Artikel berjudul “The Influence of Role Conflict on Organizational Commitment Through Job Satisfaction (A Case Study of Teaching Staff at SMKN 1 Pasuruan)” diterbitkan dalam International Journal of Advanced Science Research (IJASR) Volume 4 Nomor 7 Tahun 2026. Kajian ini menunjukkan bahwa pengelolaan beban kerja dan lingkungan kerja guru menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan.
Guru merupakan sumber daya utama dalam organisasi pendidikan. Keberhasilan sekolah dalam menghasilkan lulusan berkualitas sangat dipengaruhi oleh kinerja dan komitmen guru. Guru yang memiliki komitmen organisasi tinggi cenderung menunjukkan loyalitas, rasa memiliki terhadap sekolah, serta kemauan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi perkembangan institusi.
Namun, dalam praktiknya guru tidak hanya menjalankan tugas mengajar di kelas. Mereka juga menghadapi berbagai tanggung jawab tambahan seperti administrasi pembelajaran, pengembangan kurikulum, pendampingan siswa, kegiatan ekstrakurikuler, program digitalisasi pendidikan, pelatihan profesional, hingga berbagai kebijakan pendidikan pemerintah.
Banyaknya tuntutan tersebut dapat menyebabkan konflik peran, yaitu kondisi ketika seseorang menghadapi tuntutan pekerjaan yang saling bertentangan dan sulit dipenuhi secara bersamaan.
Beban Tugas Guru yang Semakin Kompleks
Penelitian ini menjelaskan bahwa guru sekolah menengah kejuruan (SMK) menghadapi tantangan yang lebih kompleks karena harus menyeimbangkan tugas akademik dengan kebutuhan pendidikan vokasi.
Di SMKN 1 Pasuruan, guru tidak hanya bertanggung jawab dalam proses pembelajaran, tetapi juga terlibat dalam penyusunan materi praktik, pembimbingan kegiatan praktik kerja lapangan (PKL), koordinasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), pelaksanaan sertifikasi kompetensi, pengembangan kurikulum, serta berbagai pekerjaan administratif.
Kondisi tersebut dapat memunculkan tekanan psikologis apabila pembagian tugas, komunikasi organisasi, dan dukungan manajemen belum berjalan secara optimal.
Menurut Sangadji, konflik peran dapat memengaruhi kenyamanan kerja guru dan berdampak pada sikap mereka terhadap organisasi. Ketika konflik peran terus meningkat, kepuasan kerja dapat menurun sehingga berpotensi melemahkan komitmen guru terhadap sekolah.
Penelitian Menguji Hubungan Konflik Peran, Kepuasan Kerja, dan Komitmen Organisasi
Penelitian ini menggunakan pendekatan asosiatif kausal untuk mengetahui hubungan antara konflik peran, kepuasan kerja, dan komitmen organisasi pada tenaga pendidik SMKN 1 Pasuruan.
Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner tertutup yang diberikan kepada responden. Populasi penelitian terdiri dari 75 orang, dengan jumlah sampel sebanyak 45 guru berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin.
Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis jalur (path analysis) untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung antarvariabel.
Penelitian menganalisis tiga hubungan utama:
pengaruh konflik peran terhadap kepuasan kerja;
pengaruh kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi;
pengaruh konflik peran terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja.
Konflik Peran Terbukti Menurunkan Kepuasan Kerja Guru
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik peran memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kepuasan kerja.
Analisis statistik menghasilkan nilai koefisien sebesar -0,634 dengan tingkat signifikansi 0,000. Angka tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi konflik peran yang dialami guru, semakin rendah tingkat kepuasan kerja mereka.
Konflik peran dapat terjadi ketika guru menerima tuntutan pekerjaan yang tidak sejalan, seperti kewajiban mengajar, menyelesaikan administrasi, mengikuti program sekolah, dan memenuhi berbagai target organisasi dalam waktu yang terbatas.
