Persaingan bisnis yang semakin ketat di era globalisasi membuat perusahaan dituntut mampu mengelola sumber daya manusia secara lebih efektif. Produktivitas karyawan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya saing organisasi. Namun, peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis atau penggunaan teknologi, melainkan juga dipengaruhi oleh lingkungan kerja, nilai-nilai organisasi, serta komitmen setiap individu terhadap perusahaan.
Peneliti menemukan bahwa PT X menghadapi sejumlah tantangan dalam pengelolaan sumber daya manusia. Studi pendahuluan menunjukkan capaian target kerja karyawan rata-rata masih berada pada angka 78 persen dari target tahunan. Selain itu, tingkat pergantian karyawan mencapai 12 persen, lebih tinggi dibanding kisaran ideal 5–8 persen. Survei internal juga menunjukkan hanya sekitar 64 persen karyawan yang menilai budaya kerja perusahaan telah diterapkan secara konsisten, sementara 58 persen merasa belum memperoleh umpan balik yang memadai dari atasan mengenai kinerja mereka. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa budaya kerja dan komitmen organisasi masih perlu diperkuat agar mampu mendorong produktivitas secara optimal.
Untuk menguji hubungan tersebut, tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap seluruh 64 karyawan PT X. Seluruh populasi dijadikan responden melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan observasi dan kuesioner berskala Likert, kemudian dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics Version 29 melalui uji validitas, reliabilitas, serta regresi linier berganda.
Dalam penelitian ini, budaya kerja diukur melalui indikator disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan inovasi. Sementara itu, komitmen organisasi dinilai berdasarkan komitmen afektif, normatif, dan keberlanjutan (continuance commitment). Produktivitas kerja diukur dari efektivitas, efisiensi, ketepatan waktu, dan kualitas pekerjaan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa budaya kerja maupun komitmen organisasi sama-sama memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan. Namun, komitmen organisasi memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan budaya kerja.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
- Budaya kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas kerja dengan nilai t = 4,726, lebih besar dibanding nilai kritis 1,997.
- Komitmen organisasi memberikan pengaruh yang lebih kuat terhadap produktivitas dengan nilai t = 8,899.
- Secara bersama-sama, kedua variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap produktivitas dengan nilai F = 105,076.
- Nilai koefisien determinasi (R² = 0,775) menunjukkan bahwa 77,5 persen variasi produktivitas kerja dapat dijelaskan oleh budaya kerja dan komitmen organisasi, sedangkan 22,5 persen sisanya dipengaruhi faktor lain seperti kepemimpinan, motivasi, kompensasi, lingkungan kerja, komunikasi, maupun pelatihan.
Menurut para peneliti, budaya kerja yang positif mendorong disiplin, kolaborasi, komunikasi yang efektif, serta kepatuhan terhadap nilai-nilai organisasi sehingga karyawan mampu bekerja lebih efisien. Di sisi lain, komitmen organisasi meningkatkan rasa memiliki, loyalitas, tanggung jawab, dan motivasi untuk memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan. Kombinasi kedua faktor tersebut menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi dunia usaha. Perusahaan yang ingin meningkatkan produktivitas tidak cukup hanya berinvestasi pada teknologi atau peralatan kerja, tetapi juga perlu membangun budaya organisasi yang sehat. Penguatan komunikasi internal, pemberian penghargaan kepada karyawan, pengembangan karier, kepemimpinan yang suportif, serta konsistensi penerapan nilai-nilai perusahaan menjadi strategi yang dinilai efektif dalam meningkatkan produktivitas sekaligus mempertahankan karyawan berkinerja tinggi.
Bagi praktisi manajemen sumber daya manusia, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa investasi pada aspek budaya organisasi memberikan manfaat jangka panjang. Sementara itu, bagi akademisi, penelitian ini memperkuat berbagai teori manajemen sumber daya manusia yang menyatakan bahwa budaya organisasi dan komitmen karyawan merupakan faktor utama yang memengaruhi kinerja individu maupun organisasi.
Para penulis juga merekomendasikan agar penelitian selanjutnya mengkaji faktor-faktor lain yang turut memengaruhi produktivitas kerja, seperti gaya kepemimpinan, motivasi kerja, kepuasan kerja, lingkungan kerja, kompensasi, dan disiplin kerja. Penelitian dengan jumlah responden yang lebih besar dan pada berbagai jenis organisasi juga diperlukan agar hasilnya dapat digeneralisasikan secara lebih luas.
Profil Penulis
Naufal Muhammad Thufail merupakan peneliti dari Universitas Pamulang yang memiliki fokus pada bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, khususnya budaya kerja, komitmen organisasi, dan produktivitas karyawan.
Erlita Kurniawati merupakan akademisi dari Universitas Pamulang dengan bidang kajian manajemen dan pengembangan sumber daya manusia.
Nurlela merupakan dosen dan peneliti di Universitas Pamulang yang menaruh perhatian pada penelitian mengenai perilaku organisasi, produktivitas kerja, serta manajemen sumber daya manusia.
Sumber Penelitian
Thufail, N. M., Kurniawati, E., & Nurlela. (2026). Implementation of Work Culture and Organizational Commitment in Improving Work Productivity at PT. X. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 7, 1825–1834. DOI: 10.55927/fjst.v5i7.123. URL: https://journalfjst.my.id/index.php/fjst
0 Komentar