Kepemimpinan Transformasional Terbukti Menekan Keinginan Resign Karyawan Gen Z

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Yogyakarta - Kepemimpinan yang mampu menginspirasi, membangun kepercayaan, dan memberi ruang bagi karyawan untuk berkembang terbukti menjadi salah satu faktor penting dalam menekan keinginan Generasi Z untuk meninggalkan pekerjaannya. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan Irfan Pangestu dari Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Muafi dari universitas yang sama. Penelitian dipublikasikan pada 2026 di Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR). Hasil penelitian ini menjadi penting karena tingginya tingkat perpindahan kerja (turnover) di kalangan Gen Z semakin menjadi tantangan bagi banyak perusahaan, khususnya sektor jasa di Indonesia.

Fenomena tingginya turnover karyawan Gen Z tidak hanya berdampak pada meningkatnya biaya rekrutmen dan pelatihan pegawai baru, tetapi juga mengganggu stabilitas organisasi serta menurunkan produktivitas perusahaan. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z dikenal memiliki ekspektasi tinggi terhadap lingkungan kerja yang mendukung perkembangan diri, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work-life balance), fleksibilitas kerja, serta hubungan yang sehat dengan atasan. Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, mereka cenderung lebih mudah mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan baru.

Berangkat dari kondisi tersebut, Irfan Pangestu dan Muafi meneliti bagaimana gaya kepemimpinan transformasional memengaruhi niat karyawan Gen Z untuk keluar dari perusahaan. Penelitian ini juga mengkaji dua faktor psikologis yang diduga menjadi penghubung, yaitu psychological safety atau rasa aman secara psikologis di tempat kerja serta work engagement atau keterikatan karyawan terhadap pekerjaannya. Kedua aspek tersebut dinilai mampu menjelaskan mengapa kepemimpinan dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk tetap bertahan di sebuah organisasi.

Penelitian dilakukan terhadap 293 karyawan Generasi Z berusia 18–28 tahun yang bekerja di berbagai perusahaan sektor jasa di Kota Yogyakarta. Responden berasal dari beragam bidang, seperti food and beverage (F&B), ritel, layanan digital kreatif, perhotelan, pendidikan, hingga sektor lainnya. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis memakai metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui perangkat lunak SmartPLS 4 untuk menguji hubungan antarvariabel penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional memberikan dampak positif terhadap rasa aman psikologis maupun keterikatan kerja karyawan. Semakin baik kualitas kepemimpinan yang dirasakan karyawan, semakin tinggi pula rasa percaya diri mereka dalam menyampaikan pendapat, berdiskusi, maupun mengambil inisiatif tanpa takut mendapat konsekuensi negatif. Kondisi tersebut kemudian meningkatkan keterlibatan mereka dalam pekerjaan sekaligus mengurangi keinginan untuk mengundurkan diri.

Secara lebih rinci, penelitian menemukan beberapa temuan utama sebagai berikut:

  • Kepemimpinan transformasional meningkatkan psychological safety karyawan.
  • Kepemimpinan transformasional meningkatkan work engagement atau keterikatan terhadap pekerjaan.
  • Psychological safety menurunkan kecenderungan karyawan untuk keluar dari perusahaan.
  • Work engagement juga berperan penting dalam menekan turnover intention.
  • Kepemimpinan transformasional tidak hanya berpengaruh secara langsung terhadap turnover intention, tetapi juga melalui psychological safety dan work engagement sebagai variabel mediasi.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara pemimpin dan karyawan tidak sekadar berkaitan dengan pencapaian target kerja. Kepemimpinan yang mampu memberikan dukungan emosional, perhatian terhadap pengembangan individu, komunikasi terbuka, serta penghargaan terhadap ide karyawan ternyata mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat secara psikologis.

Menurut Irfan Pangestu dan Muafi, lingkungan kerja yang membuat karyawan merasa aman untuk berpendapat akan memperkuat hubungan antara organisasi dan pekerja. Ketika rasa aman tersebut disertai dengan tingginya keterikatan terhadap pekerjaan, kecenderungan karyawan Gen Z untuk mencari pekerjaan lain menjadi semakin rendah. Dengan kata lain, kepemimpinan transformasional bekerja melalui mekanisme psikologis yang memperkuat loyalitas karyawan terhadap perusahaan.

Penelitian ini juga memperkuat dua teori besar dalam manajemen sumber daya manusia, yaitu Social Exchange Theory dan Job Demands–Resources Theory. Kedua teori tersebut menjelaskan bahwa perlakuan positif dari organisasi dan pemimpin akan dibalas oleh karyawan melalui sikap positif, seperti meningkatnya komitmen, keterlibatan kerja, dan keinginan untuk tetap bertahan di perusahaan.

Dari sisi praktis, hasil penelitian memberikan rekomendasi penting bagi perusahaan, terutama yang banyak mempekerjakan Generasi Z. Organisasi disarankan tidak hanya berfokus pada sistem kompensasi atau promosi karier, tetapi juga membangun budaya kepemimpinan yang mendukung komunikasi terbuka, memberikan kepercayaan kepada karyawan, menghargai masukan mereka, serta menyediakan ruang untuk berkembang.

Pelatihan kepemimpinan bagi para manajer menjadi salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan perusahaan. Pemimpin yang mampu menginspirasi, memberikan perhatian individual, dan mendorong inovasi diyakini lebih efektif dalam mempertahankan talenta muda dibandingkan pendekatan kepemimpinan yang bersifat otoriter atau hanya berorientasi pada hasil kerja.

Meski demikian, penulis juga mengakui adanya keterbatasan penelitian. Studi ini hanya melibatkan karyawan sektor jasa di Kota Yogyakarta dengan desain penelitian potong lintang (cross-sectional), sehingga belum dapat menggambarkan perubahan perilaku karyawan dalam jangka panjang. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan wilayah dan sektor industri yang lebih luas serta memasukkan variabel lain seperti kepuasan kerja, komitmen organisasi, maupun perceived organizational support agar pemahaman mengenai turnover intention pada Generasi Z menjadi semakin komprehensif.

Profil Penulis

Irfan Pangestu merupakan peneliti dari Universitas Islam Indonesia (UII) yang memiliki fokus kajian pada manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, kepemimpinan, dan pengembangan karyawan Generasi Z.

Muafi adalah akademisi dan peneliti di Universitas Islam Indonesia (UII) dengan bidang keahlian manajemen strategis, manajemen sumber daya manusia, kepemimpinan organisasi, serta perilaku organisasi.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: The Effect of Transformational Leadership on Turnover Intention: The Mediating Role of Psychological Safety and Work Engagement among Generation Z Employees

Penulis: Irfan Pangestu, Muafi

Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 7 (2026), halaman 2083–2102

DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i7.133

URL Jurnal: https://journalfjmr.my.id/index.php/fjmr

Posting Komentar

0 Komentar