisasi dalam manajemen pemasaran digital dan perilaku konsumen e-commerce.
  • Dina Lusianti: Dosen dan peneliti senior Universitas Muria Kudus yang aktif memublikasikan kajian strategi bisnis Asia. Korespondensi ilmiah dapat ditujukan melalui email: dina.lusianti@umk.ac.id.
  • Dian Wismar'ein: Akademisi Universitas Muria Kudus dengan keahlian di bidang riset kuantitatif pemasaran dan komunikasi merek terintegrasi.

Sumber Penelitian

Judul Artikel Jurnal: The Influence of Brand Ambassador, Advertising, Digital Marketing, and Word of Mouth Promotion on Brand Awareness
Nama Jurnal: International Journal of Asian Business and Management (IJABM)
Volume & Halaman: Vol. 5, No. 3, 2026: 225-244
DOI : https://doi.org/10.55927/ijabm.v5i3.17

Posting Komentar

0 Komentar