BUMDes Tunas Jaya Buktikan Usaha Pajeko Mampu Tingkatkan Pendapatan Nelayan dan Ekonomi Desa

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Gorontalo - Usaha perikanan yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Tunas Jaya, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, terbukti memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir. Penelitian yang dilakukan Fathul Khair dan Muhammad Jihad Firman dari IAIN Sultan Amai Gorontalo dan dipublikasikan pada tahun 2026 menunjukkan bahwa pengelolaan usaha pajeko atau kapal penangkap ikan tradisional tidak hanya meningkatkan pendapatan nelayan, tetapi juga menambah Pendapatan Asli Desa (PAD) serta memperkuat kemandirian ekonomi desa.

Temuan ini menjadi penting karena banyak desa di Indonesia masih mencari model pengelolaan BUMDes yang benar-benar mampu menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pengalaman Desa Tunas Jaya menunjukkan bahwa pemanfaatan potensi lokal yang dikelola secara profesional dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan warga sekaligus memperkuat pembangunan desa.

BUMDes dibentuk sebagai lembaga ekonomi desa yang mengelola potensi lokal agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Di Desa Tunas Jaya, potensi tersebut berasal dari sektor perikanan karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai nelayan dan wilayah desa berada di kawasan pesisir. Melihat kondisi tersebut, pemerintah desa bersama masyarakat mengembangkan unit usaha pajeko sebagai salah satu program unggulan BUMDes sejak 2021 dan mulai beroperasi secara penuh pada 2022.

Dalam penelitian ini, para penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi deskriptif. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengurus BUMDes, nelayan, pemilik kapal, anggota usaha pajeko, serta dokumentasi berbagai aktivitas usaha. Pendekatan tersebut digunakan untuk memahami secara langsung pengalaman para pelaku usaha dalam mengelola BUMDes dan dampaknya terhadap pendapatan masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha pajeko berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat melalui beberapa strategi utama.

Pertama, BUMDes membangun kerja sama yang kuat antara pengurus, pemilik rakit, kapten kapal, dan Anak Buah Kapal (ABK). Sistem pembagian hasil dilakukan secara terbuka dan disepakati bersama sehingga mampu membangun rasa saling percaya.

Kedua, masyarakat dilibatkan secara aktif tanpa membedakan latar belakang selama memiliki kemampuan dan kemauan untuk bergabung. Partisipasi masyarakat menjadi salah satu faktor yang memperkuat keberhasilan usaha.

Ketiga, hasil tangkapan dipasarkan melalui Tempat Pelelangan Ikan (TPI) agar memperoleh harga yang lebih kompetitif. Strategi pemasaran ini membantu meningkatkan nilai jual hasil tangkapan nelayan.

Keempat, kapal dan alat tangkap mendapatkan perawatan rutin sehingga operasional usaha dapat berlangsung lebih stabil dan risiko kerusakan dapat diminimalkan.

Data pendapatan BUMDes memperlihatkan perkembangan yang konsisten selama empat tahun terakhir. Pada tahun 2022 nilai hasil tangkapan mencapai sekitar Rp64,75 juta, kemudian meningkat menjadi Rp84,09 juta pada 2023. Tahun 2024 hasil tangkapan kembali naik menjadi Rp106,22 juta, dan pada 2025 mencapai Rp110,49 juta.

Kenaikan tersebut juga berdampak langsung pada pendapatan BUMDes. Pendapatan yang diterima BUMDes meningkat dari sekitar Rp9,71 juta pada 2022 menjadi Rp16,57 juta pada 2025. Secara keseluruhan, nilai hasil tangkapan maupun pendapatan BUMDes meningkat sekitar 70,64 persen selama periode penelitian, menunjukkan bahwa usaha pajeko berkembang secara positif dari tahun ke tahun.

Selain meningkatkan pendapatan desa, usaha pajeko juga memberikan manfaat langsung kepada anggota. Beberapa nelayan menyampaikan bahwa hasil usaha tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga digunakan untuk memperbaiki kapal dan membeli jaring baru sehingga usaha dapat terus berkembang. Sebagian besar tenaga kerja juga berasal dari Desa Tunas Jaya sehingga manfaat ekonomi berputar di lingkungan desa.

Walaupun demikian, penelitian ini juga menemukan sejumlah tantangan. Faktor cuaca, ombak besar, dan musim ikan masih menjadi hambatan utama bagi nelayan. Selain itu, proses pengurusan izin usaha perikanan, keterbatasan modal untuk perawatan kapal, serta menurunnya motivasi sebagian ABK saat musim ikan kurang baik turut memengaruhi produktivitas usaha.

Menurut Fathul Khair dan Muhammad Jihad Firman dari IAIN Sultan Amai Gorontalo, keberhasilan usaha pajeko tidak hanya ditentukan oleh besarnya hasil tangkapan, tetapi juga oleh kemampuan BUMDes membangun kolaborasi, kepercayaan, dan tata kelola yang baik di antara seluruh pihak yang terlibat. Pendekatan tersebut memungkinkan potensi lokal dimanfaatkan secara lebih efektif sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat secara luas.

Penelitian juga menilai efektivitas BUMDes menggunakan tiga indikator utama, yaitu pencapaian tujuan, integrasi, dan adaptasi. Pada aspek pencapaian tujuan, usaha pajeko berhasil meningkatkan pendapatan anggota serta memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa. Dari sisi integrasi, BUMDes mampu melibatkan masyarakat secara aktif dalam pengelolaan usaha. Sementara pada aspek adaptasi, pemilihan sektor perikanan dinilai sesuai dengan kondisi geografis Desa Tunas Jaya yang memiliki sumber daya laut melimpah dan masyarakat yang telah lama berprofesi sebagai nelayan.

Temuan ini memberikan pelajaran penting bagi desa-desa lain di Indonesia. Pengembangan BUMDes akan lebih efektif apabila didasarkan pada potensi ekonomi lokal, dikelola secara transparan, melibatkan masyarakat secara aktif, serta didukung strategi pemasaran dan pemeliharaan usaha yang berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, BUMDes tidak hanya menjadi badan usaha desa, tetapi juga menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Profil Penulis

Fathul Khair merupakan akademisi dari IAIN Sultan Amai Gorontalo yang memiliki ketertarikan pada kajian pemberdayaan masyarakat, pembangunan desa, dan ekonomi berbasis komunitas.

Muhammad Jihad Firman merupakan peneliti dari IAIN Sultan Amai Gorontalo yang berfokus pada pengembangan ekonomi desa, manajemen BUMDes, dan pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.


Sumber Penelitian

Khair, F., & Firman, M. J. (2026). Efforts to Increase Community Income through Village-Owned Enterprises (BUMDes) in Tunas Jaya Village, Bone Bolango Regency. Formosa Journal of Business and Economic Statistics (FJBES), Vol. 2 No. 3, 363–384.

Posting Komentar

0 Komentar