Kondisi tersebut mencerminkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat pesisir Papua. Ketergantungan terhadap hasil tangkapan laut membuat pendapatan keluarga nelayan sering berfluktuasi. Di tengah ketidakpastian tersebut, perempuan Biak tidak hanya menjalankan tugas sebagai istri dan ibu, tetapi juga aktif mencari sumber penghasilan tambahan melalui berbagai kegiatan ekonomi yang berbasis pada potensi lokal.
Penelitian ini memiliki keunikan dibandingkan studi sebelumnya mengenai istri nelayan di berbagai daerah Indonesia. Jika sebagian besar penelitian lebih menyoroti program pemberdayaan atau inovasi ekonomi modern, penelitian di Kampung Soryar menampilkan bagaimana budaya Biak secara alami telah memberi ruang bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan ekonomi keluarga. Tradisi lokal tersebut membuat perempuan memiliki otonomi ekonomi yang relatif kuat tanpa terlalu bergantung pada intervensi program eksternal.
Untuk memahami fenomena tersebut, tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Penelitian berlangsung selama lima bulan di Kampung Soryar, Distrik Biak Timur. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, serta dokumentasi terhadap perempuan yang telah menikah dan berperan aktif dalam menopang ekonomi rumah tangga. Informan dipilih secara purposif agar mampu menggambarkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat secara mendalam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan Biak menjalankan berbagai aktivitas ekonomi setiap hari. Sebagian besar menjual ikan segar di Pasar Bosnik, mengolah hasil perikanan, menjual makanan siap saji, membuka kios kecil, membuat kerajinan tangan dari kulit kerang, hingga mengelola kebun keluarga yang menghasilkan umbi-umbian, pinang, dan tanaman pangan lainnya. Beragam aktivitas tersebut menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus mengurangi pengeluaran rumah tangga karena kebutuhan pangan dapat dipenuhi dari kebun sendiri.
Penelitian juga menemukan bahwa perempuan di Kampung Soryar memikul peran ganda. Mereka memulai hari dengan memasak, membersihkan rumah, dan menyiapkan anak ke sekolah sebelum melanjutkan aktivitas berdagang atau berkebun. Setelah kembali dari pasar atau kebun, pekerjaan domestik kembali menjadi tanggung jawab mereka. Meskipun demikian, beberapa keluarga mulai menerapkan pembagian tugas yang lebih fleksibel. Ketika istri bekerja di luar rumah, suami membantu sebagian pekerjaan rumah tangga, sedangkan ketika suami melaut, seluruh pekerjaan domestik kembali ditangani oleh istri.
Dalam sejumlah keluarga, kontribusi ekonomi perempuan bahkan telah melampaui fungsi sebagai pencari nafkah tambahan. Beberapa informan mengaku menjadi sumber pendapatan utama keluarga karena penghasilan suami sebagai nelayan tidak selalu tersedia. Temuan ini juga diakui oleh kepala kampung dan informan laki-laki yang menyebut perempuan Soryar lebih aktif secara ekonomi dibandingkan laki-laki dalam kehidupan sehari-hari.
Selain menggambarkan kontribusi perempuan, penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai kekuatan dan tantangan yang mereka hadapi. Dari sisi kekuatan, perempuan Biak memiliki keterampilan membuat kerajinan berbahan kulit kerang, perhiasan tradisional, hingga pakaian adat yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Potensi tersebut dinilai sangat prospektif untuk dikembangkan menjadi industri kreatif berbasis budaya dan pariwisata.
Namun demikian, berbagai hambatan masih membatasi perkembangan usaha mereka. Kendala terbesar adalah keterbatasan modal usaha, minimnya pendampingan setelah pelatihan, rendahnya akses terhadap pemasaran, serta belum adanya organisasi perempuan yang aktif mengembangkan usaha bersama. Akibatnya, banyak keterampilan yang dimiliki perempuan belum mampu berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Di sisi lain, Kampung Soryar memiliki peluang ekonomi yang cukup besar. Lokasinya sebagai kawasan wisata pesisir membuka kesempatan bagi perempuan untuk menjual hasil laut, makanan lokal, dan kerajinan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Sayangnya, peluang tersebut masih dibayangi ancaman berupa cuaca buruk yang mengurangi hasil tangkapan nelayan sekaligus menurunkan jumlah kunjungan wisatawan sehingga pendapatan masyarakat ikut menurun.
Peneliti juga menemukan bahwa strategi bertahan hidup masyarakat Soryar bertumpu pada kemampuan memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersedia. Ketika hasil laut menurun, perempuan mengandalkan hasil kebun, berdagang, atau membuat kerajinan untuk menjaga arus pendapatan keluarga. Pola diversifikasi mata pencaharian ini terbukti meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga meskipun belum didukung oleh program pemberdayaan yang terstruktur dari pemerintah desa.
Berdasarkan temuan tersebut, tim peneliti merekomendasikan agar pemerintah desa, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan menyusun program pemberdayaan perempuan yang lebih berkelanjutan. Bentuk dukungan yang disarankan meliputi pelatihan keterampilan yang diikuti pendampingan usaha, akses permodalan mikro, penguatan organisasi perempuan, serta pengembangan industri kreatif berbasis potensi budaya dan wisata lokal. Dengan strategi tersebut, perempuan tidak hanya diposisikan sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai aktor utama pembangunan ekonomi desa.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa ketahanan ekonomi keluarga nelayan tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan laut, tetapi juga pada kemampuan perempuan mengelola berbagai sumber daya yang tersedia. Peran perempuan Biak di Kampung Soryar menjadi contoh bagaimana budaya lokal dapat memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat ketika didukung oleh kebijakan yang tepat.
Profil Singkat Penulis
Beatus Tambaip merupakan akademisi pada Program Studi Administrasi Publik, Universitas Cenderawasih, Indonesia. Penelitian ini ditulis bersama Yosephina Ohoiwutun dan M. Zaenul Muttaqin dari Universitas Cenderawasih, serta Rosina J.M. Kebubun, Ivone A. Nathan, Yuan Williamson Tamberan, Yustinus Merin, dan Dewi Dyan Lampita dari Program Studi Administrasi Publik, STISIP Yaleka Maro Merauke. Fokus kajian mereka meliputi administrasi publik, pemberdayaan masyarakat, ekonomi rumah tangga, gender, serta pembangunan berbasis komunitas pesisir.
0 Komentar