BNN Surabaya Gunakan Instagram dan Identitas Lokal untuk Perkuat Pencegahan Narkoba

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Strategi komunikasi digital Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya dalam mencegah penyalahgunaan narkoba dinilai semakin adaptif terhadap kebiasaan generasi muda. Studi yang dilakukan Sherly Amelia Nur Faizzah, Citra Rani Angga Riswari, dan Farida dari Universitas Dr. Soetomo menganalisis pemanfaatan akun Instagram @infobnn_kota_surabaya selama Januari hingga Maret 2026. Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi edukasi digital, teknologi AI, fitur interaktif Instagram, serta identitas budaya lokal mampu membuat pesan antinarkoba lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.

Temuan ini penting karena pencegahan narkoba kini tidak hanya berlangsung melalui sosialisasi tatap muka. Ruang digital telah menjadi tempat utama generasi muda memperoleh informasi, berinteraksi, dan membentuk opini. Karena itu, lembaga publik perlu menyampaikan pesan kesehatan dan keselamatan sosial dengan cara yang sesuai dengan karakteristik audiens digital.

Studi tersebut berangkat dari tantangan serius penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Data yang dikutip dalam artikel menunjukkan bahwa sepanjang 2024, BNN mengungkap sedikitnya 618 kasus tindak pidana narkotika dengan lebih dari 900 tersangka. Sementara itu, pada 1 Januari hingga 17 April 2025, tercatat 13.142 kasus kejahatan narkoba.

Kelompok usia muda menjadi salah satu kelompok yang paling rentan. Dalam konteks tersebut, komunikasi pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan pesan formal dan satu arah. Informasi harus dikemas secara menarik, mudah dipahami, dan disampaikan melalui media yang memang digunakan sehari-hari oleh masyarakat.

185 Unggahan Instagram Dianalisis

Untuk memahami strategi komunikasi BNN Surabaya, para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi. Secara sederhana, metode ini digunakan untuk mengamati aktivitas komunikasi dan interaksi yang berlangsung di ruang digital.

Peneliti mengamati akun Instagram @infobnn_kota_surabaya selama tiga bulan, dari Januari hingga Maret 2026. Data diperoleh melalui observasi unggahan, dokumentasi konten, serta wawancara dengan Ibu Nava, anggota tim humas yang terlibat langsung dalam pengelolaan akun Instagram BNN Kota Surabaya.

Sebanyak 185 unggahan dianalisis. Peneliti mengamati berbagai bentuk konten, mulai dari feed, Reels, carousel, caption, hashtag, hingga interaksi pengguna.

Hasil analisis menunjukkan bahwa konten edukasi mengenai bahaya narkoba menjadi kategori paling dominan, yaitu 73 unggahan atau 39,5 persen dari keseluruhan konten. Kategori ini juga memperoleh rata-rata interaksi tertinggi, dengan 15.005 likes dan 1.256 komentar per unggahan berdasarkan data penelitian.

Selain konten edukasi, BNN Surabaya juga mengunggah konten sosialisasi dan penyuluhan sebanyak 33 unggahan, publikasi kegiatan sebanyak 18 unggahan, kolaborasi dengan instansi lain sebanyak 19 unggahan, serta konten peringatan institusional sebanyak 24 unggahan.

Sementara itu, konten ajakan rehabilitasi dan informasi layanan publik masing-masing hanya mencakup tiga unggahan. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi digital BNN Surabaya selama periode pengamatan lebih banyak menekankan aspek pencegahan dan edukasi dibandingkan informasi teknis mengenai layanan.

Empat Pilar Strategi Komunikasi

Para peneliti menganalisis strategi BNN Surabaya menggunakan empat unsur komunikasi yang dikembangkan dalam teori strategi komunikasi Anwar Arifin: mengenal khalayak, menyusun pesan, menetapkan metode, dan memilih media.

Pertama, BNN Surabaya berupaya mengenali kelompok sasaran. Generasi muda, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum menjadi kelompok penting karena memiliki intensitas penggunaan media sosial yang tinggi.

Kegiatan sosialisasi secara langsung di sekolah dan berbagai lembaga pendidikan juga berperan sebagai cara untuk memahami kebutuhan informasi masyarakat. Hasil pemahaman tersebut kemudian digunakan untuk menyesuaikan bahasa, visual, dan format konten di Instagram.

