Mahasiswa Indonesia Dukung Slow Fashion, tetapi Harga dan Tren Masih Jadi Penghalang

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Bandung - Mahasiswa Indonesia memiliki kepedulian tinggi terhadap isu keberlanjutan lingkungan dan menyatakan dukungannya terhadap konsep slow fashion. Namun, sikap positif tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku belanja sehari-hari. Penelitian terbaru yang dilakukan Ramahda Nur Alika dan Dr. Atik Aprianingsih dari School of Business and Management, Institut Teknologi Bandung (ITB), yang dipublikasikan pada Juli 2026 di Formosa Journal of Science and Technology (FJST), menunjukkan bahwa kesenjangan tersebut bukan hanya dipengaruhi oleh keputusan individu, tetapi juga oleh sistem yang melibatkan pelaku industri, pemerintah, perguruan tinggi, hingga media sosial.

Temuan ini menjadi penting karena industri fesyen merupakan salah satu penyumbang utama kerusakan lingkungan global. Produksi pakaian yang terus meningkat telah menghasilkan jutaan ton limbah tekstil setiap tahun dan memperbesar emisi gas rumah kaca. Di Indonesia, konsumsi pakaian juga terus bertumbuh seiring berkembangnya merek-merek fast fashion, sehingga memperbesar tantangan dalam menciptakan pola konsumsi yang lebih berkelanjutan.

Menurut Alika dan Aprianingsih, sebagian besar mahasiswa sebenarnya memahami dampak lingkungan dari fast fashion. Mereka memiliki niat untuk membeli produk yang lebih ramah lingkungan, tetapi niat tersebut sering kali berubah ketika dihadapkan pada harga yang lebih mahal, tren mode yang cepat berganti, serta pengaruh media sosial.

Selama ini, banyak penelitian hanya melihat persoalan tersebut dari sisi psikologis konsumen. Penelitian dari ITB menawarkan sudut pandang berbeda dengan memandang persoalan ini sebagai masalah ekosistem yang melibatkan banyak pihak. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti mengidentifikasi hubungan antaraktor yang selama ini membuat perubahan perilaku menjadi sulit diwujudkan.

Untuk memahami persoalan secara menyeluruh, penelitian menggunakan Soft Systems Methodology (SSM), sebuah pendekatan kualitatif yang dirancang untuk mempelajari masalah sosial yang kompleks. Peneliti melibatkan berbagai pemangku kepentingan melalui wawancara semi-terstruktur, diskusi kelompok terarah, dan lokakarya partisipatif. Peserta terdiri atas mahasiswa, pengelola merek fesyen, pembuat kebijakan, pendidik, serta influencer media sosial. Hasil diskusi kemudian dianalisis untuk memetakan hubungan antarpihak, mengidentifikasi hambatan utama, dan merumuskan solusi yang dapat diterapkan secara bersama-sama.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenjangan antara sikap dan perilaku (attitude–behavior gap) muncul karena berbagai hambatan yang saling berkaitan.

Beberapa faktor utama yang ditemukan meliputi:

  • Harga produk slow fashion masih relatif tinggi dibandingkan produk fast fashion.
  • Pengaruh tren media sosial dan budaya mengikuti mode mendorong pembelian pakaian secara impulsif.
  • Kebijakan pemerintah terkait fesyen berkelanjutan masih belum kuat dan implementasinya belum optimal.
  • Materi mengenai keberlanjutan di perguruan tinggi belum menjadi bagian utama dalam pembelajaran.
  • Merek fesyen masih menghadapi tantangan untuk menyediakan produk berkelanjutan dengan harga yang kompetitif.

Penelitian juga menemukan bahwa persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan kesadaran konsumen. Diperlukan perubahan pada seluruh ekosistem agar pilihan membeli produk berkelanjutan menjadi lebih mudah, lebih menarik, dan lebih terjangkau.

Berdasarkan hasil lokakarya bersama para pemangku kepentingan, peneliti mengusulkan beberapa langkah strategis. Pertama, membentuk konsorsium lintas sektor yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, influencer, dan masyarakat. Kedua, memperkuat pendidikan mengenai keberlanjutan melalui kegiatan yang bersifat praktis, bukan hanya teori di ruang kelas. Ketiga, menciptakan ruang kolaborasi antara mahasiswa dan merek fesyen untuk mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda. Keempat, memanfaatkan influencer sebagai agen perubahan yang mempromosikan gaya hidup berkelanjutan, bukan sekadar mengikuti tren konsumtif. Terakhir, pemerintah perlu memperkuat regulasi sekaligus memberikan insentif yang mendukung berkembangnya industri slow fashion.

Menurut Ramahda Nur Alika dan Atik Aprianingsih, perubahan menuju konsumsi fesyen yang lebih berkelanjutan hanya dapat terjadi apabila seluruh pihak bekerja secara terkoordinasi. Mereka menekankan bahwa mahasiswa tidak dapat dibebani tanggung jawab sendirian ketika lingkungan sosial, ekonomi, dan kebijakan masih mendorong konsumsi fast fashion. Sebaliknya, ekosistem yang mendukung akan meningkatkan peluang generasi muda untuk menerapkan nilai-nilai keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan penelitian ini memiliki implikasi luas. Bagi pemerintah, hasilnya dapat menjadi dasar dalam merancang kebijakan ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah tekstil. Bagi dunia pendidikan, penelitian ini menunjukkan pentingnya integrasi pendidikan keberlanjutan dalam kurikulum. Industri fesyen memperoleh masukan mengenai perlunya inovasi produk yang lebih terjangkau tanpa mengurangi nilai keberlanjutan. Sementara itu, media sosial dan para kreator konten memiliki peluang besar untuk membentuk norma baru yang mendorong konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Selain memberikan kontribusi praktis, penelitian ini juga memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan. Penulis mengintegrasikan Theory of Planned Behavior, Service-Dominant Logic, dan Soft Systems Methodology untuk menjelaskan bahwa kesenjangan antara sikap dan perilaku bukan hanya persoalan individu, tetapi merupakan hasil interaksi berbagai aktor dalam sistem layanan fesyen. Pendekatan tersebut menawarkan perspektif baru dalam memahami tantangan keberlanjutan di negara berkembang seperti Indonesia.

Profil Penulis

Ramahda Nur Alika merupakan peneliti dari School of Business and Management, Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berfokus pada isu keberlanjutan, perilaku konsumen, dan transformasi sistem layanan.

Dr. Atik Aprianingsih adalah dosen dan peneliti di School of Business and Management, Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan bidang keahlian pemasaran, perilaku konsumen, inovasi bisnis, dan strategi keberlanjutan.

Sumber Penelitian

Alika, R. N., & Aprianingsih, A. (2026). Understanding Indonesian College Students' View on Slow Fashion: "It is Good, But I am Not Paying for It". Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5 No. 7, 2026. DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i7.117. URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar