Kabupaten Nganjuk dikenal sebagai salah satu sentra produksi bawang merah terbesar di Jawa Timur. Komoditas ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi penopang penting sektor pertanian Indonesia. Namun, sebagian besar produk bawang merah masih dipasarkan secara curah tanpa identitas merek yang kuat, tanpa kemasan standar, serta minim informasi produk. Kondisi tersebut membuat produk sulit menembus pasar modern seperti supermarket maupun pasar ekspor.
Di era persaingan bisnis yang semakin kompetitif, konsumen tidak lagi hanya mempertimbangkan kualitas isi produk. Tampilan luar, informasi pada kemasan, serta identitas produk juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan pembeli. Branding membantu membangun citra dan loyalitas konsumen, sedangkan kemasan berfungsi melindungi produk sekaligus menjadi media komunikasi antara produsen dan konsumen. Penelitian ini mengkaji seberapa besar kedua faktor tersebut memengaruhi strategi pemasaran bawang merah milik Sumber Agung Group.
Untuk memperoleh hasil yang objektif, tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 96 responden yang merupakan konsumen Sumber Agung Group. Responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria telah membeli produk minimal dua kali dalam enam bulan terakhir dan memahami aspek branding maupun kemasan produk. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi lapangan, dokumentasi, serta survei menggunakan kuesioner yang kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS melalui berbagai uji statistik, termasuk regresi linear berganda, uji t, dan uji F.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas instrumen penelitian telah memenuhi syarat validitas dan reliabilitas sehingga layak digunakan sebagai dasar analisis. Seluruh asumsi statistik juga terpenuhi sehingga hasil penelitian dinilai memiliki tingkat kepercayaan yang baik.
Temuan utama penelitian dapat diringkas sebagai berikut:
- Branding tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap keberhasilan strategi pemasaran bawang merah. Nilai signifikansi mencapai 0,349, lebih besar dari batas 0,05 sehingga pengaruhnya secara statistik tidak terbukti.
- Kemasan memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap strategi pemasaran dengan nilai signifikansi 0,003, menunjukkan bahwa kualitas kemasan benar-benar meningkatkan efektivitas pemasaran.
- Ketika branding dan kemasan dianalisis secara bersama-sama, keduanya memberikan pengaruh signifikan terhadap strategi pemasaran dengan nilai F hitung 8,981 dan tingkat signifikansi 0,000.
- Persamaan regresi penelitian menunjukkan bahwa kontribusi kemasan (koefisien 0,402) lebih besar dibanding branding (koefisien 0,185), sehingga kemasan menjadi faktor yang lebih dominan dalam meningkatkan keberhasilan pemasaran.
Penelitian ini menunjukkan bahwa konsumen bawang merah Sumber Agung Group masih lebih menilai kualitas fisik produk daripada identitas mereknya. Sebagai komoditas pertanian yang umumnya dijual dalam bentuk segar, konsumen lebih mudah memperhatikan kondisi produk dan kualitas kemasannya dibanding nama merek yang melekat pada produk tersebut. Sebaliknya, kemasan yang menarik mampu meningkatkan persepsi kualitas, memberikan informasi produk secara jelas, sekaligus memperkuat daya tarik produk di rak penjualan.
Menurut para penulis, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pelaku usaha pertanian perlu mengubah cara memasarkan produknya. Kemasan tidak lagi hanya berfungsi sebagai pembungkus, tetapi juga menjadi media promosi yang dapat meningkatkan nilai jual dan memperluas akses pasar. Branding tetap penting untuk membangun identitas usaha dalam jangka panjang, tetapi manfaatnya akan jauh lebih terasa apabila didukung oleh kemasan yang profesional dan sesuai dengan kebutuhan pasar modern.
Implikasi penelitian ini cukup luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), koperasi pertanian, hingga perusahaan agribisnis. Investasi pada desain kemasan yang informatif, menarik, dan memenuhi standar distribusi modern berpotensi meningkatkan daya saing produk lokal tanpa harus mengubah kualitas komoditas itu sendiri. Dengan kemasan yang lebih baik, peluang produk memasuki supermarket, toko modern, hingga pasar ekspor menjadi lebih besar.
Bagi pemerintah daerah dan lembaga pendamping UMKM, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam menyusun program pelatihan pengembangan kemasan, desain produk, dan pemasaran modern bagi petani maupun kelompok usaha agribisnis. Pendampingan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah melalui inovasi pemasaran.
Fedianty Augustinah dan tim peneliti juga merekomendasikan agar Sumber Agung Group mulai membangun identitas merek secara lebih konsisten seiring peningkatan kualitas kemasan. Dengan mengombinasikan kemasan yang menarik dan branding yang kuat, produk bawang merah memiliki peluang lebih besar untuk bersaing dengan produk sejenis di pasar regional maupun nasional.
Profil Penulis
Nur Koyin merupakan peneliti dari Program Studi Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Dr. Soetomo Surabaya, dengan fokus kajian pada administrasi bisnis dan strategi pemasaran.
Fedianty Augustinah merupakan dosen pada Program Studi Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Dr. Soetomo Surabaya. Bidang keahliannya meliputi administrasi bisnis, pemasaran, pengembangan UMKM, dan strategi bisnis.
Liling Listyawati merupakan akademisi dari Program Studi Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Dr. Soetomo Surabaya, yang menaruh perhatian pada pengembangan strategi pemasaran, manajemen bisnis, dan administrasi organisasi.
Sumber Penelitian
Koyin, N., Augustinah, F., & Listyawati, L. (2026). "Branding and Packaging Strategy in Shallot Marketing Strategy at Sumber Agung Group, Nganjuk Regency." International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Vol. 4, No. 7, hlm. 597–612.
DOI: 10.59890/ijsas.v4i7.17.
URL: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar