Rekayasa Produk Penyerap Bau yang Ramah Lingkungan Berbahan Dasar Limbah Kulit Pisang

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Kulit Pisang Disulap Menjadi Penghilang Bau Ruangan Alami yang Efektif dan Ramah Lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Alif Gita Arumsari, Abdul Halim, dan Teguh Ardiyansyah dari Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR) edisi Vol. 5 No. 6 Tahun 2026 menyoroti bahwa solusi konkret terhadap penumpukan sampah organik di Indonesia sekaligus menggantikan produk penghilang bau sintetis di pasaran yang berpotensi menyisakan residu kimia berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.

Solusi Alami di Tengah Kepungan Bahan Kimia Sintetis
Bau tidak sedap di area rumah tangga seperti tempat sampah, kamar mandi, dan lemari penyimpanan sering kali mengganggu kenyamanan dan menurunkan kualitas hidup. Selama ini, masyarakat bergantung pada produk penghilang bau berbahan kimia sintetis. Meskipun efektif, penggunaan bahan sintetis ini menyisakan ketergantungan pada sumber daya yang tidak terbarukan serta membawa drodusen sekaligus konsumen pisang terbesar di dunia. Kondisi ini menghasilkan tumpukan limbah kulit pisang dalam jumlah melimpah setiap tahunnya yang biasanya langsung dibuang begitu saja. Padahal, kulit pisang menyimpan kandungan senyawa lignoselulosa seperti selulosa, hemiselulosa, lignin, dan pektin. Senyawa-senyawa alami ini memiliki gugus fungsi aktif dan struktur berpori yang mampu mengikat molekul gas penyebab bau tidak sedap. Berangkat dari potensi tersebut, para peneliti di Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal mengembangkan produk siap pakai yang memanfaatkan komoditas lokal ini untuk mendukung konsep ekonomi sirkular.

Metodologi Sederhana: Dari Limbah Menjadi Blok Penghilang Bau
Para peneliti menggunakan desain eksperimen laboratorium untuk memproses limbah padat ini menjadi produk rumah tangga yang praktis. Sampel kulit pisang matang dikumpulkan dari pedagang buah dan rumah tangga di kawasan Jakarta Barat melalui metode purposive sampling untuk memastikan kondisinya segar serta bebas dari jamur maupun pembusukanProses rekayasa produk ini meliputi beberapa tahapan sederhana:
  • Pembersihan dan Pemotongan: Kulit pisang dicuci bersih dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran, lalu dipotong menjadi ukuran kecil.
  • Pengeringan Termal: Potongan kulit pisang dikeringkan menggunakan oven pada suhu 60°C hingga 80°C selama 4 sampai 6 hours untuk meminimalkan kadar air.
  • Penghancuran dan Penyaringan: Kulit pisang yang telah kering dihaluskan menggunakan blender dan diayak hingga menghasilkan ukuran partikel bubuk yang seragam.
  • Aktivasi Sederhana: Bubuk tersebut dipanaskan kembali untuk membuka pori-pori internal dan memperluas area permukaan adsorpsi (penyerapan).
  • Formulasi Produk: Bubuk aktif dicampur dengan air, minyak esensial beraroma sebesar 5%, serta tepung tapioka yang berfungsi sebagai perekat alami. Adonan kemudian dicetak dan dikeringkan hingga membentuk blok padat.
Untuk menemukan performa terbaik, tim peneliti menguji tiga variasi komposisi produk:
  • Formulasi 1 (F1): 70% bubuk kulit pisang, 25% tepung tapioka, 5% minyak esensial.
  • Formulasi 2 (F2): 80% bubuk kulit pisang, 15% tepung tapioka, 5% minyak esensial.
  • Formulasi 3 (F3): 90% bubuk kulit pisang, 5% tepung tapioka, 5% minyak esensial.
Temuan Utama: Formulasi Terbaik Mampu Menghilangkan Bau Hingga 82 Persen
Proses aktivasi termal terbukti berhasil mengubah karakteristik fisik bahan baku. Bubuk kulit pisang berubah warna dari kuning kecokelatan menjadi cokelat tua, dengan tekstur yang jauh lebih halus. Selain itu, kadar air berhasil dipangkas dari 15,2% menjadi hanya 7,8%. Penurunan kadar air ini sangat krusial karena pori-pori bahan penyerap tidak lagi tertutup oleh molekul air, sehingga kapasitas penyerapan bau menjadi jauh lebih optimalPengujian efektivitas dilakukan dengan menempatkan produk di dalam wadah tertutup yang diberi sumber bau menyengat, seperti sampah organik dan larutan amonia. Perubahan intensitas bau diukur menggunakan skala skor kemunculan bau dari angka 1 (sangat lemah) hingga 5 (sangat kuat)Berikut adalah hasil perbandingan efektivitas penyerapan bau dari ketiga formulasi setelah periode pengujian:
Data Efektivitas Penyerapan Bau Produk
FormulasiSkor Bau AwalSkor Bau AkhirPersentase Pengurangan Bau (%)
F1 (70% Kulit Pisang)5.01.8

