Perubahan dunia pendidikan menuntut guru tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga mampu menganalisis persoalan nyata, mengambil keputusan berdasarkan data, dan membimbing siswa berpikir kritis. Karena itu, perguruan tinggi perlu menerapkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual daripada sekadar ceramah di kelas.
Salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah Case Method, yaitu metode pembelajaran yang mengajak mahasiswa mempelajari kasus nyata, mendiskusikan berbagai solusi, serta mempertahankan pendapat menggunakan bukti ilmiah. Dalam penelitian ini, kasus yang digunakan berkaitan dengan berbagai persoalan perkembangan anak, mulai dari aspek kognitif, sosial, emosional, hingga perkembangan bahasa.
Mayoritas Mahasiswa Sudah Belajar Secara Mandiri
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 81 mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Perkembangan Anak. Seluruh mahasiswa dijadikan responden menggunakan teknik total sampling.
Data dikumpulkan melalui tiga instrumen utama, yaitu:
kuesioner Self-Regulated Learning (SRL),
penilaian keterampilan argumentasi,
nilai Ujian Akhir Semester (UAS).
Seluruh data kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan profil kemampuan mahasiswa.
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar mahasiswa telah memiliki tingkat kemandirian belajar yang sangat baik.
Temuan utama penelitian meliputi:
90,12% mahasiswa berada pada kategori mandiri dalam Self-Regulated Learning.
7,41% berada pada kategori cukup mandiri.
2,47% mencapai kategori sangat mandiri.
Tidak ada mahasiswa yang berada pada kategori kurang mandiri.
Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kasus mendorong mahasiswa lebih bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri, mulai dari merencanakan pembelajaran, mencari sumber informasi, memonitor kemajuan belajar, hingga mengevaluasi hasil yang diperoleh.
Kemampuan Argumentasi Ilmiah Ikut Meningkat
Selain meningkatkan kemandirian belajar, Case Method juga berdampak positif terhadap kemampuan mahasiswa dalam menyusun argumentasi ilmiah.
Hasil penelitian memperlihatkan:
64,20% mahasiswa memiliki keterampilan argumentasi kategori tinggi.
33,33% berada pada kategori sedang.
2,47% mencapai kategori sangat tinggi.
Tidak ada mahasiswa yang masuk kategori rendah.
Mahasiswa mampu menyusun klaim, menyajikan bukti, serta memberikan alasan ilmiah ketika membahas berbagai persoalan perkembangan anak.
Namun demikian, para peneliti menemukan bahwa sebagian besar mahasiswa masih perlu meningkatkan kemampuan menyusun rebuttal atau sanggahan terhadap argumen lain, yang merupakan salah satu indikator argumentasi ilmiah tingkat tinggi.
Hasil Belajar Akademik Juga Meningkat
Peningkatan kemandirian belajar dan kemampuan argumentasi ternyata diikuti oleh capaian akademik yang baik.
Distribusi hasil belajar menunjukkan:
61,73% mahasiswa memperoleh kategori baik.
17,28% memperoleh kategori sangat baik.
18,52% berada pada kategori cukup.
2,47% berada pada kategori kurang.
Secara keseluruhan, sekitar 79% mahasiswa memperoleh nilai di atas 80, menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kasus membantu mahasiswa memahami konsep secara lebih mendalam sekaligus mampu menghubungkannya dengan situasi nyata.
Menurut tim peneliti dari Universitas Negeri Makassar, diskusi kasus nyata membuat mahasiswa tidak sekadar menghafal teori, tetapi juga belajar menganalisis berbagai sudut pandang sebelum mengambil keputusan berdasarkan bukti ilmiah.
Mengapa Case Method Efektif?
Case Method memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan pembelajaran konvensional.
Mahasiswa dituntut untuk:
mengidentifikasi masalah nyata,
mencari berbagai referensi ilmiah,
berdiskusi secara aktif,
mempertahankan pendapat menggunakan bukti,
mengevaluasi pendapat teman,
menyimpulkan solusi terbaik.
Aktivitas tersebut secara bersamaan melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi ilmiah, refleksi diri, dan pengambilan keputusan.
Meski demikian, peneliti menilai masih diperlukan penguatan melalui scaffolding, latihan argumentasi berbasis bukti, refleksi terstruktur, peer feedback, serta kegiatan self-monitoring agar semakin banyak mahasiswa mencapai kategori sangat tinggi pada seluruh indikator.
Implikasi bagi Pendidikan Tinggi
Hasil penelitian ini memberikan pesan penting bagi perguruan tinggi, khususnya lembaga pendidikan tenaga kependidikan.
Metode pembelajaran berbasis kasus dapat menjadi strategi efektif untuk mempersiapkan calon guru menghadapi tantangan pembelajaran abad ke-21 yang menuntut kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan pembelajaran sepanjang hayat.
Penerapan Case Method juga dapat mendukung kebijakan transformasi pembelajaran di perguruan tinggi yang saat ini semakin menekankan pembelajaran aktif, kontekstual, dan berpusat pada mahasiswa.
Menurut para peneliti, pendekatan ini layak diperluas ke berbagai mata kuliah lain karena tidak hanya meningkatkan nilai akademik, tetapi juga membangun kompetensi profesional yang dibutuhkan guru di masa depan.
Profil Penulis
Sugiarti merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Negeri Makassar yang berfokus pada pendidikan dan pengembangan kompetensi calon guru.
Zuhrah Adminira Ruslan, M.Pd. adalah dosen di Universitas Negeri Makassar dengan bidang keahlian pendidikan, strategi pembelajaran, dan pengembangan kompetensi mahasiswa calon guru. Ia juga bertindak sebagai penulis korespondensi dalam penelitian ini.
Muhammad Yunus merupakan dosen dan peneliti di Universitas Negeri Makassar yang memiliki minat penelitian pada inovasi pembelajaran, pendidikan guru, dan peningkatan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Profile of Self-Regulated Learning and Argumentation Skills of Prospective Teacher Students Through Case Method Learning on Child Development Issues
Penulis: Sugiarti, Zuhrah Adminira Ruslan, Muhammad Yunus
Jurnal: Asian Journal of Applied Education (AJAE)
Tahun Publikasi: 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i3.16912
ISSN-E: 2693-5241
Website Jurnal: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae
0 Komentar