Guru PAUD Butuh Pelatihan agar Interactive Flat Panel Maksimal Tingkatkan Pembelajaran Anak

Ilustrasi by AI
Medan - Transformasi digital di pendidikan anak usia dini tidak cukup hanya dengan menghadirkan perangkat teknologi di kelas. Penelitian terbaru yang dilakukan Dwi Fany Fransiska Dewi Butar Butar dari Universitas Satya Terra Bhinneka mengungkap bahwa guru masih membutuhkan pelatihan teknis, pendampingan berkelanjutan, dan peningkatan kompetensi pedagogi digital agar teknologi benar-benar mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026 di PAUD Happy Kids, setelah sekolah tersebut menerima Interactive Flat Panel (IFV) dari pemerintah Indonesia. Temuan ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa investasi teknologi pendidikan harus diikuti dengan penguatan kapasitas guru agar memberikan dampak nyata bagi proses belajar anak.

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara pembelajaran berlangsung di berbagai jenjang pendidikan, termasuk pendidikan anak usia dini. Berbagai media digital kini mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan berpusat pada anak. Namun, keberhasilan penggunaan teknologi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan perangkat, melainkan juga oleh kemampuan guru dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran.

Anak usia dini berada pada masa emas perkembangan sehingga membutuhkan pengalaman belajar yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang mereka. Dalam kondisi ini, guru memegang peranan penting dalam memilih media, metode, dan teknologi yang mampu merangsang perkembangan kognitif, bahasa, sosial, emosional, maupun kreativitas anak. Karena itu, peningkatan kompetensi digital guru menjadi salah satu faktor utama dalam keberhasilan transformasi pendidikan.

PAUD Happy Kids menjadi salah satu sekolah yang mulai memanfaatkan teknologi melalui penggunaan Interactive Flat Panel (IFV) sejak Desember 2025. Perangkat tersebut merupakan bantuan pemerintah sebagai bagian dari program digitalisasi pendidikan. Sebelum menerima IFV, proses pembelajaran lebih banyak menggunakan media konvensional seperti gambar cetak, kartu huruf, alat permainan edukatif, dan media buatan guru.

Untuk memahami kebutuhan guru dalam memanfaatkan teknologi tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian melibatkan dua orang guru sebagai informan utama dan satu kepala sekolah sebagai informan pendukung. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi sehingga memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kondisi implementasi IFV di sekolah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Interactive Flat Panel memang sudah digunakan dalam proses pembelajaran, tetapi pemanfaatannya masih terbatas pada fungsi-fungsi dasar, seperti menampilkan video pembelajaran, lagu anak-anak, gambar interaktif, buku cerita digital, dan permainan edukatif sederhana. Berbagai fitur interaktif lain, seperti papan tulis digital, anotasi, aplikasi pembelajaran interaktif, hingga aktivitas kolaboratif belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa guru masih berada pada tahap adaptasi terhadap teknologi baru.

Penelitian juga menemukan sejumlah faktor yang mendukung implementasi teknologi di sekolah. Dukungan pemerintah melalui penyediaan Interactive Flat Panel menjadi modal awal yang penting. Selain itu, kepala sekolah secara aktif mendorong guru untuk mulai menggunakan perangkat tersebut dalam kegiatan belajar mengajar sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu layanan pendidikan.

Di sisi lain, masih terdapat berbagai kendala yang menghambat pemanfaatan teknologi secara optimal. Guru belum pernah mengikuti pelatihan resmi mengenai pengoperasian IFV, masih memiliki pengalaman yang terbatas dalam mengembangkan media pembelajaran digital, belum tersedia panduan pembelajaran yang dirancang khusus untuk penggunaan IFV di PAUD, serta waktu guru untuk mengeksplorasi seluruh fitur perangkat juga masih terbatas.

Berdasarkan analisis data, penelitian mengidentifikasi enam kebutuhan utama guru agar implementasi teknologi pendidikan dapat berjalan lebih efektif, yaitu:

  • pelatihan teknis mengenai seluruh fitur Interactive Flat Panel;
  • pelatihan pengembangan media pembelajaran digital untuk anak usia dini;
  • pendampingan berkelanjutan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) berbasis teknologi;
  • akses terhadap sumber belajar digital yang mendukung Kurikulum Merdeka;
  • program pengembangan kompetensi digital secara berkelanjutan; serta
  • dukungan institusi melalui supervisi akademik dan berbagi praktik baik antar guru.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan perangkat digital saja belum cukup untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kompetensi guru menjadi faktor yang menentukan apakah teknologi mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna bagi anak.

Dalam pembahasannya, Dwi Fany Fransiska Dewi Butar Butar menjelaskan bahwa para guru sebenarnya memiliki sikap positif terhadap penggunaan teknologi. Mereka merasakan bahwa penggunaan IFV mampu meningkatkan perhatian, antusiasme, dan partisipasi anak selama proses belajar berlangsung. Namun demikian, keterbatasan kemampuan teknis dan pedagogis membuat guru belum dapat memanfaatkan seluruh potensi perangkat tersebut. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi melalui pelatihan yang sistematis menjadi kebutuhan mendesak.

Penelitian ini juga menegaskan pentingnya peran kepala sekolah dalam mendukung transformasi digital. Dukungan pimpinan sekolah dinilai telah mendorong guru untuk mulai menggunakan teknologi, tetapi perlu diperkuat melalui program pelatihan terstruktur, supervisi akademik berbasis teknologi, serta pendampingan berkelanjutan. Dengan demikian, penggunaan Interactive Flat Panel tidak hanya berfungsi sebagai media presentasi, tetapi benar-benar menjadi alat pembelajaran yang interaktif dan berpusat pada peserta didik.

Bagi pemerintah, hasil penelitian ini memberikan masukan bahwa program digitalisasi sekolah sebaiknya tidak berhenti pada pengadaan perangkat. Penyediaan teknologi perlu disertai pelatihan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi agar investasi yang telah dilakukan mampu meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Sementara bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam merancang program pengembangan profesional guru yang lebih sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Profil Penulis

Dwi Fany Fransiska Dewi Butar Butar merupakan akademisi dari Universitas Satya Terra Bhinneka yang memiliki fokus kajian pada teknologi pendidikan, kompetensi guru, pendidikan anak usia dini, serta integrasi teknologi dalam proses pembelajaran. Melalui penelitian ini, penulis berupaya memberikan rekomendasi praktis bagi sekolah dan pemangku kebijakan dalam mengoptimalkan pemanfaatan teknologi pendidikan secara berkelanjutan.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Teachers' Needs Analysis for Educational Technology Utilization During the Initial Implementation of Interactive Flat Panel at Happy Kids Early Childhood Education Center

Penulis: Dwi Fany Fransiska Dewi Butar Butar

Afiliasi: Universitas Satya Terra Bhinneka

Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Vol. 4, No. 7, 2026

DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i7.30

URL Jurnal: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas

Posting Komentar

0 Komentar