Evaluasi Lahan di Kawasan Transmigrasi Tolitoli Ungkap Potensi Besar Pengembangan Jagung Berkelanjutan

Ilustrasi by AI

Palu – Kawasan Transmigrasi SP Janja di Desa Janja, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan budidaya jagung secara berkelanjutan. Temuan tersebut disampaikan oleh Arian Musmuliadin, Patta Tope, dan Rifai Mardin dari Program Magister Pembangunan Perdesaan, Pascasarjana Universitas Tadulako dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR). Dengan menggabungkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Geographic Information Systems (GIS), penelitian ini menghasilkan peta kesesuaian lahan yang dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pertanian berbasis data spasial di Kabupaten Tolitoli.

Jagung merupakan salah satu komoditas pangan strategis di Indonesia yang berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional, industri pakan ternak, hingga sektor agroindustri. Meningkatnya kebutuhan jagung setiap tahun menuntut pemanfaatan lahan yang lebih efektif agar produktivitas pertanian dapat terus ditingkatkan tanpa merusak lingkungan. Di kawasan transmigrasi, pemanfaatan lahan yang sesuai dengan karakteristik biofisik menjadi faktor utama untuk memastikan keberhasilan budidaya tanaman sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.

Kawasan Transmigrasi SP Janja seluas sekitar 97,83 hektare telah lama dikembangkan sebagai wilayah produksi pertanian bagi masyarakat transmigran. Namun, kondisi lahan di kawasan tersebut tidak sepenuhnya seragam. Perbedaan suhu, curah hujan, tekstur tanah, kemiringan lereng, drainase, hingga risiko erosi menyebabkan setiap bagian wilayah memiliki tingkat kesesuaian yang berbeda untuk budidaya jagung. Kondisi inilah yang mendorong perlunya evaluasi lahan secara menyeluruh agar pengembangan pertanian dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan memadukan teknologi Sistem Informasi Geografis (GIS) dan metode AHP. Para peneliti mengumpulkan data melalui survei lapangan, pengamatan kondisi tanah, dokumentasi, wawancara dengan para ahli, serta memanfaatkan berbagai data spasial dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Pusat Statistik (BPS), serta Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian. Delapan parameter biofisik dianalisis, yaitu suhu udara, curah hujan, jumlah bulan basah, kemiringan lereng, drainase, tekstur tanah, tingkat bahaya erosi, dan penggunaan lahan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa suhu udara menjadi faktor paling berpengaruh dalam menentukan kesesuaian lahan untuk budidaya jagung dengan bobot sebesar 29,90 persen. Faktor berikutnya adalah curah hujan sebesar 20,20 persen, drainase 13,20 persen, jumlah bulan basah 12,00 persen, tekstur tanah 11,20 persen, kemiringan lereng 5,70 persen, bahaya erosi 4,50 persen, dan penggunaan lahan 3,10 persen. Uji konsistensi terhadap pembobotan tersebut menghasilkan nilai Consistency Ratio (CR) sebesar 0,027, jauh di bawah batas maksimal 0,10, sehingga menunjukkan bahwa hasil penilaian para ahli dinilai konsisten dan dapat dipercaya.

Melalui analisis spasial menggunakan teknik weighted overlay pada perangkat lunak ArcGIS, penelitian menemukan bahwa sebagian besar wilayah SP Janja berada pada kategori cukup sesuai (S2) untuk budidaya jagung. Luas lahan pada kategori ini mencapai 68,71 hektare atau sekitar 70,23 persen dari total wilayah penelitian. Sementara itu, 29,12 hektare atau 29,77 persen lainnya termasuk kategori sesuai marginal (S3). Tidak ditemukan lahan yang masuk kategori sangat sesuai (S1) maupun tidak sesuai (N). Temuan ini menunjukkan bahwa hampir seluruh kawasan masih memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai sentra produksi jagung dengan penerapan teknik budidaya yang tepat.

Penelitian juga mengidentifikasi sejumlah faktor pembatas yang masih memengaruhi produktivitas lahan. Curah hujan yang tinggi, periode musim hujan yang relatif panjang, sistem drainase yang belum optimal, serta adanya potensi erosi di beberapa lokasi menjadi tantangan utama yang perlu diatasi. Menurut para peneliti, berbagai kendala tersebut masih dapat diminimalkan melalui penerapan konservasi tanah, pembangunan saluran drainase yang lebih baik, pemupukan berimbang, serta pengelolaan lahan yang disesuaikan dengan kondisi biofisik setempat.

Arian Musmuliadin dan tim dari Universitas Tadulako menilai bahwa integrasi metode AHP dan GIS mampu menghasilkan informasi spasial yang lebih objektif dibandingkan pendekatan konvensional. Selain menunjukkan lokasi-lokasi yang paling sesuai untuk pengembangan jagung, metode ini juga membantu pemerintah daerah menentukan prioritas pembangunan pertanian berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Informasi tersebut dinilai penting untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat, efisien, dan berbasis bukti ilmiah.

Temuan penelitian ini memberikan manfaat yang luas bagi pemerintah daerah, penyuluh pertanian, maupun masyarakat transmigran. Peta kesesuaian lahan dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan lokasi budidaya jagung, menyusun program peningkatan produktivitas, hingga merancang kebijakan pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Selain itu, pendekatan berbasis GIS dan AHP juga dapat diterapkan di kawasan transmigrasi lain di Indonesia yang memiliki karakteristik biofisik serupa sehingga proses perencanaan pembangunan pertanian menjadi lebih efektif dan berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa Kawasan Transmigrasi SP Janja memiliki potensi besar sebagai sentra produksi jagung di Kabupaten Tolitoli. Dengan pengelolaan lahan yang memperhatikan faktor-faktor biofisik dan didukung teknologi pemetaan modern, produktivitas pertanian dapat ditingkatkan tanpa mengabaikan aspek konservasi sumber daya alam. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi referensi penting bagi pengembangan pertanian berbasis data spasial di Indonesia sekaligus memperkuat upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Profil Penulis

Arian Musmuliadin – Program Magister Pembangunan Perdesaan, Pascasarjana Universitas Tadulako, Palu.

Patta Tope – Program Magister Pembangunan Perdesaan, Pascasarjana Universitas Tadulako, Palu.

Rifai Mardin – Program Magister Pembangunan Perdesaan, Pascasarjana Universitas Tadulako, Palu.

Sumber Penelitian

Judul: Land Suitability Evaluation of the Transmigration Area: SP Janja, Janja Village, Tolitoli Regency

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 7, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.239

Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar