BATAAN — Pemulihan psikologis dari kejadian traumatis selama ini sering kali hanya berfokus pada pengurangan gejala klinis, sehingga mengabaikan potensi manusia untuk bangkit dan bertransformasi secara positif. Fenomena tersebut mendorong Kristina Anne Dimarucut-Ama dan Jayvie Villazor dari Bataan Peninsula State University mengembangkan intervensi psikologi positif yang inovatif pada tahun 2026. Penelitian yang dipublikasikan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research ini menjadi sangat krusial karena memperkenalkan program dukungan sosial terstruktur yang dirancang khusus untuk memicu pertumbuhan pascatrauma atau post-traumatic growth bagi para penyintas di tengah kerentanan bencana.
Filipina merupakan negara yang sangat rentan terhadap berbagai bencana alam maupun buatan manusia, mulai dari terjangan topan, gempa bumi, banjir, hingga erupsi gunung berapi yang kerap menyisakan luka psikologis mendalam bagi warganya. Sayangnya, mayoritas inisiatif kesehatan mental yang ada di wilayah tersebut masih beroperasi dengan model berbasis defisit yang sekadar berorientasi pada penurunan gejala. Terapi tradisional umumnya hanya memberikan solusi jangka pendek agar individu bisa kembali menjalankan fungsi harian, namun gagal memfasilitasi cara hidup yang bermakna dan memuaskan setelah melewati tragedi.
Guna menjembatani celah tersebut, tim peneliti dari Bataan Peninsula State University merancang evaluasi mendalam menggunakan desain riset eksploratori sekuensial yang menggabungkan dua fase pendekatan. Pada fase pertama, peneliti melakukan wawancara mendalam dengan 80 penyintas trauma alami untuk merumuskan kerangka program intervensi berbasis budaya lokal selama satu tahun. Masuk ke fase kedua, efektivitas program diuji secara kuantitatif melalui desain kuasi-eksperimental selama dua bulan yang melibatkan 100 petugas penyelamat darurat dari Metro Bataan Development Authority yang memiliki risiko paparan trauma kerja yang sangat tinggi.
Struktur program dukungan sosial yang dinamakan IPAGTAGUMPAY ini terdiri dari 12 sesi komprehensif. Rangkaian intervensi diawali dengan psikoedukasi dan pembentukan kepercayaan kelompok pada sesi awal, disusul dengan manajemen psikotrauma. Selanjutnya, peserta diarahkan untuk mendalami aspek intrapersonal seperti perawatan diri, welas asih, dan resiliensi mental. Pada paruh akhir, program berfokus pada ranah eksistensial termasuk pemaknaan hidup melalui spiritualitas, pembangunan kembali kepercayaan dalam hubungan sosial, rasa syukur, hingga motivasi altruistik untuk membantu sesama penyintas.
Hasil pengujian kuantitatif pada fase akhir menunjukkan bahwa secara statistik belum ditemukan perbedaan yang signifikan pada skor rata-rata pertumbuhan pascatrauma, baik di dalam kelompok maupun antar-kelompok. Meskipun demikian, kelompok eksperimen yang mengikuti program intervensi IPAGTAGUMPAY secara penuh menunjukkan tren kenaikan skor pemulihan yang cukup substansial sebesar 0,45 dari sebelum ke sesudah intervensi. Tidak signifikannya hasil statistik ini dipengaruhi oleh keterbatasan teknis seperti ukuran sampel akhir yang menyusut menjadi 40 orang akibat tuntutan kerja, serta kendala fokus peserta karena mayoritas sesi terpaksa dilaksanakan secara daring di sela-sela jadwal piket darurat mereka.
Implikasi dari riset ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis yang sangat berharga bagi perkembangan psikologi klinis dan penanganan trauma di Asia Tenggara. IPAGTAGUMPAY membuktikan bahwa ruang diskusi yang aman dan terstruktur mampu memicu proses restrukturisasi kognitif dan emosional penyintas. Bagi pembuat kebijakan publik dan praktisi kesehatan mental, program ini menyediakan instrumen nyata yang siap direplikasi dalam skala lebih luas guna membangun ekosistem pemulihan bencana berbasis komunitas yang tangguh dan holistik.
Profil Penulis
Kristina Anne Dimarucut-Ama — Bataan Peninsula State University
Jayvie Villazor — Bataan Peninsula State UniversitySumber Penelitian
Judul Artikel: Development and Implementation of IPAGTAGUMPAY Posttraumatic Growth Support Program Among Growth Program Among Trauma Survivors in Bataan, Philippines
Nama Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR)
Tahun Publikasi: 2026
DOI: [https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.181](https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.181)
URL Resmi: [https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr](https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr)
0 Komentar