Hasil tersebut menjadi penting karena UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Di Kota Medan sendiri terdapat sekitar 50.000 UMKM yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari kuliner, fesyen, kerajinan, perdagangan, hingga jasa. Meski memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi daerah, sebagian besar pelaku usaha masih menghadapi persoalan mendasar berupa pencatatan keuangan yang belum tertata, lemahnya perencanaan bisnis, minimnya penggunaan teknologi digital, serta terbatasnya akses terhadap informasi pasar dan pembiayaan. Kondisi tersebut membuat banyak UMKM kesulitan berkembang dan bersaing di tengah persaingan usaha yang semakin ketat.
Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian masyarakat merancang program pemberdayaan yang berfokus pada dua aspek utama, yaitu penguatan tata kelola keuangan dan peningkatan kemampuan manajemen bisnis. Program ini melibatkan 35 pelaku UMKM dari berbagai sektor usaha di Kota Medan yang dipilih berdasarkan komitmen mereka untuk mengembangkan usahanya. Seluruh peserta mengikuti rangkaian pelatihan, praktik langsung, pendampingan selama 12 minggu, serta pembentukan komunitas bisnis yang memungkinkan mereka saling belajar dan berbagi pengalaman setelah program selesai.
Pendekatan yang digunakan menempatkan peserta sebagai pelaku utama dalam proses pembelajaran. Alih-alih hanya menerima materi di kelas, peserta langsung mempraktikkan penyusunan laporan keuangan menggunakan data usaha mereka sendiri. Mereka juga mendapatkan pendampingan rutin melalui kunjungan lapangan, konsultasi daring, diskusi kelompok, hingga sesi klinik bisnis yang membantu menyelesaikan persoalan spesifik setiap usaha. Pendekatan praktik ini membuat materi yang sebelumnya dianggap rumit menjadi lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Sebelum pelatihan dimulai, tim peneliti melakukan analisis kebutuhan terhadap seluruh peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa 78 persen UMKM belum memiliki sistem pembukuan yang baik, 84 persen masih mencampurkan keuangan pribadi dan usaha, 75 persen belum memiliki rencana bisnis tertulis, 82 persen belum pernah melakukan analisis pasar, serta 83 persen belum memanfaatkan platform digital untuk memperluas pemasaran. Sebagian besar peserta juga belum memahami persyaratan memperoleh Kredit Usaha Rakyat (KUR) karena belum mampu menyusun laporan keuangan sesuai standar yang dibutuhkan lembaga keuangan.
Program pelatihan kemudian dibagi menjadi beberapa tahapan. Pada aspek tata kelola keuangan, peserta mempelajari pembukuan sederhana, penyusunan laporan laba rugi, neraca, arus kas, pengelolaan anggaran, hingga persiapan dokumen untuk mengakses pembiayaan perbankan. Sementara pada aspek manajemen bisnis, peserta mendapatkan pelatihan mengenai Business Model Canvas, analisis SWOT, pengelolaan persediaan, strategi penetapan harga, pemasaran digital, serta pengembangan usaha berbasis teknologi. Seluruh materi disampaikan menggunakan contoh nyata yang berasal dari usaha para peserta sehingga lebih mudah diterapkan.
Hasil evaluasi menunjukkan perubahan yang sangat signifikan. Kemampuan peserta dalam menyusun laporan keuangan sederhana meningkat dari hanya 14 persen sebelum program menjadi 86 persen setelah program selesai. Kemampuan memisahkan keuangan pribadi dan usaha meningkat dari 29 persen menjadi 93 persen. Kemampuan menyusun anggaran usaha naik dari 11 persen menjadi 82 persen, sedangkan penguasaan pengelolaan stok meningkat dari 18 persen menjadi 79 persen. Pemanfaatan platform digital untuk pemasaran juga melonjak dari 22 persen menjadi 77 persen. Selain itu, kesiapan peserta dalam mengakses kredit perbankan meningkat dari 16 persen menjadi 81 persen karena mereka telah mampu menyusun laporan keuangan yang lebih baik.
