Santiago City – Pemasaran melalui media sosial terbukti lebih efektif dibandingkan iklan konvensional dalam menjangkau, melibatkan, dan menyampaikan informasi kepada pemangku kepentingan di lingkungan pendidikan. Temuan tersebut dipublikasikan oleh Ma. Fatima Johara A. Claravall dari Northeastern College, Inc. Graduate School dan Celso C. Dumalig dari Department of Education, Philippines, dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research edisi Juli 2026. Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran digital melalui media sosial memperoleh penilaian yang lebih tinggi dibandingkan media konvensional pada seluruh aspek yang diukur, sehingga dinilai lebih efektif dalam mendukung komunikasi dan promosi sekolah.
Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara lembaga pendidikan membangun komunikasi dengan siswa, guru, orang tua, dan masyarakat. Jika sebelumnya penyampaian informasi lebih banyak mengandalkan poster, spanduk, brosur, papan pengumuman, maupun komunikasi tatap muka, kini sekolah semakin memanfaatkan platform media sosial seperti Facebook, YouTube, dan berbagai aplikasi digital lainnya. Media sosial memungkinkan informasi disebarkan secara cepat, interaktif, dan menjangkau lebih banyak orang dalam waktu singkat sehingga menjadi bagian penting dari strategi komunikasi pendidikan modern.
Meskipun demikian, iklan konvensional masih memiliki peran penting, terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses internet atau kurang terbiasa menggunakan teknologi digital. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kombinasi media digital dan media konvensional masih diperlukan agar informasi dapat menjangkau seluruh kelompok masyarakat secara merata. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efektivitas kedua pendekatan tersebut dalam konteks lembaga pendidikan di School Division of Isabela, Filipina.
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-komparatif dengan melibatkan 50 responden yang terdiri atas guru, siswa, tenaga kependidikan, dan orang tua. Seluruh responden dipilih secara purposive karena memiliki pengalaman menerima informasi melalui media sosial maupun media konvensional. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah divalidasi oleh para ahli dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta paired sample t-test untuk membandingkan efektivitas kedua media komunikasi tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia di bawah 35 tahun dan terdiri atas 56 persen perempuan serta 44 persen laki-laki. Guru menjadi kelompok responden terbesar, diikuti siswa, tenaga kependidikan, dan orang tua. Komposisi tersebut memberikan gambaran yang cukup representatif mengenai persepsi para pemangku kepentingan sekolah terhadap efektivitas media komunikasi yang digunakan.
Pada aspek jangkauan informasi (reach), media sosial memperoleh penilaian yang sangat tinggi. Sebanyak 70 persen responden menilai jangkauan media sosial berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi. Rata-rata skor jangkauan media sosial mencapai 3,98, jauh lebih tinggi dibandingkan iklan konvensional yang hanya memperoleh 3,20. Hasil ini menunjukkan bahwa media sosial dinilai mampu menyebarkan informasi sekolah kepada audiens yang lebih luas secara lebih cepat dan efisien. Diagram dan tabel pada halaman 8 serta tabel perbandingan pada halaman 13 memperlihatkan keunggulan media sosial pada indikator ini.
Keunggulan serupa juga terlihat pada aspek aksesibilitas. Sebanyak 70 persen responden menyatakan media sosial mudah diakses, sementara sebagian kecil masih mengalami kendala akibat keterbatasan internet atau perangkat digital. Nilai rata-rata aksesibilitas media sosial mencapai 3,94, sedangkan media konvensional hanya memperoleh 3,10. Temuan ini menunjukkan bahwa platform digital memberikan kemudahan yang lebih besar bagi masyarakat dalam memperoleh informasi sekolah kapan saja dan di mana saja.
Pada indikator keterlibatan (engagement), media sosial kembali menunjukkan performa terbaik. Sebanyak 72 persen responden menilai media sosial memiliki tingkat keterlibatan tinggi hingga sangat tinggi karena memungkinkan pengguna memberikan komentar, membagikan informasi, maupun berinteraksi langsung dengan pihak sekolah. Nilai rata-rata keterlibatan media sosial mencapai 4,02, sedangkan iklan konvensional hanya 3,05. Sebaliknya, mayoritas responden menilai media konvensional kurang mampu mendorong interaksi aktif sehingga lebih bersifat komunikasi satu arah.
Secara keseluruhan, 74 persen responden menilai pemasaran media sosial efektif sebagai sarana promosi dan komunikasi sekolah. Rata-rata skor efektivitas keseluruhannya mencapai 3,98, sedangkan iklan konvensional memperoleh 3,14. Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa media sosial unggul pada seluruh indikator yang diukur, yaitu jangkauan, aksesibilitas, keterlibatan, dan efektivitas secara umum. Ringkasan hasil penelitian pada halaman 15 juga menegaskan bahwa pemasaran media sosial menjadi metode komunikasi yang paling efektif menurut para responden.
Walaupun demikian, para peneliti menegaskan bahwa iklan konvensional tetap memiliki nilai strategis. Media seperti poster, brosur, spanduk, dan papan pengumuman masih efektif membangun kepercayaan masyarakat serta menjangkau kelompok yang belum memiliki akses internet memadai. Oleh karena itu, strategi komunikasi pendidikan yang paling ideal bukanlah menggantikan media konvensional sepenuhnya, melainkan mengintegrasikannya dengan pemasaran media sosial agar seluruh pemangku kepentingan dapat memperoleh informasi secara merata.
Menurut Ma. Fatima Johara A. Claravall dan Celso C. Dumalig, lembaga pendidikan perlu menjadikan media sosial sebagai strategi komunikasi utama karena lebih cepat, mudah diakses, interaktif, dan mampu meningkatkan keterlibatan masyarakat. Namun, penggunaan media konvensional tetap perlu dipertahankan sebagai pelengkap, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses digital. Pendekatan komunikasi yang mengombinasikan kedua media tersebut dinilai mampu menciptakan sistem penyampaian informasi yang lebih inklusif, efektif, dan berkelanjutan.
Profil Penulis
Ma. Fatima Johara A. Claravall – Northeastern College, Inc. Graduate School, Santiago City, Philippines
Celso C. Dumalig – Department of Education, Philippines
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Social Media Marketing vs. Conventional Advertising
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4, No. 7, 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i7.104
Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar