Musik Tradisional Perlu Lebih dari Sekadar Arsip Digital untuk Bertahan di Era Modern

Ilustrasi by AI

Medan - Musik tradisional tidak cukup diselamatkan dengan mendokumentasikan lagu atau merekam pertunjukan. Keberlanjutannya bergantung pada pewarisan antargenerasi, keterlibatan masyarakat adat, pemanfaatan teknologi yang tepat, pariwisata budaya yang berkeadilan, hingga perlindungan lingkungan tempat tradisi itu berkembang. Kesimpulan tersebut disampaikan oleh Ahmad Arief Tarigan, Heristina Dewi, dan Hubari Gulo dari Universitas Sumatera Utara dalam artikel ilmiah yang diterbitkan pada International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS) Volume 4 Nomor 7 Tahun 2026.

Temuan ini menjadi penting ketika berbagai tradisi musik lokal menghadapi tekanan globalisasi, digitalisasi, dan komersialisasi pariwisata. Di satu sisi, teknologi membuka peluang pelestarian yang belum pernah ada sebelumnya. Namun di sisi lain, jika tidak dikelola dengan baik, digitalisasi justru berpotensi menghilangkan makna budaya yang melekat pada musik tradisional.

Musik Tradisional Menghadapi Tantangan Baru

Selama ini, pelestarian musik tradisional sering dipahami sebagai upaya mendokumentasikan lagu, alat musik, atau pertunjukan. Padahal, menurut para penulis, musik merupakan warisan budaya takbenda yang hidup melalui praktik sosial, interaksi antarmanusia, serta proses belajar yang berlangsung secara turun-temurun.

Globalisasi telah mengubah preferensi musik generasi muda sehingga banyak tradisi kehilangan penerus. Bersamaan dengan itu, perkembangan teknologi digital mengubah cara musik direkam, disimpan, dan dikonsumsi masyarakat. Ancaman lain yang mulai mendapat perhatian adalah perubahan iklim yang memengaruhi ketersediaan bahan baku alat musik tradisional maupun ruang budaya tempat musik tersebut dimainkan.

Di balik tantangan tersebut, musik tradisional sebenarnya memiliki potensi besar untuk mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan karakter, diplomasi budaya, hingga pengembangan ekonomi berbasis pariwisata.

Mengkaji Puluhan Publikasi dari Berbagai Negara

Alih-alih melakukan survei lapangan, penelitian ini menggunakan pendekatan critical integrative literature review. Tim peneliti menganalisis 32 publikasi ilmiah bereputasi yang diterbitkan sepanjang 2016–2026 dari berbagai penerbit internasional.

Literatur dipilih dari basis data seperti Scopus dan Web of Science, kemudian dipadukan dengan contoh kasus dari Indonesia, China, dan Uganda. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti membandingkan berbagai strategi pelestarian musik tradisional di berbagai konteks budaya sebelum merumuskan model konseptual yang lebih komprehensif.

Lima Pilar Keberlanjutan Musik Tradisional

Hasil sintesis penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan musik tradisional ditentukan oleh lima dimensi utama.

1. Pewarisan antargenerasi

Musik tradisional bertahan apabila proses belajar berlangsung secara alami dalam komunitas. Pembelajaran yang terlalu diformalkan berisiko menghilangkan nilai-nilai budaya yang diwariskan melalui pengalaman langsung.

2. Digitalisasi dan pengarsipan

Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), blockchain, robotika, maupun teknologi tiga dimensi dapat membantu pelestarian. Namun arsip digital juga menghadapi risiko "kehilangan tersembunyi" apabila tidak dikelola secara berkelanjutan setelah proyek selesai.

3. Pariwisata budaya

Wisata berbasis musik mampu meningkatkan ekonomi lokal dan memperkuat identitas daerah. Meski demikian, orientasi yang terlalu komersial dapat mengubah makna budaya menjadi sekadar hiburan bagi wisatawan.

4. Tata kelola berbasis komunitas

Keputusan mengenai pelestarian budaya sebaiknya berada di tangan komunitas pemilik tradisi. Pengakuan internasional memang dapat membuka akses pendanaan, tetapi birokrasi yang berlebihan dapat membatasi dinamika budaya yang selama ini berkembang secara alami.

5. Keadilan ekologis dan iklim

Kelestarian musik tradisional tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan. Berbagai alat musik bergantung pada bambu, kayu, logam, atau sumber daya alam lain yang kini menghadapi ancaman akibat degradasi lingkungan dan perubahan iklim.

Teknologi Tidak Selalu Menjadi Jawaban

Penelitian ini juga menekankan bahwa digitalisasi bukan solusi tunggal.

Contohnya, pengembangan alat musik angklung otomatis berbasis Raspberry Pi menunjukkan bagaimana teknologi dapat memperluas akses terhadap musik tradisional. Di sisi lain, digitalisasi gamelan melalui pengembangan basis data notasi mendukung penelitian jangka panjang.

Namun, para penulis mengingatkan bahwa arsip digital hanya akan bermanfaat apabila dikelola secara berkesinambungan. Tanpa strategi pengelolaan setelah proses digitalisasi selesai, warisan budaya tetap berpotensi hilang meskipun telah direkam dalam format digital.

Pelestarian Harus Dipimpin oleh Komunitas

Salah satu gagasan utama dalam artikel ini adalah pentingnya menempatkan komunitas budaya sebagai pengambil keputusan utama.

Model pelestarian yang hanya mengandalkan pemerintah, akademisi, atau sektor pariwisata dinilai kurang memadai. Penelitian ini mengusulkan pendekatan community epistemic sovereignty, yaitu memberikan ruang kepada masyarakat pemilik tradisi untuk menentukan bagaimana musik mereka didokumentasikan, diajarkan, dipentaskan, maupun dimanfaatkan secara ekonomi.

Selain itu, inovasi tetap diperbolehkan selama tidak menghilangkan identitas budaya dan manfaat ekonominya dibagikan secara adil kepada komunitas pelaku seni.

Relevan bagi Indonesia

Bagi Indonesia yang memiliki ribuan tradisi musik daerah, hasil penelitian ini menawarkan kerangka berpikir yang lebih menyeluruh.

Pelestarian angklung, gamelan, gondang Batak, sasando, kolintang, hingga berbagai musik tradisional Nusantara tidak cukup dilakukan melalui festival atau dokumentasi digital semata. Program pelestarian juga perlu memastikan adanya regenerasi pemain, keterlibatan masyarakat adat, perlindungan sumber daya alam, serta pengembangan pariwisata yang tetap menghormati nilai budaya.

Model terpadu yang diusulkan peneliti bahkan dikaitkan langsung dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan mengenai pendidikan berkualitas, kota dan komunitas berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi, serta aksi terhadap perubahan iklim.

Profil Penulis

Ahmad Arief Tarigan merupakan akademisi dari Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, dengan bidang keahlian etnomusikologi, musik tradisional, dan keberlanjutan budaya.

Heristina Dewi adalah akademisi Universitas Sumatera Utara yang menekuni kajian budaya, pelestarian warisan budaya, serta pendidikan seni.

Hubari Gulo merupakan akademisi Universitas Sumatera Utara yang memiliki minat penelitian pada etnomusikologi, budaya lokal, dan pengembangan warisan budaya takbenda.

Sumber Penelitian

Tarigan, A. A., Dewi, H., & Gulo, H. (2026). Ethnomusicology and Cultural Sustainability: Toward an Integrated Model for the Preservation of Traditional Music in the Era of Digitalization and Global Tourism. International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Vol. 4, No. 7, 543–556.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i7.29
URL: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas

Posting Komentar

0 Komentar