Penelitian Ungkap PAUD di Ruteng Berhasil Tanamkan Toleransi Sejak Usia Dini
Praktik pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kota Ruteng, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan bahwa nilai toleransi dapat ditanamkan secara efektif sejak masa kanak-kanak melalui interaksi sehari-hari, dukungan keluarga, dan budaya lokal. Temuan ini dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Contemporary Sciences (IJCS) oleh Adriani Tamo Ina Talu, Hermina De Sinta Eleng, dan Martina Renti Lubienki dari Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng. Penelitian ini penting karena memberikan bukti bahwa pendidikan toleransi dapat dimulai sejak usia dini dan menjadi fondasi bagi masyarakat yang lebih inklusif di tengah meningkatnya tantangan intoleransi di Indonesia.
Pendidikan Toleransi Menjadi Kebutuhan Mendesak
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman agama, budaya, dan etnis. Namun, berbagai laporan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa praktik intoleransi masih muncul di lingkungan sosial, bahkan mulai terlihat di satuan pendidikan anak usia dini. Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik anak, tetapi juga membentuk karakter saling menghargai sejak usia dini.
Kota Ruteng dipilih sebagai lokasi penelitian karena berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang secara konsisten memperoleh nilai tinggi dalam Indeks Kerukunan Umat Beragama. Kehidupan masyarakat Manggarai yang menjunjung tinggi budaya dialog dan kebersamaan melalui tradisi Lonto Leok dinilai menjadi lingkungan yang mendukung tumbuhnya sikap toleran pada anak-anak.
Metodologi Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods, yaitu menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Peneliti mengumpulkan data melalui kuesioner, wawancara, observasi langsung, serta analisis dokumen pembelajaran di dua lembaga PAUD di Kota Ruteng.
Responden penelitian berasal dari anak-anak dengan latar belakang agama Katolik dan Islam. Selain mengamati perilaku anak saat belajar dan bermain, peneliti juga mewawancarai guru serta menganalisis dokumen pembelajaran untuk mengetahui bagaimana nilai toleransi diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.
Temuan Utama Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik toleransi di PAUD Kota Ruteng telah terinternalisasi dengan baik melalui pengalaman nyata, bukan sekadar penyampaian teori.
Beberapa temuan penting meliputi:
- Anak-anak dari agama yang berbeda bermain, belajar, berbagi makanan, dan meminjam mainan bersama tanpa menunjukkan pengelompokan berdasarkan identitas agama.
- Guru membangun toleransi melalui pembiasaan sehari-hari, seperti memberi kesempatan kepada setiap anak berdoa sesuai keyakinannya dengan tetap saling menghormati.
- Orang tua memberikan dukungan terhadap aktivitas lintas agama di sekolah sehingga memperkuat proses pembentukan karakter toleran.
- Kepala sekolah dan guru menunjukkan komitmen kuat untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif bagi seluruh peserta didik.
Penelitian juga menemukan fenomena yang menarik. Meskipun hampir seluruh anak menunjukkan perilaku toleran dalam kehidupan sehari-hari, sebagian dari mereka masih belum mampu memahami konsep abstrak mengenai keberagaman agama. Misalnya, terdapat anak yang belum dapat menjelaskan bahwa agama lain juga mengajarkan kebaikan, meskipun mereka tetap bermain akrab dengan teman yang berbeda agama. Peneliti menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan dengan tahap perkembangan kognitif anak usia 4–6 tahun yang masih berpikir secara konkret.
Budaya Manggarai Memperkuat Pendidikan Toleransi
Penelitian menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan toleransi di Ruteng tidak hanya berasal dari sekolah, tetapi juga dipengaruhi oleh budaya lokal.
Tradisi Lonto Leok, yaitu budaya bermusyawarah dengan duduk melingkar, mengajarkan nilai kesetaraan, keterbukaan, dialog, dan penghargaan terhadap setiap anggota masyarakat. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan budaya tersebut secara alami belajar menghargai perbedaan sebelum memahami konsep toleransi secara formal.
Peneliti juga mengaitkan temuan ini dengan teori ekologi perkembangan manusia yang menyatakan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh interaksi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan budaya. Ketika seluruh lingkungan memberikan pesan yang sama mengenai pentingnya hidup berdampingan secara damai, anak akan lebih mudah menginternalisasi perilaku toleran sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Implikasi bagi Dunia Pendidikan
Temuan penelitian memberikan sejumlah rekomendasi bagi pengembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia.
Peneliti menilai bahwa pendidikan toleransi sebaiknya tidak diajarkan melalui hafalan konsep atau penjelasan teoretis yang abstrak. Sebaliknya, guru dianjurkan memperbanyak kegiatan bermain bersama, proyek kolaboratif, berbagi makanan, latihan empati, dan aktivitas sosial yang memungkinkan anak mengalami langsung interaksi dengan teman yang berbeda latar belakang.
Selain itu, peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan pendidikan multikultural menjadi kebutuhan penting. Pengembangan media pembelajaran yang lebih kontekstual juga diperlukan agar pengalaman nyata anak dapat dihubungkan secara bertahap dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai keberagaman.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter berbasis pengalaman nyata dapat menjadi strategi efektif untuk memperkuat persatuan bangsa di tengah masyarakat yang semakin majemuk.
Pandangan Penulis
Adriani Tamo Ina Talu, Hermina De Sinta Eleng, dan Martina Renti Lubienki dari Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng menyimpulkan bahwa praktik toleransi di PAUD Kota Ruteng telah menjadi model empiris yang efektif dalam menanamkan nilai keberagaman sejak usia dini. Namun, mereka juga menekankan bahwa keberhasilan tersebut perlu diperkuat melalui pelatihan guru, pengembangan bahan ajar, dan media pembelajaran yang lebih kontekstual agar pemahaman anak mengenai keberagaman berkembang seiring bertambahnya usia.
Profil Penulis
- Adriani Tamo Ina Talu merupakan dosen dan peneliti pada Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng dengan bidang keahlian pendidikan anak usia dini, pendidikan karakter, dan toleransi.
- Hermina De Sinta Eleng adalah dosen dan peneliti pada Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng yang menekuni pendidikan multikultural, perkembangan anak, dan pembelajaran inklusif.
- Martina Renti Lubienki merupakan dosen dan peneliti pada Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng dengan fokus penelitian pada pendidikan karakter, perkembangan sosial anak, dan pendidikan inklusif. Artikel jurnal tidak mencantumkan gelar akademik para penulis.
Sumber Penelitian
- Judul Artikel: Practices of Tolerance Toward Diversity in Early Childhood in Ruteng City, NTT
- Penulis: Adriani Tamo Ina Talu, Hermina De Sinta Eleng, dan Martina Renti Lubienki
- Jurnal: International Journal of Contemporary Sciences (IJCS)
- Tahun Publikasi: 2026
- Volume dan Nomor: Vol. 4, No. 6, halaman 1623–1640
- DOI: https://doi.org/10.55927/r9e1g205
- URL Jurnal: https://journalijcs.my.id/index.php/ijcs

0 Komentar