BOGOR – Pengelolaan sampah berbasis masyarakat semakin mendapat perhatian sebagai solusi berkelanjutan untuk mengatasi krisis sampah di Indonesia. Penelitian terbaru yang dilakukan Ike Elmasari, Muhamad Husein Maruapey, dan Bambang Nugroho Yulianto dari Program Studi Magister Administrasi Publik, Sekolah Pascasarjana Universitas Djuanda, Bogor menunjukkan bahwa keberhasilan program Bank Sampah tidak hanya ditentukan oleh partisipasi masyarakat, tetapi juga oleh kolaborasi yang kuat melalui Asosiasi Bank Sampah Indonesia (Asobsi). Hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2026 ini menegaskan bahwa penguatan jaringan kelembagaan, dukungan pemerintah, serta keterlibatan sektor swasta menjadi faktor penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Temuan tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya volume sampah nasional yang telah mencapai lebih dari 64 juta ton per tahun dengan pertumbuhan sekitar 2–4 persen setiap tahun. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pencemaran lingkungan, tetapi juga memengaruhi kesehatan masyarakat, kualitas kawasan perkotaan, hingga biaya pengelolaan sampah yang terus meningkat. Di tengah tantangan tersebut, pendekatan berbasis komunitas dinilai mampu menghadirkan solusi yang lebih berkelanjutan karena melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar penerima layanan pemerintah.
Bank Sampah Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya Bernilai
Dalam beberapa tahun terakhir, Bank Sampah berkembang menjadi salah satu inovasi sosial yang mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Melalui sistem ini, warga memilah sampah dari rumah, menyetorkannya ke Bank Sampah, kemudian memperoleh insentif berupa uang maupun bentuk penghargaan lainnya.
Lebih dari sekadar mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), Bank Sampah juga mendorong perubahan perilaku masyarakat, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui kegiatan daur ulang dan pemanfaatan kembali berbagai jenis limbah. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan Bank Sampah tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dari kemampuannya membangun kesadaran lingkungan dan memperkuat kemandirian masyarakat.
Kolaborasi Menjadi Faktor Penentu
Penelitian ini memberikan perspektif berbeda dibandingkan sebagian besar penelitian sebelumnya. Jika banyak kajian terdahulu lebih menyoroti efektivitas masing-masing Bank Sampah, penelitian ini justru menempatkan Asosiasi Bank Sampah Indonesia (Asobsi) sebagai aktor utama yang menghubungkan berbagai pihak.
Asobsi berperan sebagai jembatan antara komunitas, pemerintah daerah, sektor swasta, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Melalui koordinasi tersebut, berbagai Bank Sampah dapat saling berbagi pengalaman, memperkuat kapasitas kelembagaan, memperoleh dukungan kebijakan, hingga memperluas akses terhadap pasar hasil daur ulang.
Menurut para peneliti, pendekatan kolaboratif seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan apabila setiap Bank Sampah bekerja sendiri-sendiri tanpa jaringan kelembagaan yang kuat.
Analisis Berdasarkan Diskusi Lapangan dan Kajian Ilmiah
Untuk memperoleh gambaran yang komprehensif, penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif melalui kajian literatur dan analisis dokumen Focus Group Discussion (FGD).
Dokumen utama berasal dari FGD yang dilaksanakan pada 15 Februari 2025 di Kabupaten Bogor dengan melibatkan 20 peserta yang terdiri atas:
- 10 perwakilan Asobsi,
- 5 perwakilan Pemerintah Kabupaten Bogor,
- 3 akademisi lingkungan,
- 2 praktisi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Selain itu, peneliti juga mengkaji berbagai laporan pemerintah, dokumen kebijakan, serta sepuluh penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan peneliti membandingkan pengalaman lapangan dengan temuan ilmiah sehingga menghasilkan rekomendasi yang lebih kontekstual.
Partisipasi Warga Menentukan Keberhasilan Program
Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat merupakan fondasi utama keberhasilan Bank Sampah.
Komunitas yang aktif mengikuti kegiatan Bank Sampah terbukti memiliki:
- kesadaran lingkungan yang lebih tinggi,
- kebiasaan memilah sampah yang lebih konsisten,
- komitmen yang lebih kuat dalam menjaga keberlanjutan program,
- partisipasi yang lebih besar dalam kegiatan pelestarian lingkungan.
