Bayombong – Peluang kerja, stabilitas karier, dan potensi pendapatan menjadi pertimbangan terkuat mahasiswa Teknologi Informasi ketika memilih spesialisasi pendidikan. Temuan tersebut diungkap oleh Sherilyn P. Tobias, Romeo P. Evangelista, dan Michael R. Lacar dari Nueva Vizcaya State University dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR). Penelitian terhadap 62 mahasiswa tahun pertama Bachelor of Science in Information Technology (BSIT) menunjukkan bahwa keputusan memilih spesialisasi lebih banyak diarahkan oleh prospek pekerjaan dan minat pribadi dibandingkan pengaruh keluarga atau lingkungan sosial.
Perkembangan teknologi digital telah meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga profesional dengan kemampuan yang semakin khusus. Industri tidak lagi hanya membutuhkan pekerja yang memahami komputer secara umum. Perusahaan kini mencari tenaga ahli di bidang pengembangan perangkat lunak, jaringan komputer, keamanan siber, komputasi awan, serta pengembangan aplikasi web dan seluler.
Perubahan tersebut ikut memengaruhi pendidikan Teknologi Informasi. Perguruan tinggi mulai menawarkan spesialisasi yang memungkinkan mahasiswa mempelajari kompetensi tertentu secara lebih mendalam. Di Nueva Vizcaya State University, mahasiswa BSIT dapat memilih antara Network Design and Management atau NDM dan Web and Mobile Application Development atau WMAD.
Pilihan tersebut dapat memengaruhi pengalaman belajar, keterampilan teknis, hingga arah karier mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan. Karena itu, memahami alasan mahasiswa memilih suatu spesialisasi menjadi penting bagi perguruan tinggi dalam merancang kurikulum dan layanan bimbingan akademik.
Tobias, Evangelista, dan Lacar melibatkan 62 mahasiswa BSIT tahun pertama di College of Information Technology Education, Nueva Vizcaya State University, Bayombong Campus. Para mahasiswa memberikan penilaian mengenai empat kelompok faktor yang memengaruhi keputusan spesialisasi mereka, yaitu faktor pribadi, keluarga dan sosial, akademik dan institusi, serta karier dan pekerjaan. Data kemudian dibandingkan antara mahasiswa yang memilih NDM dan WMAD.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh faktor yang dianalisis secara umum memiliki pengaruh tinggi dengan nilai rata-rata 3,83. Namun, faktor karier dan pekerjaan menempati posisi tertinggi dengan nilai 4,21 dan dikategorikan sangat berpengaruh. Mahasiswa mempertimbangkan peluang mendapatkan pekerjaan, kebutuhan industri, stabilitas karier, serta potensi gaji ketika menentukan spesialisasi.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa mahasiswa Teknologi Informasi semakin berorientasi pada masa depan profesional. Mereka tidak sekadar memilih bidang yang terlihat menarik, tetapi mulai memperhitungkan hubungan antara pendidikan yang ditempuh dan kebutuhan pasar tenaga kerja.
Faktor pribadi berada pada urutan kedua dengan nilai rata-rata 4,02. Minat, kemampuan, kepercayaan diri, dan ketertarikan terhadap bidang tertentu memiliki pengaruh kuat dalam keputusan mahasiswa. Seorang mahasiswa yang merasa lebih nyaman dengan pemrograman dapat tertarik pada WMAD, sementara ketertarikan terhadap jaringan dan infrastruktur komputer dapat mendorong pilihan terhadap NDM.
Faktor akademik dan institusi menempati urutan ketiga dengan nilai 3,73. Isi kurikulum, kemampuan tenaga pengajar, fasilitas universitas, dan informasi mengenai program turut membentuk keputusan mahasiswa. Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas lingkungan pendidikan tetap menjadi pertimbangan penting dalam menentukan jalur spesialisasi.
Sebaliknya, keluarga dan lingkungan sosial menjadi faktor dengan pengaruh paling rendah. Nilai rata-ratanya mencapai 3,36 dan dikategorikan cukup berpengaruh. Orang tua, keluarga, teman, dan lingkungan tetap memberikan saran, tetapi bukan menjadi dasar utama sebagian besar mahasiswa dalam memilih spesialisasi.
