Pengaruh Laju Pertumbuhan Pasokan Uang (M2), Suku Bunga, dan Nilai Tukar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (JCI)

Gambar Ilustasi AI

FORMOSA NEWS - Cirebon - Bagaimana Perubahan Makroekonomi Memengaruhi Indeks Harga Saham Gabungan dan Dinamika Investor. Penelitian yang dilakukan oleh  Handreana Rheymanda Setiawan, Moh Yudi Mahadianto, dan Mardi dari Universitas Swadaya Gunung Jati dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Management Analytics (AJMA) edisi Vol. 5 No. 3 Tahun 2026 menyoroti bahwa likuiditas domestik yang tumbuh dan kebijakan suku bunga yang stabil bertindak sebagai katalis positif, sementara pelemahan nilai tukar Rupiah memberikan tekanan signifikan pada indeks pasar.

Latar Belakang dan Relevansi Pasar
Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berfungsi sebagai barometer utama untuk mengukur kesehatan pasar modal di Indonesia. Memahami faktor-faktor yang mendorong pergerakan indeks ini menjadi semakin krusial di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Dinamika makroekonomi secara langsung menentukan ketersediaan modal di masyarakat dan sangat memengaruhi ekspektasi serta keputusan para pelaku pasarSebelumnya, berbagai diskusi akademik menunjukkan hasil yang beragam mengenai sensitivitas bursa efek terhadap pergeseran suku bunga acuan maupun volatilitas mata uang. Dengan berfokus secara spesifik pada jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) yang mencakup uang kartal, uang giral, dan uang kuasi seperti deposito berjangka—penelitian ini memperjelas bagaimana intervensi moneter dan regulasi struktural pemerintah mentranslasikan diri ke dalam tren penilaian pasar secara riil.

Metodologi Penelitian
Para peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk menganalisis data keuangan. Investigasi ini memanfaatkan data sekunder yang terdiri dari 60 pengamatan bulanan selama periode lima tahun, yaitu dari tahun 2020 hingga 2024. Seluruh data tersebut dihimpun secara legal dan resmi dari situs web Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS)Untuk memetakan hubungan antar variabel, tim peneliti menerapkan metode analisis regresi linier berganda menggunakan perangkat lunak pengolah data statistik. Kredibilitas hasil pemodelan ini telah diuji secara ketat melalui uji asumsi klasik. Pengujian tersebut memastikan bahwa data terdistribusi normal, bebas dari gangguan autokorelasi, tidak mengandung multikolinieritas, serta memiliki varians residual yang konstan (homoskedastisitas).

Temuan Utama dan Hasil Statistik
Analisis statistik mengisolasi jalur pengaruh yang jelas dari masing-masing indikator ekonomi terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG):
  • Jumlah Uang Beredar (M2): Variabel ini menunjukkan hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan secara statistik terhadap bursa saham. Peningkatan likuiditas dalam perekonomian nasional secara efektif menyalurkan lebih banyak modal ke aset keuangan, meningkatkan permintaan saham, dan mendorong kenaikan IHSG.
  • Suku Bunga BI: Suku bunga acuan bank sentral juga mencatat dampak positif dan signifikan terhadap indeks selama periode pengamatan. Penyesuaian suku bunga oleh Bank Indonesia ditangkap oleh pasar sebagai sinyal proaktif dalam mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas moneter, yang pada gilirannya memperkuat kepercayaan investor.
  • Nilai Tukar Rupiah: Nilai tukar menunjukkan efek negatif dan signifikan yang sangat kuat terhadap IHSG. Ketika Rupiah mengalami depresiasi atau melemah terhadap Dolar AS, beban operasional emiten meningkat terutama bagi perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku atau memiliki utang dalam valuta asing. Penurunan profitabilitas ini mendorong investor mendiversifikasi portofolio mereka keluar dari pasar ekuitas domestik.
Secara simultan, model regresi yang dibangun terbukti sangat kokoh. Nilai Adjusted R Square menunjukkan bahwa kombinasi dari jumlah uang beredar (M2), Suku Bunga BI, dan Nilai Tukar Rupiah mampu menjelaskan 77,2% dari seluruh variasi pergerakan IHSG selama rentang waktu studi tersebut.

Implikasi dan Dampak Nyata
Wawasan dari penelitian ini memberikan kerangka kerja strategis yang jelas bagi para pembuat kebijakan, regulator moneter, serta para manajer investasi. Bagi pemerintah dan Bank Indonesia, hasil ini menegaskan pentingnya menjaga ekspansi likuiditas yang terukur sekaligus meminimalkan volatilitas mata uang ekstrem demi mempertahankan iklim investasi yang kondusif. Bagi investor institusional dan pelaku industri, dampak negatif dari depresiasi mata uang menjadi peringatan nyata untuk memperkuat lindung nilai (hedging) terhadap risiko valuta asing. Dengan memahami pola hubungan makroekonomi ini, para pelaku usaha dapat lebih akurat dalam mengantisipasi arah pergerakan pasar modal akibat dari pergeseran kebijakan moneter nasional.

Profil Penulis

Handreana Rheymanda Setiawan adalah peneliti akademik lulusan Universitas Swadaya Gunung Jati. Ia memiliki keahlian di bidang ekonomi keuangan, manajemen moneter, dan analisis analitik pasar modal. Fokus risetnya berjalan pada interaksi antara instrumen kebijakan makroekonomi dan performa bursa efek nasional.
Dr. Moh Yudi Mahadianto, S.E., M.M. merupakan dosen senior di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGJ yang memiliki spesialisasi di bidang manajemen keuangan, tata kelola perusahaan, dan analisis kepatuhan pajak.
Dr. Mardi, S.E., M.Si. adalah pakar metodologi penelitian akuntansi dan dosen di UGJ yang aktif melakukan kajian terkait akuntansi manajemen dan tanggung jawab sosial perusahaan.

Sumber Penelitian
Handreana Rheymanda Setiawan, Moh Yudi Mahadianto, dan Mardi: The Effect of Rate of Money Supply (M2), Interest Rates and Exchange Rates on the Composite Stock Price Index (JCI). Asian Journal of Management Analytics (AJMA). Vol. 5, No. 3, Tahun 2026 Hal. 479-492.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajma.v5i3.16562
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajma

Posting Komentar

0 Komentar