Rekayasa Sosial Dinilai Kunci Keberhasilan Pembangunan Infrastruktur Desa Secara Swakelola

Ilustrasi by AI

Morowali – Keberhasilan pembangunan infrastruktur desa secara swakelola tidak hanya ditentukan oleh kualitas teknis konstruksi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh rekayasa sosial (socio-engineering) yang melibatkan masyarakat dalam seluruh tahapan pembangunan. Hal tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Mukhlis Laasi, Fahira F., dan Gideon Turruallo dari Program Magister Teknik Sipil Pascasarjana Universitas Tadulako yang dipublikasikan pada tahun 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR). Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi rekayasa sosial memberikan kontribusi sebesar 80 persen terhadap efektivitas pengelolaan pembangunan infrastruktur desa berbasis swakelola.

Pembangunan infrastruktur desa menjadi salah satu program utama pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat konektivitas wilayah, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi pedesaan. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah mendorong penerapan sistem swakelola yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan menekan biaya pembangunan, tetapi juga meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap hasil pembangunan sehingga infrastruktur dapat dimanfaatkan dan dipelihara secara berkelanjutan.

Namun, berbagai proyek pembangunan desa masih menghadapi tantangan yang tidak selalu bersifat teknis. Persoalan seperti rendahnya partisipasi masyarakat, konflik kepentingan, lemahnya komunikasi, hingga minimnya transparansi sering kali menjadi penyebab utama kurang optimalnya hasil pembangunan. Oleh karena itu, konsep socio-engineering dikembangkan sebagai pendekatan yang mengintegrasikan aspek sosial dan teknis sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga ikut merencanakan, melaksanakan, mengawasi, dan memelihara infrastruktur yang dibangun.

Penelitian ini menggunakan metode mixed methods dengan desain sequential explanatory, yaitu menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif secara berurutan. Penelitian dilakukan di lima desa di Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali, yakni Bahomoleo, Bahontobungku, Bente, Puungkoilu, dan Sakita. Sebanyak 126 responden yang terdiri atas aparat desa, Tim Pelaksana Kegiatan (TPK), tokoh masyarakat, dan warga dilibatkan dalam survei menggunakan kuesioner. Selanjutnya, peneliti melakukan wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD) untuk memperkuat hasil analisis statistik.

Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa penerapan rekayasa sosial di lima desa penelitian berada pada kategori tinggi dengan nilai rata-rata 3,72, sedangkan efektivitas manajemen konstruksi memperoleh nilai rata-rata 3,69. Analisis regresi memperlihatkan hubungan yang sangat kuat antara kedua variabel dengan nilai korelasi 0,894 dan koefisien determinasi () sebesar 0,800. Artinya, sekitar 80 persen keberhasilan pembangunan infrastruktur desa dipengaruhi oleh kualitas penerapan rekayasa sosial, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor teknis lainnya.

Melalui analisis kualitatif, penelitian menemukan bahwa strategi rekayasa sosial diterapkan melalui berbagai cara, seperti meningkatkan partisipasi masyarakat dalam musyawarah desa, memanfaatkan tenaga kerja lokal, menggunakan sumber daya lokal, menghidupkan kembali budaya gotong royong, serta memperkuat komunikasi antara pemerintah desa dan masyarakat. Desa Bahomoleo dan Puungkoilu menjadi contoh desa dengan implementasi rekayasa sosial yang relatif lebih baik karena masyarakat terlibat sejak tahap perencanaan hingga pemeliharaan hasil pembangunan.

Sebaliknya, penelitian juga mengidentifikasi sejumlah kendala yang masih dihadapi. Beberapa desa mengalami keterbatasan tenaga kerja yang memiliki keterampilan teknis konstruksi, rendahnya pemahaman aparat desa mengenai mekanisme swakelola, lemahnya administrasi proyek, serta komunikasi yang belum berjalan secara efektif. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat belum sepenuhnya memahami proses pembangunan maupun ikut terlibat dalam pengambilan keputusan.

Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat masih cenderung bersifat operasional dibandingkan substantif. Masyarakat banyak dilibatkan sebagai tenaga kerja, tetapi belum sepenuhnya memiliki ruang untuk menentukan arah pembangunan. Kelompok pemuda dan perempuan juga masih memiliki keterlibatan yang terbatas, terutama pada tahap perencanaan dan pengambilan keputusan. Menurut para peneliti, pembangunan desa akan menjadi lebih berkelanjutan apabila seluruh kelompok masyarakat memperoleh kesempatan yang setara untuk berpartisipasi sejak awal proyek.

Mukhlis Laasi dan tim dari Universitas Tadulako menyimpulkan bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis konstruksi. Penguatan komunikasi, transparansi anggaran, kepemimpinan partisipatif, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, optimalisasi musyawarah desa, serta pelestarian nilai gotong royong menjadi strategi utama untuk meningkatkan efektivitas pembangunan berbasis swakelola. Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan rasa memiliki masyarakat terhadap infrastruktur sehingga hasil pembangunan dapat dipelihara dan dimanfaatkan dalam jangka panjang.

Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pemerintah daerah, pemerintah desa, serta para praktisi pembangunan dalam merancang kebijakan pembangunan infrastruktur yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan proyek pembangunan tidak hanya bergantung pada kualitas material dan teknologi, tetapi juga pada kualitas hubungan sosial, komunikasi, dan keterlibatan aktif masyarakat sebagai mitra utama dalam pembangunan desa.

Profil Penulis

Mukhlis Laasi – Program Magister Teknik Sipil, Pascasarjana Universitas Tadulako, Palu, Indonesia.

Fahira F. – Program Magister Teknik Sipil, Pascasarjana Universitas Tadulako, Palu, Indonesia.

Gideon Turruallo – Program Magister Teknik Sipil, Pascasarjana Universitas Tadulako, Palu, Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul: Strategies for Implementing Social Engineering in Self-Managed Village Infrastructure Construction Management.

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 7, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.240

Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar