Kecerdasan Emosional Turunkan Kinerja Pegawai Lembaga Agama di Sulawesi Tenggara, Pendidikan dan Pelatihan Jadi Kunci

Ilustrasi by AI

Sebuah penelitian kolaboratif yang dipimpin oleh Prof. Dr. Nurwati, S.E., M.Si. bersama tim peneliti dari Universitas Halu Oleo menemukan anomali mengejutkan dalam sistem birokrasi pemerintahan Indonesia, di mana tingkat kecerdasan emosional yang tinggi justru berdampak negatif terhadap kinerja kerja pegawai. Studi kuantitatif yang dilakukan di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara ini secara resmi dipublikasikan dalam Multitech Journal of Science and Technology (MJST) untuk siklus Juni 2026. Hasil riset ini menegaskan bahwa dalam lingkungan kerja publik yang kaku dan sarat prosedur, penguatan kompetensi teknis melalui pelatihan dan jenjang pendidikan formal jauh lebih mendesak guna mendongkrak efektivitas pelayanan masyarakat.

Selama beberapa dekade terakhir, dunia manajemen sumber daya manusia sangat mendewakan kecerdasan emosional sebagai penentu utama kesuksesan karir individu di berbagai sektor industrial. Namun, dinamika operasional institusi pelayan publik sering kali memiliki karakteristik tersendiri yang sangat berbeda dengan sektor swasta. Kementerian Agama Kabupaten Konawe mengemban tanggung jawab administratif yang masif dalam menyelenggarakan koordinasi keagamaan dan memfasilitasi kerukunan antarumat beragama pada komunitas multikultural. Tuntutan publik akan transparansi pelayanan serta akuntabilitas administrasi memaksa lembaga ini mengoptimalkan setiap aspek kompetensi personelnya agar mampu bekerja secara cepat, presisi, dan sesuai dengan regulasi hukum yang berlaku.

Metodologi Berbasis Sensus yang Ketat

Guna mendapatkan potret yang akurat dan bebas dari kesalahan pengambilan sampel, tim peneliti Universitas Halu Oleo menerapkan metode sensus atau sampel jenuh. Seluruh pegawai negeri sipil tetap di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Konawe, yang berjumlah total 50 orang, dilibatkan penuh sebagai responden dalam pengisian kuesioner terstruktur berskala Likert. Pendekatan kuantitatif dengan desain survei potong-lintang (cross-sectional) ini dianalisis menggunakan metode regresi linear berganda melalui peranti lunak statistik SPSS versi 22. Validitas dan reliabilitas instrumen diuji secara ketat, dengan nilai koefisien Cronbach's alpha untuk seluruh variabel utama melampaui ambang batas standar, sehingga memastikan data yang dikumpulkan sah untuk penarikan kesimpulan ilmiah.

Tiga Temuan Utama Riset: Sebuah Anomali Birokrasi

Melalui pemodelan statistik yang telah memenuhi uji asumsi klasik termasuk normalitas, homoskedastisitas, dan bebas dari multikolinearitas, penelitian ini merumuskan tiga temuan esensial:

  1. Program Pelatihan Berpengaruh Positif Signifikan: Setiap intervensi pelatihan terstruktur terbukti secara nyata meningkatkan kecakapan spesifik pegawai dalam menuntaskan tugas-tugas administratif dengan nilai koefisien regresi beta sebesar 0,312 serta nilai signifikansi p=0,002.
  2. Pendidikan Formal Jadi Prediktor Terkuat: Latar belakang pendidikan tinggi membekali pegawai dengan kerangka berpikir analitis yang komprehensif untuk menerjemahkan kebijakan regulasi publik yang rumit. Variabel ini mencatat pengaruh positif terbesar dalam model riset dengan nilai beta 0,341 dan signifikansi p=0,001.
  3. Dampak Negatif Kecerdasan Emosional: Secara kontradiktif dengan teori umum, kecerdasan emosional justru memperlihatkan pengaruh negatif yang signifikan terhadap kinerja dengan nilai beta -0,287 dan nilai p=0,02.

Membongkar Alasan Mengapa Respons Emosional Mengganggu Kinerja

Fenomena unik ini dijelaskan secara mendalam oleh para peneliti menggunakan kacamata teori keselarasan individu-pekerjaan (person-job fit theory). Struktur birokrasi pemerintahan di Indonesia secara inheren diatur oleh kepatuhan prosedural, standardisasi dokumen yang ketat, serta rantai komando hierarkis yang kaku. Dalam ekosistem kerja seperti ini, presisi teknis dan ketaatan penuh pada aturan regulasi adalah parameter performa utama.

Pegawai dengan tingkat kecerdasan emosional yang terlampau tinggi cenderung mengalokasikan energi kognitif dan waktu mereka secara berlebihan untuk menganalisis dinamika interpersonal, menjaga perasaan rekan kerja, atau bersikap fleksibel secara relasional. Akibatnya, fokus perhatian mereka terhadap ketepatan prosedur administrasi menjadi terdistraksi, yang memicu penurunan efisiensi kerja.

Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi Praktis bagi Manajemen ASN

Hasil studi ini membawa implikasi praktis yang besar bagi Badan Kepegawaian Negara dan para praktisi manajemen sumber daya manusia di sektor publik. Investasi anggaran belanja institusi untuk pengembangan pegawai disarankan agar dialokasikan secara prioritas pada program pelatihan teknis fungsional serta pemberian beasiswa pendidikan formal, bukan untuk pelatihan kecerdasan emosional secara generik.

Pembenahan kurikulum rekrutmen dan promosi jabatan harus tetap menempatkan kualifikasi akademik sebagai pilar utama. Aspek kecerdasan emosional tetap memiliki nilai penting, namun penerapannya harus dikalibrasi secara selektif dan dibatasi hanya bagi personel yang menempati posisi kepemimpinan strategis atau peran yang membutuhkan kerja emosional intensif.

PROFIL TIM PENULIS RISET

  • Prof. Dr. Nurwati, S.E., M.Si. – Guru Besar Manajemen Sumber Daya Manusia, Universitas Halu Oleo. Pakar dalam kajian perilaku organisasi, kinerja sektor publik, dan pengembangan modal manusia di kawasan Indonesia Timur.
  • Welis Raldianingrat, Agustin, Artha Yuni Sucitra, Maulana Akbar, Jabrudin – Tim Peneliti Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Kebijakan Publik, Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara.

SPESIFIKASI SUMBER JURNAL ILMIAH

  • Judul Artikel: The Effect of Training, Education, and Emotional Intelligence on Employee Work Performance: Evidence from a Government Religious Institution in Southeast Sulawesi, Indonesia
  • Penulis: Nurwati, Welis Raldianingrat, Agustin, Artha Yuni Sucitra, Maulana Akbar, Jabrudin
  • Jurnal Publikasi: Multitech Journal of Science and Technology (MJST), Vol. 3, No. 6, Tahun 2026, Halaman 723-736.
  • Tautan Resmi (DOI): https://doi.org/10.59890/mjst.v3i6.275
  • URL Resmi :https://slamultitechpublisher.my.id/index.php/mjst/index

Posting Komentar

0 Komentar