Tidak hanya meningkatkan kemampuan administrasi, program ini juga memberikan dampak langsung terhadap perkembangan usaha peserta. Beberapa pelaku UMKM melaporkan peningkatan omzet hingga 30–40 persen setelah menerapkan strategi pemasaran digital yang dipelajari selama pelatihan. Peserta juga mulai mampu menghitung harga pokok produksi secara lebih akurat sehingga dapat menentukan harga jual yang lebih kompetitif tanpa mengurangi keuntungan. Pengelolaan stok yang lebih baik membantu mengurangi kerugian akibat barang menumpuk atau kekurangan persediaan. Bahkan, beberapa peserta berhasil memperoleh persetujuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) setelah memperbaiki laporan keuangan mereka sesuai pendampingan yang diberikan tim pelaksana.
Menurut Rike Yolanda Panjaitan dan tim peneliti, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pelatihan di ruang kelas, tetapi juga oleh proses pendampingan yang berlangsung secara berkelanjutan. Melalui konsultasi rutin dan evaluasi berkala, peserta dapat langsung memperbaiki kesalahan dalam pencatatan keuangan maupun penyusunan strategi bisnis. Pendekatan tersebut juga meningkatkan rasa percaya diri para pelaku UMKM dalam mengambil keputusan bisnis berdasarkan data keuangan, bukan sekadar perkiraan.
Salah satu capaian penting lainnya adalah terbentuknya Komunitas UMKM Berdaya Medan, sebuah wadah pembelajaran dan kolaborasi yang memungkinkan peserta terus bertukar informasi, berbagi pengalaman, hingga menjalin kerja sama bisnis setelah program berakhir. Komunitas ini memanfaatkan grup komunikasi digital untuk mendiskusikan berbagai persoalan usaha, berbagi peluang pasar, hingga saling membantu memahami program pemerintah maupun akses pembiayaan. Kehadiran komunitas tersebut diharapkan mampu menjaga keberlanjutan dampak program dalam jangka panjang.
Temuan ini memperlihatkan bahwa peningkatan daya saing UMKM tidak hanya bergantung pada kualitas produk, tetapi juga pada kemampuan mengelola keuangan, menyusun strategi bisnis, memanfaatkan teknologi digital, dan membangun jaringan usaha. Model pelatihan berbasis praktik yang dipadukan dengan pendampingan intensif dapat menjadi contoh bagi pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga keuangan, maupun organisasi pemberdayaan ekonomi dalam memperkuat kapasitas UMKM di berbagai daerah di Indonesia. Dengan pengelolaan usaha yang lebih profesional, peluang UMKM untuk berkembang, memperoleh akses pembiayaan, dan menembus pasar yang lebih luas menjadi semakin besar.
Profil Penulis
Rike Yolanda Panjaitan merupakan akademisi dari Fakultas Ekonomi, Universitas Methodist Indonesia. Penelitian ini dikerjakan bersama Apriani Magdalena Sibarani, Siti Normi Sinurat, Duma Megaria Elisabeth, Ivo Maelina Silitonga, Arthur Simanjuntak, Rintan Saragih, Kristanty M.N. Nadapdap (Universitas Methodist Indonesia), Markus Doddy Simanjuntak (Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sari Mutiara Indonesia), serta Erika dari STIE Professional Manajemen College Indonesia. Tim penulis memiliki fokus pada bidang akuntansi, manajemen, pemberdayaan UMKM, tata kelola keuangan, dan pengembangan daya saing usaha.
Sumber Penelitian
Panjaitan, R. Y., Sibarani, A. M., Sinurat, S. N., Elisabeth, D. M., Silitonga, I. M., Simanjuntak, A., Saragih, R., Nadapdap, K. M. N., Simanjuntak, M. D., & Erika. (2026). Strengthening Financial Governance and Business Management of MSMEs to Increase Competitiveness in Medan City. Jurnal Pengabdian Pancasila (JPP), Vol. 5 No. 2, 169–184.
0 Komentar