Penelitian terbaru tahun 2026 oleh Asih Purwianti, Farida Nugrahani, dan Veronika Unun Pratiwi dari Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sukoharjo, mengungkap bahwa siswa sekolah menengah pertama (SMP) telah mampu menggunakan strategi kesantunan berbahasa secara sadar dalam menyusun teks argumentasi
Keterampilan berargumen sering kali dianggap hanya sebatas menyusun kalimat yang tepat secara tata bahasa dan kuat secara logika
Untuk menguji hal ini, para peneliti menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menganalisis dokumen teks argumentasi yang ditulis oleh siswa kelas sembilan di SMP Negeri 4 Tawangsari
Hasil penelitian menunjukkan sejumlah pola yang jelas terkait pilihan bahasa siswa
- Siswa secara dominan menggunakan strategi kesantunan positif dan negatif melalui diksi yang netral serta struktur kalimat deklaratif yang tidak konfrontatif
. - Saat menyatakan persetujuan terhadap suatu isu, siswa cenderung menggunakan strategi kesantunan positif dengan memanfaatkan bahasa yang persuasif, inklusif, dan menekankan pada manfaat atau kepentingan bersama
. - Saat menyatakan ketidaksetujuan, siswa menerapkan strategi kesantunan negatif dengan menggunakan ungkapan peredam (seperti "menurut saya"), penolakan tidak langsung, serta argumen rasional dan empatik yang menghindari kesan menyalahkan pihak lain
. - Strategi kebahasaan ini mencerminkan kesadaran siswa terhadap norma sosial, hubungan institusional di lingkungan sekolah, dan kebutuhan untuk menjaga penerimaan sosial dari pembaca
.
Temuan ini membawa implikasi positif bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pembentukan karakter dan kompetensi pragmatik generasi muda
Profil Penulis
Asih Purwianti, Farida Nugrahani, dan Veronika Unun Pratiwi adalah akademisi dari Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sukoharjo, Indonesia
Sumber Penelitian:
Purwianti, A., Nugrahani, F., & Pratiwi, V. U. (2026). Language Choice and Politeness Strategies in Junior High School Students' Argumentative Texts: A Sociopragmatic Study
0 Komentar