Tabel peringkat pada halaman 2607 menempatkan faktor karier dan pekerjaan di posisi pertama, diikuti faktor pribadi, faktor akademik dan institusi, serta faktor keluarga dan sosial. Urutan tersebut memperlihatkan bahwa mahasiswa cenderung menempatkan prospek profesional dan kecocokan diri di atas tekanan atau rekomendasi dari lingkungan.
Penelitian juga menemukan perbedaan menarik antara mahasiswa NDM dan WMAD. Pada faktor pribadi, mahasiswa NDM memperoleh nilai rata-rata 4,08 dan mahasiswa WMAD 3,98. Perbedaan tersebut tidak signifikan. Faktor karier juga hampir sama, dengan nilai 4,24 pada mahasiswa NDM dan 4,19 pada mahasiswa WMAD.
Pola serupa ditemukan pada faktor akademik dan institusi. Mahasiswa NDM mencatat nilai 3,78, sedangkan mahasiswa WMAD memperoleh 3,67. Secara keseluruhan, mahasiswa dari kedua spesialisasi memiliki pertimbangan pribadi, karier, dan akademik yang relatif sama.
Perbedaan signifikan hanya muncul pada faktor keluarga dan sosial. Berdasarkan tabel hasil pada halaman 2608, mahasiswa NDM mencatat nilai rata-rata 3,65, sedangkan mahasiswa WMAD memperoleh 3,09. Analisis menghasilkan nilai p sebesar 0,010, yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok.
Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang memilih Network Design and Management cenderung lebih banyak dipengaruhi oleh keluarga, kerabat, teman, atau kelompok sosial dibandingkan mahasiswa Web and Mobile Application Development. Dukungan dan rekomendasi lingkungan kemungkinan memiliki peran lebih besar dalam proses pengambilan keputusan mahasiswa NDM.
Meski demikian, tidak terdapat perbedaan signifikan secara keseluruhan antara mahasiswa NDM dan WMAD. Nilai p sebesar 0,196 menunjukkan bahwa kedua kelompok pada dasarnya memiliki pola pertimbangan yang relatif serupa. Prospek pekerjaan dan aspirasi pribadi tetap menjadi faktor dominan dalam keputusan mereka.
Menurut Tobias, Evangelista, dan Lacar dari Nueva Vizcaya State University, hasil tersebut menegaskan pentingnya layanan bimbingan akademik yang berorientasi pada karier. Mahasiswa membutuhkan informasi yang jelas mengenai kurikulum, kompetensi teknis, sertifikasi industri, kebutuhan tenaga kerja, dan peluang profesi dari setiap spesialisasi.
Perguruan tinggi juga dapat menggunakan asesmen minat dan kemampuan sebelum mahasiswa menentukan jalur pendidikan. Informasi tersebut dapat membantu mahasiswa membandingkan kekuatan pribadi dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam NDM maupun WMAD.
Bagi keluarga, penelitian ini memberikan gambaran bahwa dukungan sebaiknya diberikan tanpa mengabaikan minat dan kemampuan mahasiswa. Pilihan spesialisasi yang hanya didasarkan pada harapan orang lain dapat menimbulkan ketidaksesuaian antara mahasiswa dan bidang pendidikan yang dijalani.
Temuan penelitian ini juga penting bagi pengelola program Teknologi Informasi. Kurikulum NDM dan WMAD perlu terus diperbarui mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Mahasiswa yang melihat hubungan jelas antara pembelajaran di kampus dan peluang pekerjaan akan memiliki keyakinan lebih kuat terhadap spesialisasi yang dipilih.
Di tengah pesatnya transformasi digital, keputusan memilih spesialisasi Teknologi Informasi semakin berkaitan dengan perencanaan karier. Penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa telah menjadikan prospek pekerjaan sebagai pertimbangan utama. Karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan bahwa informasi mengenai dunia kerja, perkembangan teknologi, dan kebutuhan industri tersedia sejak mahasiswa berada pada awal masa pendidikan.
Profil Penulis
Sumber Penelitian
Judul: Determinants of BSIT Major Program Choice among First-Year Information Technology Students
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 7, 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.247
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar