Beban kerja berlebih, konflik peran, dan kepemimpinan otoriter di tempat kerja kini bukan lagi sekadar tantangan karir, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan mental para pekerja. Peneliti dari STIES Putera Bangsa Tegal, Fatkhuri, bersama peneliti dari Universitas Terbuka, Khanifah Nurfaizah, mengungkap bahwa dinamika stres kerja yang terus-menerus dapat memicu gangguan kecemasan hingga burnout, yang pada akhirnya merusak kesejahteraan psikologis (psychological well-being) serta menurunkan produktivitas organisasi secara signifikan.
Dalam studi ilmiah yang dipublikasikan pertengahan 2026 ini, peneliti menyoroti bagaimana perubahan iklim kerja modern yang kompetitif, cepat, dan berbasis teknologi digital telah menggeser batas-batas kemampuan psikologis pekerja. Ketika tuntutan target peforma tinggi tidak diimbangi dengan sumber daya atau dukungan organisasi yang memadai, ketidakseimbangan tersebut memicu tekanan emosional yang berlarut-larut.
Memahami Akar Masalah: Mengapa Stres Kerja Terjadi?
Stres pada dasarnya merupakan respons adaptif alami manusia saat menghadapi ancaman atau tantangan. Dalam batas tertentu, stres dapat bersifat positif (eustress) dan mendorong peningkatan kinerja. Namun, ketika tekanan lingkungan kerja melampaui kemampuan adaptasi individu, tingkat stres bergeser menjadi destruktif.
Berdasarkan analisis teoretis para peneliti, sumber utama stres kerja (stressor) dapat dikelompokkan menjadi tiga faktor utama:
- Faktor Beban Kerja dan Target Performance: Tuntutan durasi kerja yang panjang, target Key Performance Indicator (KPI) yang tidak realistis, serta beban tugas harian yang melampaui kapasitas wajar pemicu utama kelelahan fisik dan emosional.
- Konflik Peran dan Ketidakjelasan Tugas (Role Ambiguity): Karyawan yang dihadapkan pada instruksi serba kontradiktif atau tidak memiliki kejelasan atas fungsi pekerjaannya cenderung mengalami tingkat kecemasan yang tinggi.
- Budaya dan Gaya Kepemimpinan Organisasi: Budaya kerja hiper-kompetitif, komunikasi yang buruk, ketidakterbukaan manajemen, serta gaya kepemimpinan otoriter terbukti merusak rasa aman secara psikologis di lingkungan kerja.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan pustaka (literature review). Peneliti mengumpulkan, mengkaji, dan membandingkan secara komprehensif berbagai dokumen ilmiah, teori psikologi organisasi, serta hasil-hasil studi terdahulu yang relevan. Melalui teknik sintesis data deskriptif, para peneliti mengidentifikasi keterkaitan antara dinamika stres kerja, kinerja karyawan, dan indikator kesehatan mental di tempat kerja.
Temuan Utama: Dampak Buruk terhadap Kesejahteraan Psikologis
Studi ini menggarisbawahi bahwa kesejahteraan psikologis tidak sekadar diukur dari rasa bahagia, melainkan mencakup pengembangan diri, tujuan hidup, dan kualitas hubungan interpersonal. Stres kerja kronis secara langsung merusak komponen-komponents tersebut melalui beberapa indikator:
- Penurunan Kepuasan Kerja: Kurangnya apresiasi atasan dan beban kerja yang tidak proporsional secara bertahap mengikis motivasi kerja dan memicu frustrasi emosional.
- Terganggunya Keseimbangan Kerja dan Kehidupan Pribadi (Work-Life Balance): Jam kerja yang panjang serta gangguan urusan pekerjaan di luar jam kantor secara masif memicu kelelahan emosional berlanjut.
- Meningkatnya Angka Burnout dan Turnover: Stres berlarut meningkatkan ketidakhadiran (absenteeism), rasa ketidakamanan (insecurity), hingga tingginya keinginan karyawan untuk mengundurkan diri (turnover intention).
"Stres kerja tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai masalah individu atau ketidakmampuan personal seorang pekerja. Stres kerja merupakan masalah strategis organisasi yang mencerminkan kualitas dari sistem manajemen kerja itu sendiri," tegas para peneliti dalam laporan ilmiahnya.
Implikasi dan Dampak Bagi Dunia Usaha dan Kebijakan
Hasil penelitian ini memberikan sinyal tegas bagi para manajer Sumber Daya Manusia (SDM), pemilik bisnis, dan pembuat kebijakan publik. Menerapkan manajemen kerja yang hanya berfokus pada hasil tanpa memedulikan kesehatan mental pekerja akan berujung pada kerugian finansial jangka panjang akibat penurunan performa dan tingginya biaya pergantian karyawan.
Untuk mengatasi permasalahan ini, peneliti merekomendasikan beberapa langkah strategis yang perlu diambil oleh organisasi:
- Desain Kerja yang Seimbang: Menyesuaikan ulang beban kerja dan target KPI agar realistis sesuai dengan kapasitas psikologis dan fisik SDM.
- Penerapan Transformational Leadership: Mendorong gaya kepemimpinan yang suportif, transparan, dan mampu menciptakan rasa aman secara psikologis (psychological safety).
- Kebijakan Kerja Fleksibel: Menyediakan kebijakan yang mendukung work-life balance untuk mengurangi risiko kelelahan emosional karyawan.
Profil Penulis
- Fatkhuri, S.E., M.M. — Dosen dan peneliti di STIES Putera Bangsa Tegal. Memiliki kepakaran di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), perilaku organisasi, dan pengembangan kinerja karyawan.
- Khanifah Nurfaizah, S.Psi., M.Si. — Akademisi dan peneliti di Universitas Terbuka. Berfokus pada bidang psikologi industri dan organisasi, kesehatan mental kerja, serta kesejahteraan psikologis karyawan.
Sumber Penelitian
Artikel berita ini disarikan dari penelitian ilmiah resmi:
- Judul Artikel: Workplace Stress Dynamics and Employee Psychological Well-Being
- Jurnal: International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR)
- Tahun Publikasi: 2026 (Volume 4, Nomor 6, Halaman 697–702)
- DOI :
https://doi.org/10.59890/ijgsr.v4i6.287 URL Resmi :https://slamultitechpublisher.my.id/index.php/ijgsr/index
0 Komentar