![]() |
| Illustration by Ai |
Penggunaan metode Earned Value Management (EVM) terbukti membantu mengendalikan biaya dan memantau kemajuan pembangunan Gedung Perpustakaan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara. Temuan ini dipublikasikan oleh Sherley Runtunuwu, Sudenroy Mentang, Dewi Astuti Baco, dan John T. Harahap dari Politeknik Negeri Manado dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) edisi Juni 2026. Penelitian ini penting karena menunjukkan bagaimana proyek konstruksi pemerintah dapat dipantau secara lebih akurat sehingga risiko pembengkakan biaya dan keterlambatan pekerjaan dapat dideteksi lebih awal.
Dalam dunia konstruksi, proyek sering menghadapi tantangan
berupa keterlambatan pekerjaan, perubahan biaya, hingga ketidaksesuaian antara
rencana dan pelaksanaan di lapangan. Kondisi tersebut dapat berdampak pada
meningkatnya biaya proyek dan menurunnya efisiensi pelaksanaan pembangunan.
Karena itu, pengawasan terhadap waktu dan biaya menjadi salah satu faktor
terpenting dalam keberhasilan sebuah proyek konstruksi.
Tim peneliti menjelaskan bahwa metode Earned Value
Management memungkinkan pengelola proyek menggabungkan pengukuran biaya,
jadwal, dan kemajuan pekerjaan dalam satu sistem evaluasi. Melalui pendekatan
ini, kondisi proyek dapat dianalisis secara berkala sehingga potensi masalah
dapat diketahui sebelum berkembang menjadi kendala yang lebih besar.
Menganalisis Proyek Perpustakaan Pemerintah Minahasa
Utara
Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan Gedung
Perpustakaan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara yang berlokasi di kawasan
Kantor Bupati Minahasa Utara, Airmadidi, Sulawesi Utara. Data penelitian
diperoleh melalui observasi lapangan, studi dokumen proyek, gambar perencanaan,
serta berbagai dokumen pendukung lainnya.
Metode EVM digunakan untuk membandingkan tiga komponen
utama, yaitu:
- Nilai
pekerjaan yang direncanakan.
- Nilai
pekerjaan yang telah selesai dikerjakan.
- Biaya
aktual yang telah dikeluarkan.
Melalui perbandingan ketiga indikator tersebut, peneliti
dapat mengevaluasi apakah proyek berjalan sesuai jadwal, mengalami
keterlambatan, atau justru lebih cepat dari rencana. Selain itu, metode ini
juga mampu memprediksi biaya dan waktu penyelesaian proyek secara lebih akurat.
Anggaran Awal Mencapai Rp9,47 Miliar
Hasil perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) menunjukkan
bahwa total biaya pembangunan gedung perpustakaan mencapai Rp9,47 miliar,
termasuk pajak. Proyek tersebut direncanakan selesai dalam waktu 32 minggu.
Namun setelah dianalisis menggunakan metode EVM, estimasi
biaya penyelesaian proyek diperkirakan hanya sekitar Rp8,10 miliar.
Dengan demikian terdapat selisih sekitar Rp1,38 miliar dibandingkan
hasil perhitungan anggaran awal.
Sementara itu, estimasi waktu penyelesaian proyek
berdasarkan metode EVM tetap menunjukkan durasi 32 minggu, sama dengan
jadwal yang telah direncanakan sebelumnya.
Biaya Sempat Melebihi Anggaran di Awal Proyek
Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah adanya
pembengkakan biaya pada tahap awal pembangunan. Pada lima minggu pertama, biaya
aktual yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan nilai pekerjaan yang berhasil
diselesaikan. Kondisi tersebut tercermin dari nilai Cost Variance (CV)
yang negatif.
Menurut peneliti, kondisi ini umum terjadi pada proyek
konstruksi karena banyak biaya awal yang harus dikeluarkan sebelum pekerjaan
fisik terlihat signifikan. Beberapa di antaranya meliputi mobilisasi peralatan,
persiapan lokasi proyek, penyediaan fasilitas kerja, pengadaan material, dan
berbagai biaya tidak langsung lainnya.
