Beban Kerja Personel KRI Frans Kaisiepo-368 Mampu Dioptimalkan Lewat Metode NASA-TLX


Ilustrasi by AI 

Penataan alokasi personel militer berdasarkan analisis beban kerja secara saintifik mampu meningkatkan efisiensi operasional kapal perang dalam misi perdamaian internasional. Penelitian yang dipublikasikan pada Juli 2026 oleh Heri Prasetya, Rudi Hartono Siregar, dan Eko Krisdiono dari Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) menunjukkan bahwa jumlah total prajurit di KRI Frans Kaisiepo-368 sebenarnya sudah memadai, namun distribusi per divisi masih membutuhkan penyesuaian ulang agar seimbang antara beban mental dan fisik.

Misi Internasional dengan Tantangan Fisik dan Mental

Pengiriman Satuan Tugas (Satgas) Maritime Task Force (MTF) TNI Kontingen Garuda UNIFIL di perairan Lebanon merupakan pelaksanaan amanat konstitusi serta diplomasi Angkatan Laut. Tugas internasional ini memiliki karakteristik operasional yang sangat berbeda dengan latihan atau misi domestik.

Prajurit bertugas selama 10 bulan, mencakup perjalanan laut melintasi jarak lebih dari 7.000 kilometer serta pengerahan di Area of Maritime Operation (AMO). Rasio operasi kapal mencapai 70 persen di laut dan 30 persen bersandar di dermaga, yang berarti prajurit harus berlayar 5 hingga 6 hari nonstop dan hanya memiliki waktu berlabuh 1 sampai 2 hari. Selain tuntutan navigasi dan patroli keamanan, prajurit dihadapkan pada cuaca ekstrem, risiko zona konflik, serta tekanan mental akibat terpisah jauh dari keluarga.

Pengurangan kuota prajurit Bintara dan Tamtama untuk menyesuaikan batas formasi Satgas menyebabkan beberapa personel memegang peran ganda, yang memicu ketidakseimbangan beban kerja antar divisi.

Metodologi Penelitian Kombinasi

Para peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dan ergonomi kerja untuk mengukur kondisi operasional di atas kapal perang:

  • Pengukuran Beban Kerja Mental (NASA-TLX): Mengukur beban kognitif subjektif prajurit berdasarkan enam indikator, yaitu kebutuhan mental, fisik, waktu, kinerja, tingkat frustrasi, dan tingkat usaha.
  • Pengukuran Beban Kerja Fisik (Kajian Waktu dan Gerak): Menghitung total waktu penyelesaian tugas harian divisi berdasarkan standar Keputusan MenPAN No. KEP/75/M.PAN/7/2004 dan Peraturan Panglima TNI No. Perpang/93/XI/2011.
  • Integrasi Data: Mengombinasikan nilai beban mental ($x$) dan fisik ($y$) menjadi koefisien beban kerja gabungan ($z$) untuk menentukan formasi ideal prajurit di tiap divisi.

Temuan Utama: Ketimpangan Beban Kerja Antar Divisi

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa secara umum beban mental mendominasi tugas operasional Satgas MTF UNIFIL. Skor beban mental terbesar dicatat oleh Divisi Mesin/Pusat Kendali (MPK) dengan rata-rata 75,88 (kategori tinggi), sedangkan beban mental terendah berada di Divisi Deteksi Komunikasi (Detkom) sebesar 45,55.

Dalam hal beban kerja fisik, Divisi Pembekalan dan Logistik (Minlog) mencatat total waktu penyelesaian tugas tertinggi, yaitu 22.275 menit (kategori sangat tinggi).

+-------------------------------------------------------------------+
|               FORMASI PERSONEL BINTARA & TAMTAMA KRI FKO-368       |
+-------------------------------------------------------------------+
| Divisi        | Formasi Eksisting | Rekomendasi Ideal | Status    |
+---------------+-------------------+-------------------+-----------+
| Komunikasi    | 6 Personel        | 7 Personel        | +1 Orang  |
| Navigasi      | 3 Personel        | 3 Personel        | Tetap     |
| PAA           | 9 Personel        | 8 Personel        | -1 Orang  |
| PBA           | 6 Personel        | 8 Personel        | +2 Orang  |
| Teksen        | 6 Personel        | 5 Personel        | -1 Orang  |
| Detkom        | 4 Personel        | 4 Personel        | Tetap     |
| MPK           | 6 Personel        | 7 Personel        | +1 Orang  |
| MB            | 6 Personel        | 7 Personel        | +1 Orang  |
| Listrol       | 5 Personel        | 5 Personel        | Tetap     |
| Minlog        | 11 Personel       | 9 Personel        | -2 Orang  |
+---------------+-------------------+-------------------+-----------+
| TOTAL         | 62 Personel       | 63 Personel       | +1 Orang  |
+-------------------------------------------------------------------+

Penelitian merekomendasikan redistribusi personel:

  • Penambahan Personel: Divisi PBA membutuhkan tambahan 2 orang, sementara Divisi Komunikasi, MPK, dan MB masing-masing memerlukan tambahan 1 orang.
  • Pengurangan Personel: Divisi Minlog dapat dikurangi 2 orang, sedangkan Divisi PAA dan Teksen masing-masing dikurangi 1 orang.
  • Formasi Optimal: Total kebutuhan ideal prajurit non-perwira (Bintara/Tamtama) untuk penugasan ini adalah 63 orang (meningkat 1 orang dari formasi awal 62 orang).

Implikasi untuk Manajemen Pertahanan dan Kebijakan

Studi ini memberikan kontribusi praktis bagi Markas Besar TNI dan Angkatan Laut dalam merancang Daftar Susunan Personel (DSP) untuk operasi PBB maupun misi luar negeri lainnya. Penggunaan metode penataan beban kerja yang terukur dapat mencegah kelelahan kronis (burnout) dan penurunan konsentrasi prajurit di medan tugas yang berisiko tinggi.

Penerapan penyesuaian formasi berbasis data ini meminimalkan risiko kesalahan manusia (human error), menjaga kesiapan tempur alutsista, serta mengoptimalkan efisiensi anggaran pertahanan negara.

Profil Penulis

  • Heri Prasetya, S.T. merupakan peneliti dan perwira TNI Angkatan Laut yang menyelesaikan studi di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) dengan fokus keahlian pada Manajemen Sumber Daya Manusia dan Analisis Beban Kerja Militer.
  • Rudi Hartono Siregar, S.T., M.T. adalah dosen dan peneliti di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) yang ahli di bidang teknik manajemen industri dan optimasi organisasi pertahanan.
  • Eko Krisdiono, S.T., MT. adalah civitas akademika dan peneliti di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) dengan spesialisasi sistem operasional pertahanan dan riset operasi.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Analysis of Personnel Needs for the TNI Maritime Task Force of the UNIFIL Garuda Contingent Based on Workload Analysis (Case Study of KRI Frans Kaisiepo-368)
Jurnal: International Journal of Integrative Sciences (IJIS)
Tahun Publikasi: 2026 (Vol. 5, No. 7, hal. 879-890)
DOI: https://doi.org/10.55927/ijis.v5i7.51
URL : https://journalijis.my.id/index.php/ijis/index

Posting Komentar

0 Komentar