Kedua, pesan antinarkoba disusun dengan memadukan unsur informatif, edukatif, dan persuasif. Informasi mengenai bahaya narkoba, kelompok rentan, pentingnya rehabilitasi, serta ajakan menjalani hidup sehat dikemas dalam bentuk infografis, poster digital, carousel, dan Reels.

Dalam proses produksi konten, BNN Surabaya juga memanfaatkan teknologi pengeditan berbasis AI untuk membantu menyesuaikan visual dan teks dengan tren digital. Teknologi tersebut digunakan sebagai bagian dari upaya membuat konten lebih menarik dan relevan bagi pengguna media sosial.

Ketiga, BNN Surabaya menerapkan berbagai metode komunikasi, termasuk penyampaian informasi, edukasi, persuasi, pengulangan pesan, dan kanalisasi. Salah satu pendekatan yang paling menarik adalah penggunaan identitas lokal.

Maskot “Cula dan Baya” serta jargon khas “Surabaya Wani, Rek!” digunakan untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Pesan keberanian yang lekat dengan identitas Surabaya diarahkan menjadi keberanian untuk menolak narkoba.

Menurut keterangan Ibu Nava yang dikutip dalam penelitian, penyesuaian pesan dengan nilai budaya lokal dimaksudkan agar kampanye antinarkoba terasa lebih dekat dan mudah diterima oleh generasi muda.

Keempat, Instagram dimanfaatkan bukan hanya sebagai tempat mengunggah informasi, tetapi sebagai ekosistem komunikasi digital. BNN Surabaya menggunakan Feed, Reels, Live Streaming, Highlight, komentar, serta hashtag untuk memperluas jangkauan pesan dan membuka peluang interaksi dengan masyarakat.

Lima hashtag yang secara konsisten digunakan antara lain #AnakIndonesiaBersinar, #GenerasiBersinar, #IndonesiaTanpaNarkoba, #DimulaiDariAnak, dan #LindungiGenerasi.

Model Komunikasi yang Bisa Ditiru Lembaga Publik

Penelitian Sherly Amelia Nur Faizzah, Citra Rani Angga Riswari, dan Farida menunjukkan bahwa lembaga pemerintah dapat mengubah komunikasi publik yang biasanya formal menjadi lebih interaktif, visual, dan relevan secara budaya.

Namun, penelitian ini juga memberikan batasan penting. Studi tersebut menganalisis strategi komunikasi dari sisi pengelola pesan, tetapi belum mengukur secara langsung apakah konten Instagram tersebut benar-benar mengubah perilaku atau tingkat kesadaran audiens.

Karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengukur dampak konten digital terhadap perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku generasi muda. Penelitian berikutnya juga dapat membandingkan strategi BNN di platform lain seperti TikTok.

Bagi lembaga pemerintah dan organisasi publik, temuan ini memberikan pelajaran bahwa keberhasilan komunikasi digital tidak hanya bergantung pada seberapa sering informasi dipublikasikan. Pesan perlu dirancang berdasarkan karakter audiens, dikemas secara kreatif, menggunakan media yang tepat, serta mempertimbangkan identitas budaya masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, kampanye sosial seperti pencegahan narkoba berpeluang menjangkau lebih banyak orang dan membangun hubungan komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat.

Profil Penulis

Sherly Amelia Nur Faizzah merupakan penulis utama penelitian dan berafiliasi dengan Universitas Dr. Soetomo. Ia meneliti strategi komunikasi digital, pemanfaatan media sosial, serta komunikasi publik dalam konteks pencegahan penyalahgunaan narkoba.

Citra Rani Angga Riswari dan Farida merupakan penulis pendamping dari Universitas Dr. Soetomo yang turut berkontribusi dalam penelitian mengenai strategi komunikasi digital dan kampanye pencegahan narkoba.

Catatan: artikel jurnal yang menjadi sumber mencantumkan nama penulis dan afiliasi universitas, tetapi tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis secara terpisah.

Sumber Penelitian

Faizzah, Sherly Amelia Nur, Citra Rani Angga Riswari, dan Farida. “Adaptive Communication Strategies for Drug Prevention: A Netnographic Analysis of the Surabaya BNN’s Instagram Account.” Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Volume 5, Nomor 7, 2026, halaman 1243–1260. DOI: 10.55927/ijar.v5i7.16828.

https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar

Posting Komentar

0 Komentar