Guru Kuasai Machine Learning, Nilai Pendidikan Agama Islam Siswa Terbukti Meningkat Pesat

Ilustrasi by AI

Transformasi digital di dunia pendidikan kini memasuki babak baru lewat pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Sebuah riset mendalam yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Sunan Gresik mengungkapkan bahwa tingkat kompetensi Machine Learning (ML) yang dimiliki oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI) berhubungan langsung secara positif dan signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Penelitian yang dipimpin oleh Sulalatun Nikma bersama Ani Khofiati dan Medycha Emhandyaksa ini dilangsungkan di SMP IT Al Uswah Tuban, Jawa Timur, sepanjang periode Februari hingga Juni 2026. Hasilnya memberikan bukti empiris bahwa teknologi data tidak hanya relevan untuk pelajaran sains, melainkan juga strategis untuk mengoptimalkan pembelajaran berbasis karakter dan agama.

Mengubah Data Menjadi Solusi Pembelajaran Agama

Selama ini, pemanfaatan ekosistem digital di berbagai sekolah Islam terpadu umumnya baru menyentuh aspek administrasi, seperti pembagian tugas mandiri atau sekadar mencatat kehadiran siswa secara digital. Guru kerap kali belum menyentuh fitur analitik tingkat lanjut yang disediakan oleh platform digital yang ada. Celah inilah yang melatarbelakangi tim peneliti Universitas Sunan Gresik untuk memetakan sejauh mana kecakapan guru dalam membaca data digital dapat mendongkrak pencapaian akademis murid pada mata pelajaran PAI. Pihak sekolah sendiri sebenarnya telah memfasilitasi sistem pembelajaran digital terintegrasi sejak tahun 2022, namun pemanfaatan fitur berbasis kecerdasan buatan di dalamnya dinilai masih belum optimal.

Metodologi Riset yang Sederhana namun Kuat

Penelitian ini menggunakan metode kombinasi berurutan (sequential explanatory design) untuk mendapatkan gambaran menyeluruh. Data dikumpulkan melalui kuesioner kompetensi digital yang disebarkan kepada seluruh guru PAI aktif yang berjumlah 8 orang, serta catatan rekam akademis berupa nilai rapor semester genap tahun ajaran 2025/2026 dan skor evaluasi formatif dari 124 siswa kelas VII hingga IX. Untuk memperdalam analisis kuantitatif tersebut, peneliti juga melakukan wawancara mendalam dengan kepala sekolah, perwakilan guru, dan siswa, serta melakukan pengamatan langsung di dalam kelas sebanyak 12 sesi pertemuan.

Temuan Utama: Analitik Digital Dongkrak Nilai Rapor Siswa

Melalui analisis data yang cermat, riset ini menghasilkan beberapa poin temuan penting:

  • Pengaruh Signifikan: Peningkatan kompetensi Machine Learning pada guru secara langsung berkontribusi sebesar 46,2% terhadap variasi pencapaian prestasi belajar PAI siswa.
  • Kemampuan Literasi Data Tertinggi: Guru-guru menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam membaca grafik performa serta ringkasan kuis digital siswa dengan perolehan skor rata-rata dimensi literasi data mencapai 3,78 dari skala 5.
  • Tantangan Intervensi Prediktif: Dimensi intervensi pedagogis prediktif mendapatkan skor terendah sebesar 3,02. Hal ini menunjukkan bahwa guru masih memerlukan pelatihan untuk memanfaatkan algoritma platform yang dapat mendeteksi risiko penurunan nilai siswa sebelum siswa tersebut benar-benar gagal.
  • Prestasi Belajar Siswa yang Tinggi: Rata-rata nilai rapor PAI siswa tercatat berada pada angka 81,6 dengan tingkat kelulusan mencapai 91,1% di atas batas minimal standar kelulusan sekolah.

Secara praktis, guru-guru yang memiliki kompetensi teknologi tinggi memanfaatkan data dari Class Summary pada platform Quizizz Analytics dan Google Classroom untuk melihat materi apa saja yang paling banyak dijawab salah oleh siswa. Jika materi tajwid atau hukum fikih tertentu terdeteksi memiliki tingkat kesalahan di atas 40%, guru langsung membuat video penjelasan singkat tambahan untuk diunggah kembali ke platform belajar tanpa harus mengulang materi dari awal.

Implikasi dan Sentuhan Manusia dalam Pendidikan Digital

Penerapan teknologi berbasis Machine Learning di lingkungan sekolah terbukti menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif dan meningkatkan antusiasme belajar mandiri bagi siswa. Meski demikian, riset ini juga menggarisbawahi tantangan filosofis yang muncul di lapangan. Sebagian pendidik merasa khawatir jika ketergantungan pada kecerdasan buatan justru akan mengurangi esensi utama dari pendidikan agama yang membutuhkan pendekatan hati ke hati antarmanusia, bukan sekadar interaksi manusia dengan mesin.

"Teknologi kecerdasan buatan harus ditempatkan sebagai alat bantu instruksional yang meringankan beban administrasi guru, sehingga guru justru memiliki lebih banyak waktu berkualitas untuk memberikan bimbingan spiritual dan moral yang tidak bisa digantikan oleh algoritma komputer," tulis Sulalatun Nikma dalam laporan penelitiannya.

Rekomendasi strategis dari riset ini mendorong pihak manajemen sekolah dan pemangku kebijakan untuk mulai merancang program pelatihan pengolahan data berbasis AI yang terstruktur bagi guru-guru agama, memperkuat infrastruktur jaringan internet sekolah, serta merumuskan kurikulum pelatihan yang mengintegrasikan etika Islam dengan kemajuan teknologi modern.

Profil Peneliti

  • Sulalatun Nikma, S.Pd., M.Pd. – Dosen dan peneliti di Universitas Sunan Gresik. Memiliki keahlian dalam bidang inovasi teknologi pembelajaran dan kurikulum pendidikan Islam terpadu.
  • Ani Khofiati, M.Pd. – Dosen Universitas Sunan Gresik dengan fokus keahlian pada evaluasi pembelajaran berbasis digital dan metodologi pengajaran.
  • Medycha Emhandyaksa, M.Kom. – Dosen Universitas Sunan Gresik yang mendalami sistem informasi pendidikan, analitik data, dan implementasi kecerdasan buatan di dunia akademis.

Sumber Penelitian:

Posting Komentar

0 Komentar