Penelitian juga menunjukkan bahwa 80% responden menilai konflik peran berada pada kategori sedang. Artinya, sebagian besar guru mengalami tekanan akibat berbagai tuntutan pekerjaan, meskipun belum berada pada tingkat yang sangat tinggi.
Kepuasan Kerja Memperkuat Komitmen Organisasi Guru
Selain konflik peran, penelitian menemukan bahwa kepuasan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi.
Hasil analisis menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,340 dengan tingkat signifikansi 0,026. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kepuasan kerja guru, semakin kuat pula komitmen mereka terhadap sekolah.
Guru yang merasa nyaman dengan pekerjaannya, mendapatkan dukungan dari pimpinan, memiliki hubungan baik dengan rekan kerja, serta bekerja dalam lingkungan yang positif cenderung memiliki rasa keterikatan yang lebih kuat terhadap organisasi.
Sebanyak 68,89% responden menyatakan bahwa tingkat kepuasan kerja berada pada kategori sedang, sementara persentase yang sama menunjukkan tingkat komitmen organisasi berada pada kategori tinggi.
Kepuasan Kerja Menjadi Penghubung Konflik Peran dan Komitmen
Penelitian ini juga menemukan bahwa kepuasan kerja berperan sebagai variabel mediasi antara konflik peran dan komitmen organisasi.
Pengaruh tidak langsung konflik peran terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja diperoleh sebesar -0,216. Temuan ini menunjukkan bahwa konflik peran tidak hanya berdampak langsung terhadap komitmen guru, tetapi juga bekerja melalui penurunan kepuasan kerja.
Ketika guru mengalami tekanan akibat konflik berbagai tuntutan pekerjaan, tingkat kepuasan mereka dapat menurun. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi loyalitas, rasa memiliki, dan keterikatan mereka terhadap sekolah.
Rekomendasi untuk Meningkatkan Komitmen Guru
Berdasarkan hasil penelitian, Sangadji merekomendasikan agar SMKN 1 Pasuruan mengurangi faktor-faktor penyebab konflik peran.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperbaiki sistem pembagian tugas dan koordinasi antarpendidik. Apabila seorang guru tidak dapat menjalankan tugas mengajar karena kondisi tertentu, sekolah dapat menerapkan mekanisme penggantian yang lebih terstruktur melalui pemberian catatan materi, tugas siswa, serta kerja sama antar guru dengan bidang mata pelajaran yang sama.
Selain itu, sekolah perlu meningkatkan faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan kerja guru. Peningkatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek finansial, tetapi juga mencakup hubungan dengan pimpinan, komunikasi organisasi, penghargaan terhadap kinerja, lingkungan kerja, serta kebijakan sekolah yang mendukung guru.
Lingkungan kerja yang positif akan membuat guru merasa dihargai dan didukung sehingga mampu meningkatkan komitmen mereka terhadap organisasi.
Dampak bagi Manajemen Pendidikan
Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengelola sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan. Peningkatan komitmen guru tidak hanya bergantung pada evaluasi kinerja, tetapi juga pada kemampuan organisasi dalam mengelola beban kerja dan menciptakan kondisi kerja yang sehat.
Dengan mengurangi konflik peran dan meningkatkan kepuasan kerja, sekolah dapat membangun lingkungan profesional yang mendukung loyalitas guru serta peningkatan kualitas pendidikan.
Kajian ini juga memperkuat penelitian di bidang manajemen sumber daya manusia, khususnya mengenai perilaku organisasi dalam sektor pendidikan.
Profil Penulis
Etta Mamang Sangadji merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas PGRI Wiranegara Pasuruan, Indonesia. Bidang kajian yang ditekuni meliputi manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, kepuasan kerja, komitmen organisasi, dan manajemen pendidikan.
Sumber Penelitian
DOI: https://doi.org/10.59890/ijasr.v4i7.279
E-ISSN: 3025-7670
Website Jurnal: https://nvlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijasr/index
0 Komentar