Dalam diskusi kelompok yang dianalisis peneliti, salah seorang peserta menyampaikan bahwa ketika masyarakat merasa memiliki program tersebut, mereka akan lebih bertanggung jawab untuk menjaga keberlangsungannya. Temuan ini memperlihatkan bahwa rasa kepemilikan sosial menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Bank Sampah Tidak Hanya Mengurangi Sampah
Penelitian juga menemukan bahwa Bank Sampah telah berkembang menjadi pusat pemberdayaan masyarakat.
Sejumlah Bank Sampah secara rutin menyelenggarakan pelatihan mengenai pemilahan sampah, pengolahan sampah organik, pembuatan kompos, keterampilan daur ulang, hingga pemasaran produk hasil olahan limbah.
Bahkan di Kabupaten Bogor berkembang model Cluster Waste Bank, yaitu beberapa Bank Sampah yang bekerja sama dalam satu kawasan untuk memperkuat posisi tawar saat menjual hasil daur ulang sekaligus berbagi sumber daya dan pengalaman pengelolaan. Model kolaborasi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat keberlanjutan program.
Masih Menghadapi Berbagai Tantangan
Walaupun menunjukkan hasil yang positif, penelitian juga mengidentifikasi sejumlah tantangan yang masih dihadapi pengelola Bank Sampah.
Beberapa kendala utama meliputi:
- ketergantungan terhadap pendanaan eksternal,
- regenerasi pengurus yang belum berjalan optimal,
- menurunnya antusiasme masyarakat setelah program berjalan beberapa waktu,
- fluktuasi harga jual sampah daur ulang,
- kapasitas kelembagaan yang belum merata.
Selain itu, lebih dari 78 persen Bank Sampah di wilayah penelitian masih menggunakan sistem pencatatan manual sehingga rentan terhadap kesalahan administrasi dan kehilangan data. Oleh karena itu, digitalisasi sistem pengelolaan Bank Sampah menjadi salah satu rekomendasi utama yang diajukan peneliti agar proses pencatatan volume sampah, transaksi, dan distribusi insentif menjadi lebih transparan dan efisien.
Mendukung Target Indonesia Bersih 2025
Penelitian ini menilai bahwa penguatan Bank Sampah berbasis komunitas dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian target Indonesia Bersih 2025.
Dampak yang diharapkan tidak hanya berupa berkurangnya volume sampah menuju TPA, tetapi juga meningkatnya kesadaran lingkungan, terciptanya lapangan kerja baru, bertambahnya pendapatan masyarakat melalui ekonomi sirkular, serta semakin kuatnya ketahanan komunitas dalam mengelola lingkungan secara mandiri.
Kabupaten Bogor bahkan menargetkan pembentukan 1.000 Bank Sampah pada tahun 2025 sebagai bagian dari strategi pengurangan sampah berbasis masyarakat. Target tersebut dinilai realistis apabila didukung oleh kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.
Menurut Ike Elmasari, Muhamad Husein Maruapey, dan Bambang Nugroho Yulianto dari Universitas Djuanda, keberhasilan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan teknologi atau kebijakan pemerintah. Penguatan kelembagaan, kepercayaan antar-pemangku kepentingan, partisipasi masyarakat yang konsisten, serta koordinasi melalui Asobsi menjadi fondasi utama untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan adaptif terhadap kebutuhan setiap daerah.
Para peneliti juga merekomendasikan agar model kolaborasi ini direplikasi di berbagai wilayah Indonesia dengan menyesuaikan karakteristik lokal, memperkuat kapasitas kelembagaan Bank Sampah, memperluas digitalisasi sistem pengelolaan, serta meningkatkan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Langkah tersebut diyakini dapat mempercepat terciptanya lingkungan yang lebih bersih sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat berbasis pengelolaan sampah.
Profil Penulis
Ike Elmasari merupakan peneliti pada Program Studi Magister Administrasi Publik, Sekolah Pascasarjana Universitas Djuanda, Bogor, dengan bidang kajian administrasi publik, tata kelola lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini disusun bersama Muhamad Husein Maruapey dan Bambang Nugroho Yulianto, yang juga berasal dari Program Studi Magister Administrasi Publik, Sekolah Pascasarjana Universitas Djuanda. Fokus keilmuan mereka meliputi collaborative governance, kebijakan publik, pengelolaan lingkungan, serta pembangunan berkelanjutan.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Community-Based Waste Reduction: The Collaborative Role of Waste Banks in Creating a Clean Environment
Penulis: Ike Elmasari, Muhamad Husein Maruapey, Bambang Nugroho Yulianto
Jurnal: International Journal of Finance and Business Management (IJFBM), Vol. 4 No. 6, 2026
DOI: https://doi.org/10.59890/ijarss.v4i6.20

0 Komentar