![]() |
| Illustration by Ai |
Pekerja industri beton yang terpapar bahan cetak dalam jangka panjang memiliki risiko lebih tinggi mengalami dermatitis kontak iritan, salah satu penyakit akibat kerja yang paling sering ditemukan di sektor manufaktur. Temuan ini berasal dari penelitian yang dilakukan oleh Rini Hari Sandy Br Sembiring, Umi Salmah, dan Arfah Mardiana Lubis dari Universitas Sumatera Utara (USU) dan dipublikasikan pada tahun 2026 di Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA). Penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa pengendalian paparan bahan kerja dan peningkatan kebersihan diri pekerja dapat menjadi langkah efektif untuk mencegah gangguan kesehatan kulit di lingkungan industri.
Dermatitis kontak iritan merupakan peradangan kulit yang muncul akibat kontak berulang dengan zat-zat yang dapat mengiritasi kulit. Kondisi ini dapat menyebabkan kemerahan, gatal, perih, hingga menurunkan produktivitas pekerja. Di berbagai negara, penyakit kulit akibat kerja masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) bahkan mencatat jutaan pekerja meninggal setiap tahun akibat penyakit dan kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan.
Dalam industri beton pracetak, pekerja setiap hari berhadapan dengan semen, debu semen, minyak cetakan, dan berbagai bahan kimia lainnya yang berpotensi menyebabkan iritasi kulit. Survei awal yang dilakukan di PT WIKA Beton PPB Sumut menunjukkan bahwa separuh pekerja yang diwawancarai mengeluhkan gejala yang mengarah pada dermatitis kontak iritan. Kondisi tersebut mendorong para peneliti untuk mengkaji faktor-faktor yang berkontribusi terhadap munculnya penyakit tersebut.
Meneliti 60 Pekerja Industri Beton di Sumatera Utara
Penelitian dilakukan pada April hingga Mei 2026 di PT WIKA Beton PPB Sumut, Medan. Tim peneliti melibatkan seluruh 60 pekerja produksi yang secara langsung terlibat dalam penggunaan bahan cetak selama proses produksi beton.
Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi lapangan. Peneliti menilai tiga faktor utama yang diduga memengaruhi munculnya dermatitis kontak iritan, yaitu:
- Kebersihan diri (personal hygiene)
- Penggunaan alat pelindung diri (APD)
- Tingkat paparan bahan cetak selama bekerja
Hasilnya kemudian dianalisis untuk mengetahui faktor mana yang paling berpengaruh terhadap risiko penyakit kulit pada pekerja.
Lebih dari Separuh Pekerja Mengalami Dermatitis Kontak Iritan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 33 dari 60 pekerja atau 55 persen mengalami dermatitis kontak iritan. Angka ini menunjukkan bahwa gangguan kesehatan kulit masih menjadi persoalan serius di lingkungan industri beton pracetak.
Dari sisi kebersihan diri, sebanyak 58,3 persen pekerja memiliki personal hygiene yang baik, sedangkan sisanya masih berada pada kategori kurang baik. Namun, pekerja dengan kebersihan diri yang buruk ternyata jauh lebih rentan mengalami penyakit kulit. Sebanyak 72 persen pekerja dengan personal hygiene buruk mengalami dermatitis kontak iritan, dibandingkan hanya 42,9 persen pada kelompok dengan kebersihan diri yang baik.
Menurut peneliti, sisa semen, debu, maupun bahan cetak yang tidak segera dibersihkan dari kulit dapat merusak lapisan pelindung kulit dan memicu peradangan. Karena itu, kebiasaan mencuci tangan, membersihkan tubuh setelah bekerja, serta mengganti pakaian kerja menjadi langkah penting dalam pencegahan penyakit.
Paparan Bahan Cetak Menjadi Faktor Risiko Terbesar
Temuan paling menonjol dalam penelitian ini adalah pengaruh paparan bahan cetak terhadap kejadian dermatitis kontak iritan.
Sebanyak 51,7 persen pekerja masuk kategori paparan tinggi, yaitu telah terpapar bahan cetak dalam jangka waktu yang lama. Pada kelompok ini, 71 persen pekerja mengalami dermatitis kontak iritan. Sebaliknya, pada kelompok dengan paparan lebih rendah, angka kejadian hanya 37,9 persen.
Peneliti menjelaskan bahwa kontak berulang dengan semen, debu semen, dan bahan kimia lain menyebabkan kerusakan kumulatif pada lapisan pelindung kulit. Semakin lama seseorang terpapar, semakin besar peluang munculnya gangguan kesehatan kulit.
Analisis lanjutan menunjukkan bahwa paparan bahan cetak merupakan faktor yang paling dominan. Pekerja dengan paparan tinggi memiliki risiko lebih dari empat kali lipat mengalami dermatitis kontak iritan dibandingkan pekerja dengan tingkat paparan lebih rendah. Nilai odds ratio yang diperoleh mencapai 4,135.
APD Tidak Menunjukkan Hubungan Signifikan
Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa penggunaan alat pelindung diri tidak memiliki hubungan signifikan dengan kejadian dermatitis kontak iritan. Hampir seluruh pekerja, yakni 98,3 persen, telah menggunakan APD dengan baik. Karena tingkat kepatuhan yang sangat tinggi tersebut, variasi penggunaan APD menjadi sangat kecil sehingga pengaruhnya tidak terlihat secara statistik.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa APD tetap penting sebagai lapisan perlindungan terakhir. Penggunaan APD tidak menghilangkan sumber bahaya, melainkan hanya mengurangi kontak langsung dengan zat iritan. Jika paparan berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang, risiko penyakit kulit tetap dapat muncul.
Implikasi bagi Industri dan Keselamatan Kerja
Hasil penelitian ini memberikan pesan penting bagi perusahaan industri, khususnya sektor beton dan konstruksi. Upaya pencegahan penyakit kulit tidak cukup hanya dengan menyediakan APD. Perusahaan juga perlu mengendalikan sumber paparan, menerapkan rotasi kerja, melakukan pemantauan kesehatan secara berkala, serta memperkuat edukasi mengenai kebersihan diri pekerja.
Rini Hari Sandy Br Sembiring dan tim dari Universitas Sumatera Utara menegaskan bahwa faktor lingkungan kerja memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan faktor perilaku individu dalam kasus dermatitis kontak iritan di industri beton. Karena itu, strategi pencegahan harus berfokus pada pengurangan paparan bahan cetak sekaligus meningkatkan praktik personal hygiene di tempat kerja.
Temuan ini dapat menjadi referensi bagi perusahaan, praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta pembuat kebijakan untuk merancang program perlindungan pekerja yang lebih efektif.
Profil Penulis
Rini Hari Sandy Br Sembiring, dr. merupakan peneliti dari Universitas Sumatera Utara yang menekuni bidang kesehatan kerja dan kesehatan masyarakat.
Umi Salmah adalah akademisi Universitas Sumatera Utara yang memiliki fokus penelitian pada kesehatan lingkungan dan keselamatan kerja.
Arfah Mardiana Lubis merupakan peneliti dari Universitas Sumatera Utara yang aktif dalam kajian kesehatan masyarakat, penyakit akibat kerja, dan manajemen risiko kesehatan di lingkungan industri.

0 Komentar