Beban Kerja dan Lingkungan Kerja Picu Cyberloafing Karyawan, Stres Kerja Jadi Faktor Kunci

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Yogyakarta - Kebiasaan membuka media sosial, membaca berita, berbelanja daring, atau melakukan aktivitas pribadi di internet saat jam kerja ternyata berkaitan erat dengan tingginya beban kerja dan kondisi lingkungan kerja. Temuan ini disampaikan Muhammad Fathir Hasan dari Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Andriyastuti Suratman melalui penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di Formosa Journal of Multidisciplinary Research. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa stres kerja menjadi penghubung utama yang mendorong munculnya perilaku cyberloafing pada karyawan, khususnya di lingkungan penelitian dan pengembangan (Research and Development/R&D) PT Kalbe Farma Tbk.

Hasil penelitian ini penting karena penggunaan internet di tempat kerja telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari hampir seluruh perusahaan. Di satu sisi, internet meningkatkan efisiensi pekerjaan. Namun di sisi lain, akses internet yang mudah juga membuka peluang bagi karyawan untuk menggunakan fasilitas perusahaan demi kepentingan pribadi selama jam kerja. Aktivitas tersebut dikenal sebagai cyberloafing, yaitu penggunaan internet untuk aktivitas yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, seperti membuka media sosial, menonton video, membaca berita, mengirim pesan pribadi, hingga berbelanja daring.

Fenomena cyberloafing menjadi perhatian karena berpotensi menurunkan produktivitas, mengurangi konsentrasi, serta menghambat pencapaian target organisasi. Meski beberapa penelitian menyebut aktivitas singkat di internet dapat mengurangi kejenuhan, cyberloafing yang berlebihan justru lebih banyak memberikan dampak negatif terhadap efektivitas kerja.

Dalam penelitian ini, Hasan dan Suratman menyoroti lingkungan kerja R&D PT Kalbe Farma Tbk yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan unit kerja lainnya. Karyawan di divisi ini dituntut menghasilkan inovasi, bekerja dengan tingkat ketelitian tinggi, memenuhi tenggat waktu yang ketat, dan menjaga kualitas hasil penelitian. Tekanan tersebut berpotensi meningkatkan stres kerja sehingga memengaruhi perilaku karyawan selama bekerja.

Untuk menguji hubungan tersebut, peneliti melibatkan 150 karyawan tetap Departemen R&D PT Kalbe Farma Tbk yang telah bekerja minimal satu tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis dengan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) sehingga hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel dapat diukur secara bersamaan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh hipotesis penelitian terbukti. Beban kerja berpengaruh positif terhadap cyberloafing. Semakin tinggi tuntutan pekerjaan yang diterima karyawan, semakin besar kecenderungan mereka melakukan aktivitas internet di luar kepentingan pekerjaan sebagai bentuk pengalihan sementara dari tekanan kerja.

Penelitian juga menemukan bahwa kondisi lingkungan kerja memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap cyberloafing dibandingkan beban kerja. Lingkungan kerja yang kurang nyaman, hubungan antarpegawai yang tidak harmonis, minimnya dukungan sosial, serta suasana kerja yang penuh tekanan meningkatkan kecenderungan karyawan mencari hiburan melalui internet selama jam kerja.

Selain itu, beban kerja terbukti meningkatkan tingkat stres kerja. Target yang tinggi, tenggat waktu yang ketat, serta tuntutan penyelesaian pekerjaan menyebabkan kelelahan fisik maupun psikologis. Kondisi serupa juga ditemukan pada lingkungan kerja yang kurang kondusif, yang turut meningkatkan tekanan emosional karyawan.

Penelitian ini memperlihatkan bahwa stres kerja memiliki pengaruh langsung terhadap cyberloafing. Ketika tekanan kerja meningkat, sebagian karyawan menggunakan internet sebagai mekanisme untuk mengurangi kejenuhan, mengalihkan perhatian, atau memulihkan kondisi emosional sebelum kembali bekerja.

Temuan yang paling penting adalah peran stres kerja sebagai variabel mediasi. Artinya, beban kerja maupun lingkungan kerja tidak hanya memengaruhi cyberloafing secara langsung, tetapi juga melalui peningkatan stres kerja terlebih dahulu. Dengan kata lain, semakin besar tekanan pekerjaan yang dirasakan karyawan, semakin tinggi tingkat stres mereka, dan pada akhirnya semakin besar pula kemungkinan melakukan cyberloafing.

Berdasarkan hasil tersebut, peneliti menilai bahwa upaya mengurangi cyberloafing tidak cukup hanya melalui pengawasan penggunaan internet di kantor. Perusahaan juga perlu mengelola faktor-faktor yang menjadi penyebab utamanya, terutama beban kerja dan kondisi lingkungan kerja.

Peneliti merekomendasikan agar perusahaan membagi beban kerja secara lebih proporsional sesuai kapasitas karyawan, menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan mendukung kolaborasi, memperbaiki komunikasi antara atasan dan bawahan, serta memperkuat hubungan antarkaryawan. Program pengelolaan stres seperti pelatihan manajemen stres, layanan konseling, dan peningkatan keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) juga dinilai dapat membantu menekan munculnya cyberloafing sekaligus meningkatkan produktivitas.

Meskipun demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa model yang digunakan baru mampu menjelaskan sekitar 10,3 persen variasi perilaku cyberloafing. Artinya, masih terdapat banyak faktor lain yang dapat memengaruhi perilaku tersebut, seperti kepuasan kerja, burnout, komitmen organisasi, keterikatan kerja, pengendalian diri, maupun budaya organisasi. Peneliti menyarankan agar penelitian selanjutnya memasukkan variabel-variabel tersebut serta memperluas objek penelitian ke perusahaan dan sektor industri lainnya.

Menurut Muhammad Fathir Hasan dan Andriyastuti Suratman dari Universitas Islam Indonesia, pengelolaan stres kerja menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan efektivitas kerja di lingkungan penelitian dan pengembangan. Dengan mengurangi tekanan kerja serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, perusahaan dapat menekan perilaku cyberloafing sekaligus menjaga produktivitas karyawan secara berkelanjutan.

Profil Penulis

Muhammad Fathir Hasan merupakan peneliti dari Universitas Islam Indonesia (UII) yang memiliki ketertarikan pada bidang manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, stres kerja, dan produktivitas karyawan.

Andriyastuti Suratman merupakan dosen dan peneliti di Universitas Islam Indonesia (UII) dengan bidang keahlian manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, dan manajemen kinerja.

Sumber Penelitian

Judul artikel: The Effect of Workload and Work Environment on Cyberloafing Behavior, with Work Stress as an Intervening Variable

Penulis: Muhammad Fathir Hasan, Andriyastuti Suratman

Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 7 (2026)

DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i7.147

Posting Komentar

0 Komentar