Hampir Seluruh Siswa Kelas XI di Alor Memiliki Pengetahuan Baik tentang HIV/AIDS

Created by AI

FORMOSA NEWS - Hampir seluruh siswa kelas XI di SMA Katolik Santo Yoseph Kalabahi, Kabupaten Alor, menunjukkan pengetahuan yang baik tentang HIV/AIDS. Temuan ini berasal dari penelitian Maria Susana Simo Ujan, Serlyansie V. Boimau, Ni Komang Yuni Rahyani, dan Adriana M.S. Boimau dari Poltekkes Kemenkes Denpasar dan Poltekkes Kemenkes Kupang. Penelitian yang dilakukan pada April 2026 tersebut menilai pemahaman siswa mengenai pengertian HIV/AIDS, cara penularan, pencegahan, tanda dan gejala, serta dampak penyakit. Hasilnya penting karena pengetahuan yang akurat dapat membantu remaja mengambil keputusan yang lebih sehat dan mendukung perilaku pencegahan HIV/AIDS.

Penelitian tersebut menemukan bahwa 99,3% dari 144 siswa yang dianalisis memiliki tingkat pengetahuan HIV/AIDS dalam kategori baik. Sementara itu, hanya 0,7% siswa yang berada pada kategori pengetahuan sedang. Para siswa menunjukkan pemahaman yang tinggi mengenai definisi HIV/AIDS, cara penularan, pencegahan, tanda dan gejala, serta dampak kesehatan dan sosial dari penyakit tersebut.

Hasil ini memberikan gambaran positif mengenai peran pendidikan kesehatan berbasis sekolah dalam membantu remaja memahami HIV/AIDS. Namun, para peneliti menekankan bahwa edukasi tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pengetahuan yang telah dimiliki dapat terus diperkuat dan diterapkan dalam perilaku pencegahan yang bertanggung jawab.

HIV/AIDS Masih Menjadi Isu Penting bagi Remaja

HIV atau Human Immunodeficiency Virus menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Tanpa penanganan yang tepat, infeksi HIV dapat berkembang menjadi AIDS, yaitu tahap lanjut penyakit yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan serius.

Remaja menjadi salah satu kelompok penting dalam upaya pencegahan HIV. Masa remaja ditandai dengan perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang besar. Pada periode ini, rasa ingin tahu dan keinginan untuk mencoba pengalaman baru dapat memengaruhi pengambilan keputusan. Pengetahuan yang tidak memadai mengenai penularan dan pencegahan HIV dapat meningkatkan kerentanan terhadap perilaku berisiko.

Persoalan tersebut juga relevan bagi Nusa Tenggara Timur. Provinsi ini mencatat 997 kasus baru HIV pada 2023 dan meningkat menjadi 1.315 kasus pada 2024, termasuk kasus pada kelompok usia 15–19 tahun. Di Kabupaten Alor, jumlah kumulatif kasus HIV juga meningkat dari 664 kasus pada 2023 menjadi 761 kasus pada 2024. Pada Agustus 2025, sebanyak 62 kasus HIV baru dilaporkan di wilayah tersebut.

Kondisi tersebut menjadikan sekolah sebagai tempat strategis untuk memberikan pendidikan kesehatan. Sekolah memiliki akses langsung dan rutin terhadap remaja sehingga dapat menjadi ruang penting untuk menyampaikan informasi yang akurat sebelum kesalahpahaman berkembang menjadi sikap atau perilaku yang merugikan.

Peneliti Mengkaji Pengetahuan 144 Siswa Kelas XI

Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif deskriptif di SMA Katolik Santo Yoseph Kalabahi. Responden penelitian adalah siswa kelas XI yang memenuhi kriteria penelitian.

Pada tahap awal, terdapat 151 siswa yang memenuhi kriteria untuk mengikuti penelitian. Namun, tujuh siswa tidak hadir saat pengumpulan data sehingga data dari 144 responden akhirnya dianalisis. Mayoritas responden berusia 17 tahun, yaitu sebesar 64,6%. Sementara itu, siswa perempuan berjumlah 58,3% dan siswa laki-laki sebanyak 41,7%.

Para siswa mengisi kuesioner terstruktur yang mengukur pengetahuan mereka mengenai HIV/AIDS. Pertanyaan mencakup pengertian HIV/AIDS, cara penularan, langkah pencegahan, tanda dan gejala, serta dampak penyakit.

Jawaban siswa kemudian dianalisis menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Tingkat pengetahuan dikategorikan menjadi baik, sedang, dan kurang berdasarkan persentase jawaban yang benar.

Pemahaman Siswa Tinggi pada Seluruh Aspek HIV/AIDS

Hasil paling tinggi terlihat pada pemahaman siswa mengenai pengertian dasar HIV/AIDS. Seluruh 144 responden atau 100% siswa berada dalam kategori pengetahuan baik pada aspek tersebut.

Pengetahuan mengenai cara penularan HIV juga sangat tinggi. Sebanyak 96,5% siswa memiliki pengetahuan baik, sedangkan 3,5% berada pada kategori sedang.

Pada aspek pencegahan HIV, sebanyak 95,8% responden memiliki pengetahuan baik. Sebagian kecil siswa memiliki pengetahuan sedang sebesar 3,5% dan 0,7% berada pada kategori kurang.

Pengetahuan mengenai tanda dan gejala HIV/AIDS menjadi aspek dengan persentase kategori baik paling rendah, meskipun tetap berada pada tingkat tinggi, yaitu 92,4%. Sebanyak 4,9% siswa memiliki pengetahuan sedang dan 2,8% berada pada kategori kurang.

