Inovasi ini dinilai penting karena kebocoran maupun tumpahan bahan kimia masih menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan kerja dan pencemaran lingkungan di berbagai sektor industri. Dengan memanfaatkan teknologi sensor, mikrokontroler, dan aktuator otomatis, sistem ASEB dirancang untuk memberikan respons cepat tanpa harus menunggu tindakan manual dari operator.
Risiko Tumpahan Bahan Kimia Masih Menjadi Tantangan Industri
Berbagai industri, seperti tekstil, manufaktur, farmasi, hingga pengolahan kimia, setiap hari menggunakan zat berbahaya seperti etanol, formalin, asam sulfat, toluena, dan karbon monoksida. Jika terjadi kebocoran pada tangki penyimpanan atau saluran distribusi, cairan tersebut dapat menyebar dengan cepat sehingga membahayakan pekerja sekaligus mencemari lingkungan.
Peneliti menjelaskan bahwa salah satu penyebab besarnya dampak kecelakaan industri adalah keterlambatan mendeteksi dan menangani kebocoran. Banyak sistem pengaman yang masih mengandalkan respons manusia sehingga waktu penanganan menjadi lebih lama. Selain itu, beberapa teknologi pembatas cairan yang telah dikembangkan sebelumnya masih memerlukan pengoperasian manual atau menggunakan sistem mekanis yang belum mampu merespons kondisi secara otomatis. Kondisi inilah yang mendorong pengembangan sistem ASEB sebagai solusi yang lebih modern dan responsif.
Menggabungkan Sensor, Arduino, dan Motor Penggerak
Dalam penelitian ini, tim Universitas Krisnadwipayana merancang sebuah prototipe pembatas otomatis berukuran sekitar 100 × 50 sentimeter. Sistem tersebut memanfaatkan water level sensor untuk mendeteksi keberadaan cairan. Ketika sensor mendeteksi adanya tumpahan, sinyal akan dikirim ke mikrokontroler Arduino yang kemudian mengaktifkan linear motor actuator sehingga pintu pembatas otomatis menutup area yang terdampak.
Selain bekerja secara otomatis, sistem juga dilengkapi tombol manual sehingga operator tetap dapat mengendalikan pembatas apabila diperlukan dalam kondisi darurat. Seluruh proses mulai dari desain mekanik, rangkaian elektronik, hingga pengujian dilakukan melalui pendekatan eksperimental menggunakan prototipe di laboratorium.
Sensor Menunjukkan Akurasi Sangat Tinggi
Pengujian pertama dilakukan untuk mengetahui kemampuan sensor membaca perubahan tinggi permukaan cairan. Hasilnya menunjukkan hubungan yang konsisten antara tinggi cairan dan nilai hambatan listrik (resistansi). Semakin tinggi permukaan cairan, semakin rendah nilai resistansi yang terbaca oleh sensor. Pola tersebut menunjukkan bahwa sensor bekerja sesuai prinsip konduktivitas listrik dan mampu mendeteksi perubahan cairan secara stabil.
Selanjutnya, peneliti melakukan sepuluh kali pengujian untuk mengetahui ketepatan sistem dalam membedakan kondisi terdapat maupun tidak terdapat cairan. Hasilnya sangat menggembirakan.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
- Sensor mendeteksi keberadaan cairan dengan akurasi 100 persen.
- Linear motor selalu aktif ketika cairan terdeteksi.
- Motor tetap tidak aktif ketika tidak terdapat cairan.
- Tidak ditemukan kesalahan deteksi selama seluruh rangkaian pengujian.
Menurut peneliti, hasil tersebut menunjukkan bahwa integrasi antara sensor, Arduino, dan aktuator bekerja secara optimal sehingga sistem memiliki tingkat keandalan yang tinggi sebagai perangkat keselamatan industri.
Barricade Menutup Area Dalam Sekitar 40 Detik
Selain mengukur akurasi, penelitian juga mengevaluasi kecepatan sistem merespons kondisi darurat. Berdasarkan enam kali pengujian, sistem membutuhkan rata-rata sekitar 40,60 detik untuk menutup pembatas dan 36,26 detik untuk membuka kembali pembatas.
Perbedaan waktu tersebut terjadi karena saat proses penutupan, motor harus melawan tekanan cairan sekaligus beban mekanis sehingga membutuhkan waktu sedikit lebih lama dibandingkan saat membuka pembatas. Meskipun demikian, peneliti menilai waktu respons tersebut masih berada dalam kisaran yang memadai untuk mendukung sistem keselamatan pada kondisi darurat.
Berpotensi Mengurangi Risiko Kecelakaan dan Pencemaran
Jenni Ria Rajagukguk dan Wanda Kurniawan menjelaskan bahwa penggabungan teknologi sensor, mikrokontroler, dan aktuator otomatis memberikan kemampuan bagi sistem ASEB untuk bekerja tanpa intervensi manusia ketika terjadi tumpahan bahan kimia.
Menurut mereka, teknologi ini berpotensi membantu perusahaan mengurangi penyebaran bahan kimia berbahaya, melindungi pekerja dari paparan zat beracun, sekaligus meminimalkan dampak pencemaran lingkungan. Selain itu, sistem ini juga dapat mendukung penerapan keselamatan kerja berbasis otomatisasi yang kini semakin dibutuhkan pada era industri modern.
Walaupun demikian, peneliti mengakui bahwa penelitian ini masih menggunakan prototipe skala laboratorium. Pengujian belum dilakukan pada lingkungan industri yang sebenarnya dengan berbagai jenis bahan kimia, variasi suhu, kelembapan, tekanan, maupun skenario tumpahan dalam skala besar. Oleh karena itu, penelitian lanjutan diperlukan agar teknologi ini dapat diterapkan secara luas di berbagai sektor industri.
Membuka Peluang Pengembangan Industri Cerdas
Selain meningkatkan keselamatan kerja, sistem ASEB juga membuka peluang integrasi dengan teknologi digital yang lebih canggih. Peneliti merekomendasikan pengembangan berikutnya berupa integrasi Internet of Things (IoT) sehingga kondisi tumpahan dapat dipantau dari jarak jauh secara real time. Penggunaan sensor yang lebih adaptif serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga dinilai berpotensi meningkatkan kemampuan sistem dalam memprediksi dan merespons keadaan darurat secara lebih cepat dan akurat.
Dengan hasil tersebut, ASEB tidak hanya menjadi inovasi teknis, tetapi juga menawarkan solusi praktis bagi industri yang ingin memperkuat sistem keselamatan kerja sekaligus mendukung operasional yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Profil Penulis
Jenni Ria Rajagukguk merupakan akademisi dan peneliti pada Program Magister Management Technology, Fakultas Teknik, Universitas Krisnadwipayana, Indonesia. Bidang penelitiannya berfokus pada teknologi rekayasa, otomasi industri, serta sistem keselamatan kerja berbasis teknologi.
Wanda Kurniawan adalah peneliti dari Program Magister Management Technology, Fakultas Teknik, Universitas Krisnadwipayana, yang memiliki minat penelitian pada pengembangan sistem otomasi, mikrokontroler, dan inovasi teknologi untuk meningkatkan keselamatan industri.
Sumber Penelitian
Rajagukguk, J. R., & Kurniawan, W. (2026). Automatic Safety Emergency Barricade. Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA), Vol. 5, No. 2, hlm. 323–338. DOI: 10.55927/ijaea.v5i2.16615.
0 Komentar