Selama ini, pembelajaran IPS di banyak sekolah masih didominasi penggunaan buku teks dan penjelasan di dalam kelas. Akibatnya, konsep-konsep seperti distribusi, konsumsi, mekanisme harga, hingga interaksi sosial sering kali dipahami secara abstrak. Padahal, lingkungan sekitar sekolah menyimpan banyak sumber belajar yang mampu memperlihatkan bagaimana teori tersebut berlangsung dalam kehidupan nyata.
Salah satu lingkungan yang dinilai memiliki nilai edukasi tinggi adalah pasar tradisional. Di tempat inilah masyarakat melakukan transaksi ekonomi, membangun komunikasi, melakukan negosiasi harga, hingga menciptakan hubungan sosial yang berlangsung setiap hari. Namun, potensi tersebut masih jarang dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran di sekolah.
Untuk mengkaji potensi tersebut, tim peneliti memilih Pasar Senggol di Kota Parepare sebagai lokasi penelitian. Pasar ini memiliki karakteristik unik karena aktivitas jual belinya justru ramai pada sore hingga malam hari, berbeda dengan sebagian besar pasar tradisional yang beroperasi pada pagi hari.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi langsung terhadap aktivitas pasar, wawancara dengan pedagang dan pembeli, serta dokumentasi lapangan. Informan dipilih secara purposif karena memiliki pengalaman langsung dalam aktivitas ekonomi di pasar tersebut. Selanjutnya, seluruh data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan peran pasar dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus potensinya sebagai sumber belajar IPS.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa Pasar Senggol memainkan peran penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat Parepare. Berbagai komoditas seperti sayuran, ikan, buah-buahan, cabai, bawang, dan kebutuhan pokok lainnya diperdagangkan setiap hari melalui interaksi langsung antara pedagang dan konsumen.
Rantai distribusi barang juga terlihat dengan jelas. Pedagang memperoleh barang dari petani, nelayan, maupun distributor sebelum menjualnya kembali kepada konsumen. Aktivitas ini menjadi contoh nyata mengenai bagaimana sistem distribusi bekerja dalam perekonomian lokal.
Penelitian juga menemukan bahwa mekanisme pembentukan harga di pasar berlangsung secara alami melalui interaksi antara jumlah pasokan dan tingkat permintaan masyarakat. Ketika stok barang berkurang atau permintaan meningkat, harga cenderung naik. Sebaliknya, ketika pasokan melimpah, harga menjadi lebih stabil atau menurun.
Fenomena tersebut memungkinkan siswa memahami konsep permintaan (demand), penawaran (supply), dan pembentukan harga secara langsung tanpa hanya menghafalkan teori di buku pelajaran.
Selain aspek ekonomi, Pasar Senggol juga memperlihatkan kuatnya nilai-nilai sosial dalam kehidupan masyarakat. Proses tawar-menawar menjadi salah satu bentuk komunikasi yang paling sering terjadi antara pedagang dan pembeli. Aktivitas ini tidak hanya bertujuan memperoleh harga terbaik, tetapi juga membangun hubungan yang lebih akrab, saling percaya, dan mencerminkan budaya lokal.
Seorang pedagang yang diwawancarai peneliti menjelaskan bahwa pasar selalu ramai pada sore hingga malam hari karena masyarakat lebih memilih berbelanja setelah menyelesaikan aktivitas sehari-hari. Harga yang relatif terjangkau dan kesempatan untuk melakukan negosiasi menjadi daya tarik utama pasar tradisional dibandingkan tempat belanja modern.
Dari sisi konsumen, keberadaan Pasar Senggol memberikan kemudahan memperoleh berbagai kebutuhan rumah tangga dengan pilihan produk yang lebih segar serta harga yang dapat dinegosiasikan secara langsung. Sementara bagi pedagang, pasar menjadi sumber mata pencaharian yang menopang perputaran ekonomi masyarakat lokal.
Temuan paling penting dari penelitian ini adalah besarnya potensi Pasar Senggol sebagai laboratorium pembelajaran IPS berbasis lingkungan. Melalui kunjungan langsung ke pasar, siswa dapat mengamati berbagai konsep ekonomi seperti distribusi, konsumsi, interaksi sosial, mekanisme pasar, hingga hubungan antara produsen, distributor, pedagang, dan konsumen.
Pengalaman belajar semacam ini dinilai lebih bermakna dibandingkan pembelajaran yang hanya berlangsung di ruang kelas. Siswa tidak sekadar menghafal definisi, tetapi menyaksikan sendiri bagaimana konsep tersebut diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Selain meningkatkan pemahaman konsep, pendekatan ini juga diyakini mampu meningkatkan keterlibatan siswa selama proses belajar berlangsung.
Menurut para peneliti, pemanfaatan pasar tradisional sebagai sumber belajar sejalan dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman nyata peserta didik. Lingkungan sekitar sekolah, termasuk pasar tradisional, dapat dijadikan media pembelajaran yang lebih relevan sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar yang autentik sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap fenomena sosial dan ekonomi di sekitarnya.
Penelitian ini juga memberikan pesan penting bagi guru, sekolah, dan pembuat kebijakan pendidikan. Pembelajaran berbasis lingkungan tidak selalu membutuhkan fasilitas mahal. Justru lingkungan lokal yang selama ini dianggap biasa, seperti pasar tradisional, dapat menjadi sumber belajar yang kaya akan nilai ekonomi, sosial, budaya, serta karakter.
Dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai bagian dari proses pembelajaran, sekolah dapat menghadirkan pendidikan yang lebih kontekstual, meningkatkan partisipasi siswa, sekaligus memperkuat keterkaitan antara teori di kelas dan realitas kehidupan masyarakat.
Profil Penulis
Imron Burhan merupakan akademisi dari Universitas Negeri Makassar (UNM) yang memiliki fokus kajian pada pendidikan IPS, pembelajaran kontekstual, serta pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Penelitian ini dilakukan bersama Nur Fadny Yuliani, Siswati Rachman, dan Amriadi, yang juga berasal dari Universitas Negeri Makassar. Kolaborasi mereka berfokus pada pengembangan pembelajaran yang menghubungkan konsep akademik dengan realitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Exploring the Role of Senggol Market in Economic Activities in Parepare City as a Contextual Learning Resource for Social Studies
Penulis: Imron Burhan, Nur Fadny Yuliani, Siswati Rachman, Amriadi
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Vol. 4, No. 7 (2026), halaman 745–758
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i7.28
URL: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar