Sebuah penelitian kolaboratif yang dipimpin oleh Prof. Dr. Nurwati, S.E., M.Si. bersama tim peneliti dari Universitas Halu Oleo menemukan anomali mengejutkan dalam sistem birokrasi pemerintahan Indonesia, di mana tingkat kecerdasan emosional yang tinggi justru berdampak negatif terhadap kinerja kerja pegawai
Selama beberapa dekade terakhir, dunia manajemen sumber daya manusia sangat mendewakan kecerdasan emosional sebagai penentu utama kesuksesan karir individu di berbagai sektor industrial
Metodologi Berbasis Sensus yang Ketat
Guna mendapatkan potret yang akurat dan bebas dari kesalahan pengambilan sampel, tim peneliti Universitas Halu Oleo menerapkan metode sensus atau sampel jenuh
Tiga Temuan Utama Riset: Sebuah Anomali Birokrasi
Melalui pemodelan statistik yang telah memenuhi uji asumsi klasik termasuk normalitas, homoskedastisitas, dan bebas dari multikolinearitas, penelitian ini merumuskan tiga temuan esensial
- Program Pelatihan Berpengaruh Positif Signifikan: Setiap intervensi pelatihan terstruktur terbukti secara nyata meningkatkan kecakapan spesifik pegawai dalam menuntaskan tugas-tugas administratif dengan nilai koefisien regresi beta sebesar 0,312 serta nilai signifikansi p=0,002
. - Pendidikan Formal Jadi Prediktor Terkuat: Latar belakang pendidikan tinggi membekali pegawai dengan kerangka berpikir analitis yang komprehensif untuk menerjemahkan kebijakan regulasi publik yang rumit. Variabel ini mencatat pengaruh positif terbesar dalam model riset dengan nilai beta 0,341 dan signifikansi p=0,001
. - Dampak Negatif Kecerdasan Emosional: Secara kontradiktif dengan teori umum, kecerdasan emosional justru memperlihatkan pengaruh negatif yang signifikan terhadap kinerja dengan nilai beta -0,287 dan nilai p=0,02
.
Membongkar Alasan Mengapa Respons Emosional Mengganggu Kinerja
Fenomena unik ini dijelaskan secara mendalam oleh para peneliti menggunakan kacamata teori keselarasan individu-pekerjaan (person-job fit theory)
Pegawai dengan tingkat kecerdasan emosional yang terlampau tinggi cenderung mengalokasikan energi kognitif dan waktu mereka secara berlebihan untuk menganalisis dinamika interpersonal, menjaga perasaan rekan kerja, atau bersikap fleksibel secara relasional
Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi Praktis bagi Manajemen ASN
Hasil studi ini membawa implikasi praktis yang besar bagi Badan Kepegawaian Negara dan para praktisi manajemen sumber daya manusia di sektor publik
Pembenahan kurikulum rekrutmen dan promosi jabatan harus tetap menempatkan kualifikasi akademik sebagai pilar utama
PROFIL TIM PENULIS RISET
- Prof. Dr. Nurwati, S.E., M.Si. – Guru Besar Manajemen Sumber Daya Manusia, Universitas Halu Oleo. Pakar dalam kajian perilaku organisasi, kinerja sektor publik, dan pengembangan modal manusia di kawasan Indonesia Timur
. - Welis Raldianingrat, Agustin, Artha Yuni Sucitra, Maulana Akbar, Jabrudin – Tim Peneliti Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Kebijakan Publik, Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara
.
SPESIFIKASI SUMBER JURNAL ILMIAH
- Judul Artikel: The Effect of Training, Education, and Emotional Intelligence on Employee Work Performance: Evidence from a Government Religious Institution in Southeast Sulawesi, Indonesia
- Penulis: Nurwati, Welis Raldianingrat, Agustin, Artha Yuni Sucitra, Maulana Akbar, Jabrudin
- Jurnal Publikasi: Multitech Journal of Science and Technology (MJST), Vol. 3, No. 6, Tahun 2026, Halaman 723-736
. - Tautan Resmi (DOI):
https://doi.org/10.59890/mjst.v3i6.275 URL Resmi :https://slamultitechpublisher.my.id/index.php/mjst/index
0 Komentar