Ayah Milenial di Medan Bangun Pola Asuh Setara dan Penuh Kepedulian

Ilustrasi by AI

Medan – Peran ayah dalam keluarga mulai mengalami perubahan di kalangan generasi milenial. Tidak lagi hanya dipandang sebagai pencari nafkah, ayah kini semakin aktif terlibat dalam pengasuhan anak, pekerjaan domestik, serta membangun kedekatan emosional dengan keluarga. Temuan tersebut diungkap oleh Camelia Nasution, Harmona Daulay, Muba Simanihuruk, Hadriana Marhaeni Munthe, dan Rizabuana dari Universitas Sumatera Utara dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR). Penelitian ini menunjukkan bahwa konsep caring masculinities atau maskulinitas yang peduli mulai berkembang di kalangan ayah milenial sebagai bentuk baru peran laki-laki dalam keluarga modern.

Perubahan sosial, meningkatnya kesadaran akan kesetaraan gender, serta berkembangnya pola pengasuhan modern telah mendorong semakin banyak ayah untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam kehidupan anak. Di Indonesia, peran pengasuhan masih sering dianggap sebagai tanggung jawab utama ibu, sementara ayah lebih dikenal sebagai penyedia kebutuhan ekonomi keluarga. Namun, berbagai program pemerintah dan meningkatnya perhatian terhadap fenomena fatherless mulai mendorong perubahan cara pandang mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak.

Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan fenomenologi kualitatif untuk memahami pengalaman hidup para ayah milenial di Kota Medan. Sebanyak sepuluh ayah dipilih secara purposif karena aktif terlibat dalam pengasuhan anak dan kehidupan keluarga. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, kemudian dianalisis secara tematik untuk menggambarkan bagaimana mereka memaknai identitas sebagai ayah sekaligus laki-laki di tengah perubahan nilai sosial dan budaya.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa para ayah milenial tidak lagi mendefinisikan peran ayah semata-mata sebagai pencari nafkah. Mereka memandang kehadiran emosional, komunikasi yang hangat, keterlibatan dalam pekerjaan rumah tangga, serta tanggung jawab bersama dengan pasangan sebagai bagian penting dari peran seorang ayah. Banyak responden mengaku pengalaman masa kecil, pola asuh yang mereka terima, hingga pengalaman merawat anggota keluarga menjadi bekal dalam membangun cara mengasuh anak yang lebih terbuka dan penuh empati.

Penelitian juga menemukan bahwa kehadiran emosional menjadi salah satu bentuk pengasuhan yang paling bermakna bagi para ayah. Mereka berusaha meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak, menemani belajar, mengantar ke sekolah, bermain bersama, hingga memberikan dukungan emosional dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas tersebut dipandang sebagai bentuk tanggung jawab seorang ayah, bukan sekadar membantu pasangan. Pandangan ini menunjukkan adanya perubahan dari pola pengasuhan tradisional menuju hubungan keluarga yang lebih kolaboratif.

Dalam praktiknya, perubahan tersebut tidak selalu berjalan mudah. Para ayah mengaku masih menghadapi tuntutan pekerjaan, stereotip sosial, hingga anggapan bahwa pekerjaan rumah dan pengasuhan merupakan tanggung jawab perempuan. Beberapa responden bahkan mengaku pernah mendapatkan komentar dari lingkungan sekitar maupun rekan kerja ketika aktif mengurus anak atau membantu pekerjaan domestik. Meski demikian, mereka tetap berusaha menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan keluarga serta mempertahankan keterlibatan dalam pengasuhan anak.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa menjadi ayah merupakan proses pembentukan identitas yang terus berkembang. Banyak responden mengungkapkan bahwa pemahaman mereka mengenai arti menjadi laki-laki berubah setelah menikah dan memiliki anak. Kekuatan tidak lagi dimaknai sebagai sikap keras, menjaga jarak emosional, atau menunjukkan dominasi, melainkan diwujudkan melalui kesabaran, empati, konsistensi, serta kemampuan hadir ketika keluarga membutuhkan dukungan. Dengan kata lain, kepedulian justru menjadi bagian dari identitas maskulinitas yang baru.

Menurut Camelia Nasution dan tim dari Universitas Sumatera Utara, praktik caring masculinities memperlihatkan bahwa maskulinitas tidak bersifat tetap, melainkan dapat berubah mengikuti pengalaman hidup dan kebutuhan keluarga. Para ayah tetap menjalankan tanggung jawab sebagai pencari nafkah, tetapi pada saat yang sama mereka juga membangun hubungan yang lebih dekat dengan anak dan berbagi tanggung jawab pengasuhan bersama pasangan. Temuan ini menunjukkan bahwa pengasuhan bukan lagi dipandang sebagai tugas perempuan semata, melainkan menjadi tanggung jawab bersama dalam keluarga.

Penelitian ini memiliki implikasi penting bagi pembangunan keluarga di Indonesia. Meningkatnya keterlibatan ayah diyakini dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, sosial, dan psikologis anak sekaligus menciptakan hubungan keluarga yang lebih harmonis. Hasil penelitian juga dapat menjadi referensi bagi pemerintah, lembaga pendidikan, maupun organisasi masyarakat dalam merancang program yang mendorong partisipasi aktif ayah dalam pengasuhan. Selain itu, penelitian ini memperkuat pentingnya menciptakan lingkungan kerja dan kebijakan yang lebih mendukung keseimbangan antara kehidupan keluarga dan pekerjaan bagi para ayah.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa ayah milenial di Kota Medan tengah membangun bentuk maskulinitas yang lebih peduli, setara, dan berorientasi pada hubungan emosional dalam keluarga. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa menjadi ayah bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga tentang hadir, mendengarkan, membimbing, dan tumbuh bersama anak-anak. Temuan ini memberikan gambaran bahwa keluarga modern di Indonesia mulai bergerak menuju pola pengasuhan yang lebih kolaboratif dan egaliter tanpa menghilangkan identitas laki-laki sebagai seorang ayah.

Profil Penulis

Camelia Nasution – Universitas Sumatera Utara, Indonesia.

Harmona Daulay – Universitas Sumatera Utara, Indonesia.

Muba Simanihuruk – Universitas Sumatera Utara, Indonesia.

Hadriana Marhaeni Munthe – Universitas Sumatera Utara, Indonesia.

Rizabuana – Universitas Sumatera Utara, Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul: Caring Masculinities among Millennial Fathers in Medan City: A Phenomenological Study of Parenting Role Negotiation.

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 7, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.242

Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar