![]() |
| Illustration by Ai |
Gedung sekolah dan kampus yang aman, nyaman, dan berfungsi baik merupakan faktor penting dalam mendukung proses belajar. Namun, banyak institusi pendidikan masih mengandalkan perawatan reaktif, yaitu memperbaiki kerusakan setelah muncul keluhan atau ketika kerusakan sudah terlihat parah. Untuk menjawab tantangan tersebut, Geertje Efraty Kandiyoh, Sandri Linna Sengkey, Reiner W. Tampi, dan Sherley Runtunuwu dari Politeknik Negeri Manado mengembangkan sebuah kerangka konseptual yang mengintegrasikan kondisi fisik bangunan dengan tingkat risiko pemeliharaan. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada Juni 2026 di Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) dan menawarkan pendekatan baru dalam menentukan prioritas perawatan gedung pendidikan.
Penelitian ini menjadi penting karena bangunan pendidikan tidak hanya
digunakan untuk kegiatan belajar di kelas, tetapi juga untuk laboratorium,
bengkel praktik, ruang administrasi, hingga fasilitas layanan mahasiswa.
Kerusakan yang tidak ditangani secara sistematis dapat mengganggu aktivitas
pendidikan, meningkatkan biaya perbaikan, serta menimbulkan risiko keselamatan
bagi pengguna bangunan.
Menurut para penulis, keterbatasan anggaran, waktu, tenaga teknis, dan
data kondisi bangunan sering membuat pengelola fasilitas mengambil keputusan
berdasarkan keluhan pengguna atau kerusakan yang tampak secara visual. Padahal,
tidak semua kerusakan memiliki tingkat risiko yang sama. Retakan kecil pada
dinding misalnya, tidak selalu lebih mendesak dibandingkan kabel listrik yang
terbuka atau jalur evakuasi yang terhalang.
Menyatukan Kondisi Bangunan dan Risiko Pemeliharaan
Penelitian ini menggunakan metode tinjauan konseptual dengan
menganalisis berbagai literatur ilmiah, regulasi pemeliharaan bangunan, serta
kajian manajemen fasilitas yang diterbitkan antara tahun 2015 hingga 2025. Dari
sekitar 45 dokumen yang ditemukan, sebanyak 22 sumber dipilih sebagai dasar
utama penyusunan kerangka konseptual.
Tim peneliti kemudian mengelompokkan elemen bangunan pendidikan ke dalam
beberapa kategori utama, yaitu:
- Struktur
bangunan
- Arsitektur
- Atap
- Drainase
- Sistem
mekanikal, elektrikal, dan perpipaan (MEP)
- Sanitasi
- Fasilitas
keselamatan
- Fungsi ruang
Masing-masing elemen dinilai berdasarkan indikator kondisi yang dapat
diamati secara visual, seperti retakan, kebocoran, korosi, kelembapan, saluran
tersumbat, kabel terbuka, atau fasilitas keselamatan yang tidak tersedia.
Selain kondisi fisik, penelitian ini juga memperkenalkan indikator
risiko pemeliharaan yang mempertimbangkan dampak apabila kerusakan tidak segera
ditangani. Pendekatan ini dianggap lebih komprehensif dibandingkan metode yang
hanya menilai tingkat kerusakan fisik bangunan.
Enam Risiko Utama yang Menentukan Prioritas
Kerangka yang dikembangkan mengidentifikasi enam dimensi risiko utama
yang harus diperhatikan pengelola gedung pendidikan:
- Keselamatan
pengguna
- Kabel listrik
terbuka
- Plafon
berisiko jatuh
- Lantai licin
- Jalur
evakuasi terhalang
- Fungsi
pendidikan
- Ruang kelas
tidak dapat digunakan
- Laboratorium
terganggu
- Sistem
pencahayaan tidak berfungsi
- Biaya
- Kerusakan
kecil yang berpotensi menimbulkan biaya lebih besar jika ditunda
- Kenyamanan
dan kesehatan
- Ventilasi
buruk
- Jamur
- Ruangan
lembap
- Bau toilet
- Operasional
- Gangguan
akses ruang
- Relokasi
aktivitas pembelajaran
- Keterlambatan
layanan
- Reputasi
institusi
- Kondisi
bangunan yang buruk
- Dokumentasi
pemeliharaan yang lemah
Peneliti menegaskan bahwa aspek keselamatan harus menjadi prioritas
utama karena kegagalan komponen bangunan dapat langsung berdampak pada pengguna
dan keberlangsungan kegiatan pendidikan.
Rumus Sederhana untuk Menentukan Prioritas
Salah satu kontribusi utama penelitian ini adalah pengembangan matriks
kondisi-risiko yang menggabungkan tingkat kerusakan fisik dengan tingkat risiko
yang ditimbulkannya. Dalam model ini, skor prioritas dihitung melalui perkalian
antara skor kondisi dan skor risiko.
Skor Prioritas = Skor Kondisi × Skor Risiko
Kedua skor menggunakan skala 1 hingga 5. Dengan cara ini, elemen
bangunan yang memiliki kondisi buruk sekaligus risiko tinggi akan otomatis
memperoleh prioritas tertinggi untuk diperbaiki.
Penelitian juga mengusulkan lima kategori prioritas pemeliharaan:
- Skor 1–5 :
Prioritas rendah
- Skor 6–10 :
Prioritas sedang
- Skor 11–15 :
Prioritas tinggi
- Skor 16–20 :
Prioritas sangat tinggi
- Skor 21–25 :
Prioritas kritis dan membutuhkan tindakan darurat
Kategori ini membantu pengelola fasilitas menentukan tindakan yang
paling mendesak ketika sumber daya terbatas.
Manfaat untuk Sekolah dan Kampus
Dalam matriks yang dikembangkan, beberapa komponen memperoleh perhatian
khusus karena berhubungan langsung dengan keselamatan dan keberlangsungan
aktivitas pendidikan. Sistem kelistrikan, fasilitas keselamatan, atap,
sanitasi, dan drainase termasuk elemen yang sering membutuhkan tindakan segera
ketika mengalami kerusakan. Sebaliknya, kerusakan yang bersifat estetis seperti
cat mengelupas dapat ditempatkan pada prioritas yang lebih rendah selama tidak
menimbulkan risiko lanjutan.
Menurut tim peneliti, kerangka ini dapat diterjemahkan menjadi berbagai
instrumen praktis seperti formulir identitas bangunan, daftar periksa kondisi
fisik, formulir penilaian risiko, rubrik skor kerusakan, hingga matriks
prioritas pemeliharaan. Instrumen tersebut dapat membantu teknisi maupun
manajer fasilitas mengambil keputusan yang lebih objektif dan terdokumentasi.
Lebih jauh lagi, pendekatan ini berpotensi membantu institusi pendidikan
menyusun program pemeliharaan tahunan, memperkirakan kebutuhan anggaran, dan
mengurangi pemborosan sumber daya. Perbaikan tidak lagi dilakukan berdasarkan
keluhan semata, melainkan berdasarkan tingkat urgensi dan risiko yang nyata.
Kerangka ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),
khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas.
Sherley Runtunuwu dan tim menyimpulkan bahwa keputusan pemeliharaan
bangunan pendidikan seharusnya tidak hanya mempertimbangkan tingkat kerusakan
fisik, tetapi juga konsekuensi yang dapat muncul apabila perbaikan ditunda.
Dengan menggabungkan kedua aspek tersebut, pengelola sekolah dan kampus dapat
mengidentifikasi bagian bangunan yang paling membutuhkan perhatian secara lebih
cepat dan akurat.
Profil Penulis
Sumber Penelitian
URLJurnal: https://journal.formosapublisher.org/index.php/mudima/article/view/75

0 Komentar