Temuan ini menegaskan bahwa kesehatan siswa bukan sekadar isu kesejahteraan, tetapi juga bagian penting dari kualitas pendidikan. Siswa yang memperoleh makanan bergizi, memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi, menerima pendidikan kesehatan yang memadai, serta mendapatkan layanan kesehatan lebih berpeluang belajar dalam lingkungan yang aman dan mendukung.
Sekolah menjadi salah satu tempat strategis untuk menjalankan berbagai intervensi kesehatan karena institusi ini menjangkau anak-anak secara rutin. Masalah gizi buruk, keterbatasan akses terhadap air bersih, rendahnya kesadaran kesehatan, risiko penyalahgunaan narkoba, hingga persoalan kesehatan reproduksi dapat memengaruhi kehadiran, konsentrasi, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran.
Dalam konteks Filipina, program makanan berbasis sekolah telah menjadi salah satu kebijakan penting untuk memperbaiki status gizi peserta didik. Namun, Abulencia dan Jimenez menunjukkan bahwa pendekatan kesehatan sekolah yang efektif tidak dapat hanya mengandalkan pemberian makanan. Program kesehatan perlu berjalan secara terpadu dengan kebersihan, pendidikan kesehatan, layanan medis, serta dukungan psikososial dan sosial.
Lima Program Kesehatan Sekolah Dinilai Berjalan Positif
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif-korelasional untuk melihat hubungan antara pelaksanaan program kesehatan dan gizi sekolah dengan kinerja sekolah. Data diperoleh melalui penilaian guru terhadap pelaksanaan program serta capaian kinerja sekolah. Analisis kemudian digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan hubungan antara berbagai program kesehatan dan kinerja sekolah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan berbagai program kesehatan sekolah secara umum memperoleh penilaian sangat positif.
Program School-Based Feeding atau program pemberian makanan berbasis sekolah memperoleh penilaian kuat dari para responden. Aspek kualitas makanan mencatat skor rata-rata 3,75, sementara aspek anggaran memperoleh skor 3,68 dan aspek staf 3,69. Secara keseluruhan, program pemberian makanan sekolah memperoleh skor rata-rata 3,71 yang menunjukkan implementasi yang dinilai baik.
Salah satu kekuatan utama program makanan adalah penggunaan air yang aman dan penyajian makanan yang dimasak dengan baik. Namun, peneliti juga menemukan ruang untuk peningkatan, terutama dalam penyediaan buah, sayuran, minuman sehat, kecukupan hari pemberian makanan, serta peningkatan keterlibatan orang tua.
Program Water, Sanitation, and Hygiene atau WASH menunjukkan hasil yang sangat kuat dengan skor rata-rata 4,77. Sekolah dinilai telah memiliki sistem air, fasilitas sanitasi, serta kegiatan pembersihan fasilitas sanitasi yang berjalan baik. Program ini juga mencakup edukasi kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Meski demikian, peneliti merekomendasikan penguatan perencanaan program dan pelatihan kesehatan lingkungan agar pelaksanaan WASH tidak hanya berfokus pada ketersediaan fasilitas, tetapi juga pada perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Program pendidikan antinarkoba atau National Drug Education Program memperoleh skor rata-rata 4,09 dan dinilai sangat hadir di sekolah. Kegiatan pencegahan penyalahgunaan narkoba dilakukan melalui organisasi siswa, layanan konseling, kampanye edukasi, serta kerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah dan organisasi masyarakat.
Sementara itu, program pendidikan kesehatan reproduksi remaja memperoleh skor keseluruhan 4,47. Aspek lingkungan belajar mencatat skor tertinggi, yaitu 4,68. Angka ini menunjukkan bahwa program dinilai mampu menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman, inklusif, menghormati privasi, dan mendukung siswa untuk menyampaikan pertanyaan tanpa takut dihakimi.
Namun, ketersediaan bahan pembelajaran menjadi aspek yang relatif lebih lemah dengan skor 4,00. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan materi pembelajaran yang mudah diakses, sesuai usia, relevan secara budaya, dan tersedia secara merata masih diperlukan.
