Kolaborasi Penta Helix Perkuat Desa Wisata Pupus, Jadi Model Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, masyarakat, pemerintah, dan media terbukti mampu memperkuat pengelolaan Desa Wisata Pupus di Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Maulana Wulida, Agus Sukristyanto, dan Endang Indartuti dari Program Studi Magister Ilmu Administrasi Publik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 ini menunjukkan bahwa sinergi lima unsur atau Penta Helix mampu mendorong pembangunan pariwisata desa secara lebih berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Desa Pupus dikenal memiliki potensi wisata alam dan agrowisata yang besar, mulai dari Mloko Sewu, Mloko Jajar, Air Terjun Selorejo, hingga produk unggulan seperti gula aren, kopi lokal, porang, dan susu kambing Etawa. Bahkan pada tahun 2025 desa ini berhasil meraih penghargaan dalam Festival Dewi Cemara tingkat Provinsi Jawa Timur. Namun, di balik potensi tersebut masih terdapat berbagai tantangan, terutama rendahnya kualitas sumber daya manusia, keterbatasan infrastruktur jalan, dan dominasi mata pencaharian masyarakat sebagai petani tradisional. Kondisi tersebut membuat pengelolaan wisata belum berkembang secara optimal.

Berangkat dari kondisi tersebut, para peneliti mengkaji bagaimana model kolaborasi Penta Helix diterapkan dalam pengelolaan Desa Wisata Pupus serta faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat implementasinya. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, serta dokumentasi. Informan penelitian berasal dari unsur akademisi, pemerintah desa, pelaku UMKM, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengelola media desa, hingga Perhutani. Seluruh data kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif dan diverifikasi melalui triangulasi sumber serta metode.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap unsur Penta Helix memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun ekosistem wisata desa.

Akademisi berkontribusi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), pendampingan UMKM, pelatihan manajemen usaha, inovasi kemasan produk, hingga penyelenggaraan forum diskusi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. Kehadiran perguruan tinggi membantu meningkatkan kapasitas masyarakat agar lebih siap mengelola destinasi wisata secara profesional.

Sektor bisnis dijalankan oleh pelaku UMKM yang mengembangkan produk khas Desa Pupus, seperti gula aren, kopi lokal, susu kambing Etawa, dan madu. Menariknya, produk-produk tersebut tidak hanya dijual sebagai oleh-oleh, tetapi juga diintegrasikan menjadi atraksi wisata edukasi. Wisatawan dapat melihat secara langsung proses penyadapan nira, pembuatan gula aren, hingga pemerahan susu kambing. Strategi ini menciptakan nilai tambah karena wisatawan memperoleh pengalaman sekaligus membeli produk lokal.

Peran masyarakat juga menjadi fondasi utama keberhasilan desa wisata. Melalui BUMDes, Pokdarwis, dan Karang Taruna, masyarakat mengelola paket wisata, homestay, pertunjukan budaya, hingga kegiatan operasional sehari-hari. Tingginya partisipasi warga menciptakan rasa memiliki terhadap desa wisata sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.

Sementara itu, pemerintah menjalankan fungsi sebagai regulator sekaligus fasilitator. Salah satu langkah penting adalah diterbitkannya Peraturan Desa Nomor 5 Tahun 2025 tentang Desa Wisata sebagai dasar hukum pengelolaan wisata. Pemerintah juga memberikan bantuan peralatan produksi bagi UMKM, memperbaiki infrastruktur jalan menuju lokasi wisata, menyediakan pendampingan, serta menjaga kelestarian kawasan hutan melalui kerja sama dengan Perhutani.

Peran media tidak kalah penting. Promosi dilakukan secara mandiri oleh pemuda desa melalui akun Instagram @dewatapupus dan situs resmi desa wisata. Konten digital yang menampilkan panorama alam, budaya lokal, dan aktivitas wisata berhasil memperluas jangkauan promosi hingga menarik wisatawan dari luar daerah bahkan mancanegara. Penelitian menyebutkan bahwa media digital menjadi ujung tombak pemasaran Desa Wisata Pupus di era digital.

Meski demikian, penelitian ini juga menemukan sejumlah hambatan yang masih perlu diatasi agar pengelolaan desa wisata semakin optimal. Hambatan tersebut meliputi:

  • Rendahnya partisipasi sebagian masyarakat dan generasi muda.
  • Kualitas sumber daya manusia yang masih perlu ditingkatkan.
  • Infrastruktur jalan menuju desa wisata yang belum memadai.
  • Produk wisata edukasi tertentu masih bergantung pada musim, seperti produksi gula aren.

Sebaliknya, terdapat sejumlah faktor yang menjadi kekuatan utama pengembangan Desa Wisata Pupus, yaitu:

  • Adanya Peraturan Desa Nomor 5 Tahun 2025 sebagai payung hukum.
  • Koordinasi dan komunikasi intensif antara pemerintah desa, BUMDes, dan Pokdarwis.
  • Pendampingan berkelanjutan dari pemerintah daerah, akademisi, serta lembaga pendamping.
  • Pemanfaatan media sosial dan platform digital yang semakin efektif dalam promosi wisata.

Menurut para peneliti, model Penta Helix telah membuktikan bahwa pembangunan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah atau masyarakat semata. Sinergi seluruh pemangku kepentingan mampu memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas layanan wisata, memperluas pemasaran, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa. Namun, keberhasilan tersebut tetap memerlukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur yang lebih baik, serta inovasi produk agar desa wisata tidak bergantung pada musim tertentu.

Temuan ini memberikan gambaran bahwa model kolaborasi Penta Helix dapat menjadi contoh bagi desa wisata lain di Indonesia yang ingin mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat secara berkelanjutan. Dengan melibatkan akademisi, pelaku usaha, pemerintah, komunitas, dan media dalam satu ekosistem yang terintegrasi, desa memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal.

Profil Penulis

Maulana Wulida merupakan mahasiswa Program Magister Ilmu Administrasi Publik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, yang menaruh perhatian pada tata kelola pemerintahan, kolaborasi publik, dan pengembangan desa wisata.

Agus Sukristyanto merupakan akademisi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang memiliki keahlian di bidang administrasi publik, kebijakan publik, dan tata kelola pemerintahan kolaboratif.

Endang Indartuti adalah dosen Program Magister Ilmu Administrasi Publik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan fokus kajian administrasi publik, pembangunan daerah, dan manajemen sektor publik. Informasi profil keahlian dalam artikel terbatas pada afiliasi penulis.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: The Penta Helix Collaboration Model in Village Tourism Management (A Study on Pupus Village, Ngebel District, Ponorogo Regency)

Penulis: Maulana Wulida, Agus Sukristyanto, Endang Indartuti

Jurnal: International Journal of Sustainability in Research (IJSR)

Volume: 4, Nomor 4

Tahun: 2026

DOI: https://doi.org/10.59890/ijsr.v4i4.6

Posting Komentar

0 Komentar