64.0%

F2 (80% Kulit Pisang)5.00.9

82.0%

F3 (90% Kulit Pisang)5.01.4

72.0%

Berdasarkan data di atas, Formulasi F2 mencatatkan performa tertinggi dengan tingkat pengurangan bau mencapai 82%. Melalui pengujian stabilitas selama 14 hari pada suhu ruangan, Formulasi F2 juga menunjukkan ketahanan fisik yang paling baik. Blok produk tetap mempertahankan bentuk, warna, dan aromanya tanpa mengalami keretakan ataupun tanda-tanda pembusukanHasil analisis membuktikan bahwa komposisi bahan pengikat sangat memengaruhi aksesibilitas pori-pori produk. Jika kandungan tapioka terlalu banyak (seperti pada F1), sebagian pori-pori aktif penyerap akan tersumbat. Sebaliknya, jika jumlah tapioka terlalu sedikit (seperti pada F3), kekuatan struktur fisik produk akan menurun. Formulasi F2 terbukti menjadi titik keseimbangan terbaik.

Dampak Riil bagi Masyarakat, Lingkungan, dan Sektor UMKM

Inovasi rekayasa produk ini membawa dampak positif yang luas bagi ekosistem dan sosiomedis. Secara lingkungan, pemanfaatan limbah padat pertanian ini mendukung gerakan zero-waste dan membantu mengurangi beban penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir. Bagi masyarakat umum, produk ini menjadi alternatif pemurni udara yang aman, bebas dari paparan aerosol kimia berbahaya, dan ekonomis untuk diletakkan di lemari pakaian, kotak sepatu, maupun toilet rumah tanggaDari perspektif ekonomi kreatif, karena ketersediaan bahan baku kulit pisang yang melimpah dan proses produksinya yang tergolong sederhana tanpa alat industri berat, produk ini berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai ide bisnis baru bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis inovasi lokal.

Profil Penulis
Alif Gita Arumsari adalah seorang akademisi dan peneliti di Program Studi Teknik Kimia, Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal. Ia memiliki keahlian khusus di bidang valosirasi biomassa dan rekayasa produk ramah lingkungan.
Abdul Halim merupakan peneliti dari Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal yang aktif berfokus pada pengembangan teknologi lingkungan hidup dan rekayasa material hijau.
Teguh Ardiyansyah adalah staf peneliti dan pengajar di Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal dengan kepakaran di bidang pemanfaatan limbah pertanian dan material adsorben alami.

Sumber Peneliti
Alif Gita Arumsari, Abdul Halim, Teguh Ardiyansyah. Environmentally Friendly Odor Absorbing Product Engineering Based on Banana Peel Waste. Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR). Vol. 5, No. 6, Hal. 440-456
DOI : https://doi.org/10.55927/fjsr.v5i6.45
URL: https://journalfjsr.my.id/index.php/fjsr

Posting Komentar

0 Komentar