Siswa juga menunjukkan pemahaman yang sangat baik mengenai dampak HIV/AIDS. Sebanyak 98,6% responden memiliki pengetahuan baik, sementara 1,4% berada pada kategori sedang.

Secara keseluruhan, 143 dari 144 responden atau 99,3% memiliki pengetahuan baik mengenai HIV/AIDS. Hanya satu siswa atau 0,7% yang berada pada kategori pengetahuan sedang.

Pendidikan Sekolah dan Akses Informasi Dapat Mendukung Tingginya Pengetahuan

Para peneliti memperkirakan bahwa tingginya pengetahuan siswa di SMA Katolik Santo Yoseph Kalabahi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Informasi mengenai HIV/AIDS telah terintegrasi dalam pembelajaran seperti Biologi serta Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Siswa juga semakin mudah mengakses informasi digital sehingga dapat memperoleh pengetahuan kesehatan di luar ruang kelas.

Kondisi lingkungan juga dapat menjadi faktor pendukung. Nusa Tenggara Timur menghadapi tantangan HIV/AIDS yang cukup besar sehingga sekolah dan lembaga kesehatan memiliki alasan kuat untuk terus menjaga kegiatan edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Penelitian tersebut juga menekankan pentingnya informasi yang dapat dipercaya. Pengetahuan yang akurat dapat membantu remaja memahami cara penularan HIV, langkah pencegahan, serta berbagai kesalahpahaman yang sering muncul. Informasi yang benar juga dapat membantu mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS.

Namun, para peneliti mengingatkan bahwa pengetahuan saja tidak selalu secara otomatis menghasilkan perilaku sehat. Siswa dapat memahami cara mencegah HIV, tetapi tetap membutuhkan dukungan untuk membangun sikap positif dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Karena itu, Maria Susana Simo Ujan, Serlyansie V. Boimau, Ni Komang Yuni Rahyani, dan Adriana M.S. Boimau merekomendasikan agar program pendidikan dan promosi kesehatan mengenai HIV/AIDS terus dipertahankan dan diperkuat.

Edukasi Kesehatan Berkelanjutan Tetap Dibutuhkan

Temuan penelitian memberikan gambaran positif mengenai tingkat pengetahuan HIV/AIDS siswa kelas XI di SMA Katolik Santo Yoseph Kalabahi. Meski demikian, masih adanya sejumlah kecil siswa yang memiliki pemahaman belum lengkap, khususnya mengenai gejala dan pencegahan, menunjukkan bahwa edukasi kesehatan tidak boleh berhenti setelah siswa memiliki pengetahuan yang tinggi.

Sekolah dapat terus memperkuat pendidikan HIV/AIDS melalui pembelajaran di kelas, kampanye kesehatan, konseling, kegiatan siswa, serta kerja sama dengan tenaga kesehatan. Media digital sekolah juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi kesehatan yang akurat, sesuai usia, dan bebas stigma.

Para peneliti menilai bahwa promosi kesehatan di masa depan perlu berfokus bukan hanya pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan sikap positif dan perilaku pencegahan yang bertanggung jawab. Tujuan akhir pendidikan kesehatan bukan sekadar membuat siswa mengingat informasi, melainkan membantu mereka menggunakan pengetahuan tersebut dalam mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi sektor pendidikan dan pembuat kebijakan kesehatan publik, penelitian ini menunjukkan pentingnya mempertahankan pendidikan HIV/AIDS berbasis sekolah, terutama di wilayah yang masih menghadapi tantangan HIV/AIDS. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, fasilitas kesehatan, dan pemerintah daerah dapat membantu memastikan remaja memperoleh informasi yang konsisten, akurat, dan tidak menimbulkan stigma.

Profil Penulis

Maria Susana Simo Ujan merupakan peneliti yang berafiliasi dengan Poltekkes Kemenkes Denpasar dengan bidang kajian yang berkaitan dengan pendidikan kesehatan dan kesehatan remaja.

Serlyansie V. Boimau merupakan akademisi dan peneliti dari Poltekkes Kemenkes Kupang yang memiliki bidang kajian terkait pendidikan kesehatan dan kesehatan masyarakat.

Ni Komang Yuni Rahyani merupakan peneliti dari Poltekkes Kemenkes Denpasar yang mengkaji berbagai isu kesehatan dan pendidikan remaja.

Adriana M.S. Boimau merupakan akademisi dan peneliti dari Poltekkes Kemenkes Kupang serta menjadi corresponding author dalam artikel ini. Bidang kajiannya meliputi kesehatan remaja, edukasi HIV/AIDS, promosi kesehatan, dan kesehatan masyarakat.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: A Descriptive Study of Students' Knowledge of HIV and AIDS at Santo Yoseph Catholic Senior High School, Kalabahi, Alor Regency, Indonesia

Penulis: Maria Susana Simo Ujan, Serlyansie V. Boimau, Ni Komang Yuni Rahyani, dan Adriana M.S. Boimau

Afiliasi: Poltekkes Kemenkes Denpasar dan Poltekkes Kemenkes Kupang

Jurnal: International Journal of Education and Psychological Science (IJEPS)

Volume: 4, Nomor 4, 2026, halaman 427–436

DOI: 10.59890/ijeps.v4i4.17

URL Jurnal: https://journalijeps.my.id/index.php/ijeps

Posting Komentar

0 Komentar