Mataram – Pura Batu Bolong di kawasan Senggigi, Lombok, tidak hanya dipandang sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi destinasi wisata spiritual yang memberikan pengalaman emosional mendalam bagi Generasi Z Hindu. Temuan tersebut diungkap oleh Joko Prayitno, I Ketut Putu Suardana, Ni Putu Ade Resmayani, dan Dwi Harianti dari Program Studi Pariwisata Budaya dan Keagamaan, IAHN Gde Pudja Mataram, dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi pariwisata yang memadukan lanskap alam, aktivitas ritual, dan aturan berkunjung mampu membentuk pengalaman spiritual yang kuat sekaligus mendukung pengembangan wisata berbasis budaya.
Pura Batu Bolong telah lama dikenal sebagai salah satu ikon wisata di pesisir Senggigi. Lokasinya yang berada di atas batu karang berlubang dengan latar Samudra Hindia menjadikannya destinasi yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Di sisi lain, pura ini tetap berfungsi sebagai tempat ibadah umat Hindu yang aktif digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan. Perpaduan antara fungsi religius dan daya tarik wisata tersebut menghadirkan tantangan dalam menjaga kesucian pura tanpa mengurangi pengalaman wisata yang dinikmati para pengunjung.
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara terstruktur dan observasi terhadap 99 mahasiswa kelahiran tahun 2005–2007 yang berasal dari Mataram, Bali, Lombok, dan Sumbawa. Para responden dipilih karena mewakili Generasi Z Hindu yang memiliki pengalaman berkunjung dan beribadah di Pura Batu Bolong. Peneliti kemudian menganalisis berbagai pengalaman mereka untuk memahami bagaimana pesan-pesan wisata dan kesakralan pura diterima serta dimaknai oleh generasi muda di era digital.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar responden tidak memisahkan fungsi Pura Batu Bolong sebagai tempat ibadah dan objek wisata. Bagi mereka, kedua fungsi tersebut berjalan berdampingan. Setelah melaksanakan persembahyangan, banyak pengunjung melanjutkan aktivitas dengan menikmati panorama pantai, duduk di tepi laut, atau mengabadikan momen melalui foto. Lanskap alam yang terdiri atas batu karang berlubang, deburan ombak, angin laut, dan panorama matahari terbenam menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman spiritual mereka.
Mayoritas responden menggambarkan pengalaman berada di kawasan pura dengan kata-kata seperti "tenang", "nyaman", "damai", dan "takjub". Suasana tersebut dirasakan terutama ketika mengikuti persembahyangan atau sekadar duduk menikmati suara ombak setelah beribadah. Beberapa responden bahkan mengaku beban pikiran terasa berkurang ketika berada di lingkungan pura. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi nonverbal melalui lanskap alam mampu menghadirkan pengalaman spiritual yang kuat tanpa memerlukan banyak penjelasan verbal.
Penelitian juga menemukan bahwa batu karang berlubang yang menjadi ikon Pura Batu Bolong tidak hanya dipandang sebagai objek wisata yang unik, tetapi juga dimaknai sebagai simbol spiritual oleh sebagian pengunjung. Posisi pura yang menghadap laut, suara ombak, aroma dupa, hingga aktivitas ritual keagamaan membentuk pengalaman yang menyatukan unsur alam dan kesakralan. Kombinasi tersebut memperkuat persepsi bahwa Pura Batu Bolong merupakan ruang refleksi sekaligus tempat mencari ketenangan batin.
Meskipun demikian, penelitian mencatat masih terdapat kekurangan dalam penyampaian makna simbol-simbol keagamaan kepada pengunjung. Sebagian besar responden mengaku telah memahami aturan berpakaian, tata krama, dan batas-batas area suci melalui papan informasi maupun arahan dari pengelola, orang tua, dan tokoh agama. Namun, penjelasan mengenai filosofi simbol-simbol pura masih dirasakan terbatas sehingga potensi edukasi budaya belum dimanfaatkan secara optimal.
Menurut Joko Prayitno dan tim dari IAHN Gde Pudja Mataram, pengalaman spiritual Generasi Z dibentuk oleh perpaduan komunikasi visual, komunikasi ritual, serta komunikasi melalui aturan berkunjung. Lanskap alam tidak sekadar menjadi latar yang indah untuk berfoto, tetapi juga berfungsi sebagai media komunikasi yang menghadirkan rasa tenang, kagum, dan sakral bagi para pengunjung. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan destinasi wisata religi perlu memperhatikan cara penyampaian makna simbolik agar tetap relevan dengan karakter generasi muda yang akrab dengan media digital.
Penelitian ini juga menawarkan sejumlah implikasi praktis bagi pengelola destinasi wisata religi. Penyediaan media interpretasi seperti papan informasi yang lebih komunikatif, konten digital, video singkat, maupun kode QR dinilai dapat membantu pengunjung memahami filosofi pura tanpa mengurangi nilai kesuciannya. Selain itu, penataan zona suci dan area wisata secara lebih jelas akan membantu wisatawan lokal maupun mancanegara menghormati aktivitas ibadah yang sedang berlangsung. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya, pendidikan, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa Pura Batu Bolong berhasil menghadirkan pengalaman wisata spiritual yang memadukan keindahan alam, nilai religius, dan kebutuhan Generasi Z akan ruang refleksi di tengah kehidupan digital. Penguatan komunikasi pariwisata yang menjelaskan makna simbolik pura secara sederhana dan menarik berpotensi meningkatkan kualitas pengalaman wisata sekaligus menjaga kelestarian nilai-nilai budaya Hindu di Lombok.
Profil Penulis
Joko Prayitno – Program Studi Pariwisata Budaya dan Keagamaan, IAHN Gde Pudja Mataram.
I Ketut Putu Suardana – Program Studi Pariwisata Budaya dan Keagamaan, IAHN Gde Pudja Mataram.
Ni Putu Ade Resmayani – Program Studi Pariwisata Budaya dan Keagamaan, IAHN Gde Pudja Mataram.
Dwi Harianti – Program Studi Pariwisata Budaya dan Keagamaan, IAHN Gde Pudja Mataram.
Sumber Penelitian
0 Komentar