Meski demikian, situasi mulai berubah setelah minggu keenam.
Nilai CV menjadi positif hingga akhir periode pengamatan, yang menunjukkan
bahwa biaya aktual lebih rendah dibandingkan nilai pekerjaan yang berhasil
diselesaikan. Dengan kata lain, proyek mulai berjalan lebih efisien dari sisi
biaya.
Pada akhir pengamatan, nilai pekerjaan yang berhasil
diselesaikan mencapai sekitar Rp9,30 miliar, sementara biaya aktual yang
telah dikeluarkan sekitar Rp7,95 miliar. Selisih keduanya menghasilkan
efisiensi biaya lebih dari Rp1,35 miliar.
Efisien Secara Biaya, Namun Jadwal Tetap Perlu Diawasi
Walaupun kinerja biaya menunjukkan hasil yang baik,
penelitian menemukan bahwa nilai pekerjaan yang selesai masih sedikit lebih
rendah dibandingkan target yang direncanakan. Pada akhir periode evaluasi,
nilai pekerjaan yang direncanakan mencapai sekitar Rp9,47 miliar,
sedangkan nilai pekerjaan yang benar-benar terselesaikan berada di angka Rp9,30
miliar.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa proyek masih menghadapi
tekanan dari sisi jadwal. Dengan kata lain, efisiensi biaya tidak selalu
berarti proyek berjalan tepat waktu. Oleh karena itu, pengelola proyek tetap
perlu memantau kemajuan pekerjaan agar tidak terjadi keterlambatan pada tahap
akhir pembangunan.
Menurut para peneliti dari Politeknik Negeri Manado, hasil
ini menunjukkan bahwa EVM dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini bagi
manajer proyek. Melalui pemantauan rutin terhadap indikator biaya dan jadwal,
keputusan korektif dapat dilakukan lebih cepat sebelum masalah berkembang
menjadi lebih serius.
Manfaat bagi Dunia Konstruksi
Penelitian ini memberikan pelajaran penting bagi sektor
konstruksi, khususnya proyek-proyek pemerintah yang memiliki target waktu dan
anggaran yang ketat. Metode EVM memungkinkan pengambil keputusan memperoleh
gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi proyek dibandingkan hanya melihat
progres fisik atau laporan keuangan secara terpisah.
Selain membantu mengendalikan biaya, metode ini juga dapat
digunakan untuk memperkirakan kebutuhan dana hingga proyek selesai,
mengidentifikasi potensi keterlambatan, dan menentukan strategi percepatan
pekerjaan yang diperlukan. Hasil penelitian ini berpotensi menjadi referensi
bagi kontraktor, konsultan, pemerintah daerah, maupun pengelola proyek
konstruksi lainnya di Indonesia.
Profil Penulis
Sherley Runtunuwu merupakan akademisi dan peneliti
dari Politeknik Negeri Manado yang menekuni bidang manajemen konstruksi dan
pengendalian proyek.
Sudenroy Mentang adalah dosen dan peneliti Politeknik
Negeri Manado dengan fokus kajian pada teknik sipil, manajemen proyek, dan
evaluasi kinerja konstruksi.
Dewi Astuti Baco merupakan akademisi Politeknik
Negeri Manado yang aktif dalam penelitian terkait manajemen konstruksi dan
perencanaan biaya proyek.
John T. Harahap adalah peneliti Politeknik Negeri
Manado yang memiliki minat pada pengendalian proyek, analisis biaya, dan
manajemen pembangunan infrastruktur.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Time and Cost Control Using the
Earned Value Method in the Construction of the Minut District Government
Library Building
Penulis: Sherley Runtunuwu, Sudenroy Mentang, Dewi Astuti Baco, dan John
T. Harahap
Afiliasi: Politeknik Negeri Manado, Indonesia
Jurnal: Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA)
Volume & Edisi: Vol. 6 No. 6, Juni 2026
Halaman: 741–754
DOI: https://doi.org/10.55927/mudima.v6i6.68
Link Jurnal: https://journalmudima.my.id/index.php/mudima
Link Artikel: https://doi.org/10.55927/mudima.v6i6.68

0 Komentar