Layanan medis, gigi, dan keperawatan juga memperoleh penilaian sangat positif dengan skor rata-rata 4,68. Sekolah dinilai telah menyediakan rencana layanan kesehatan bagi guru dan siswa, dukungan internal, serta akses terhadap tenaga kesehatan dari luar sekolah.
WASH Menunjukkan Hubungan Terkuat dengan Kinerja Sekolah
Salah satu temuan paling penting dari penelitian ini adalah adanya hubungan positif dan signifikan antara seluruh program kesehatan dan gizi yang dikaji dengan kinerja sekolah.
Program WASH menunjukkan hubungan paling kuat dengan kinerja sekolah, dengan koefisien korelasi sebesar 0,643. Pendidikan kesehatan reproduksi memiliki korelasi sebesar 0,569, layanan medis, gigi, dan keperawatan sebesar 0,567, sedangkan program pemberian makanan berbasis sekolah sebesar 0,561. Program pendidikan antinarkoba memiliki korelasi paling rendah, tetapi tetap signifikan, yaitu 0,258.
Pada saat yang sama, kinerja sekolah yang menjadi lokasi penelitian memperoleh skor rata-rata 4,97 dengan kategori “outstanding” atau sangat baik. Hasil ini memperlihatkan bahwa sekolah dengan implementasi program kesehatan dan gizi yang lebih kuat cenderung menunjukkan kinerja institusional yang lebih baik.
Edward C. Jimenez dan Corazon C. Abulencia menekankan bahwa keberhasilan program kesehatan sekolah memerlukan pendekatan terpadu. Program tidak cukup hanya dijalankan sebagai kegiatan administratif, tetapi harus didukung oleh guru, kepala sekolah, orang tua, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, dan mitra lainnya.
Program Dukungan Terpadu Diusulkan untuk Sekolah
Berdasarkan hasil penelitian, penulis mengusulkan Integrated School Health and Nutrition Enhancement Program atau ISHNEP. Program ini dirancang untuk memperkuat pelaksanaan, keberlanjutan, dan dampak berbagai program kesehatan dan gizi sekolah.
Program tersebut mencakup pelatihan guru dan staf, lokakarya bagi orang tua dan masyarakat, pengembangan kebun sekolah, peningkatan fasilitas dapur dan sanitasi, penyediaan materi pembelajaran kesehatan, kerja sama dengan pemerintah daerah dan organisasi nonpemerintah, serta penguatan layanan medis, gigi, dan keperawatan.
Peneliti juga merekomendasikan penggunaan sistem pemantauan sederhana berbasis digital untuk memantau status kesehatan siswa, kehadiran, dan hasil program. Pertemuan evaluasi berkala dengan guru, orang tua, dan mitra juga dianggap penting untuk mengidentifikasi masalah serta memastikan program tetap berjalan secara berkelanjutan.
Dalam jangka panjang, pendekatan ini dapat membantu sekolah membangun budaya kesehatan yang lebih kuat. Kesehatan tidak lagi dipandang sebagai program tambahan, melainkan sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu pendidikan.
Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini memberikan pesan penting bahwa investasi dalam program kesehatan dan gizi sekolah berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar memperbaiki kondisi fisik siswa. Lingkungan sekolah yang sehat dapat mendukung kehadiran, keterlibatan siswa, keamanan, serta efektivitas keseluruhan organisasi sekolah.
Profil Penulis
Corazon C. Abulencia merupakan akademisi dan peneliti yang berafiliasi dengan La Consolacion University Philippines, dengan bidang kajian yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan sekolah, gizi, dan pengembangan program pendidikan.
Edward C. Jimenez merupakan akademisi dan peneliti dari La Consolacion University Philippines. Ia menjadi corresponding author dalam artikel ini dan aktif meneliti bidang pendidikan, kepemimpinan sekolah, kinerja guru, kesehatan sekolah, serta pengembangan program pendidikan berbasis bukti.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Evaluating School Health and Nutrition Programs and Their Influence on School Performance: A Basis for Supplemental Support Program
Penulis: Corazon C. Abulencia dan Edward C. Jimenez
Afiliasi: La Consolacion University Philippines
Jurnal: International Journal of Education and Psychological Science (IJEPS)
Volume: 4, Nomor 4, 2026, halaman 391–416
DOI: 10.59890/ijeps.v4i4.16
URL resmi jurnal: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijeps
0 Komentar