Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Integrasi teknologi digital dan lonjakan standar performa akademik di sekolah dasar kini memicu krisis kesehatan mental yang tersembunyi pada anak-anakPenelitian yang dilakukan oleh Nursida, Ganes Gunansyah, Neni Mariana, dan Suryanti dari Universitas Negeri Surabaya  dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 6 Tahun 2026 menyoroti bahwa kombinasi beban sekolah dan paparan digital yang tidak terkendali memicu stres multidimensi yang mengganggu perkembangan neuropsikologis anak.

Pergeseran Digital dan Standar Tinggi di Sekolah Dasar
Dunia pendidikan dasar sedang mengalami transformasi besar seiring diadopsinya platform elektronik, aplikasi interaktif, dan sistem pembelajaran daring. Sayangnya, adopsi teknologi ini sering kali menggantikan interaksi tatap muka yang krusial bagi perkembangan sosial anak. Di saat yang sama, budaya sekolah yang kompetitif serta tuntutan tinggi dari orang tua terhadap nilai dan peringkat standar semakin memperparah beban psikologis siswaAnak-anak usia sekolah dasar secara perkembangan belum matang untuk menghadapi tekanan evaluasi yang konstan serta stimulasi digital yang berlebihan. Fenomena ini menciptakan tantangan perhatian dan kognitif baru, yang jika dibiarkan, berisiko merusak prestasi akademik, hubungan pertemanan, hingga kesehatan mental jangka panjang mereka.

Menyaring Puluhan Riset Lewat Metode Transparan
Untuk memetakan dampak nyata dari kombinasi tekanan sekolah dan teknologi ini, tim peneliti dari Universitas Negeri Surabaya menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) yang terstruktur dan transparan. Mengikuti pedoman standar internasional PRISMA 2020, para peneliti menyaring total 539 artikel ilmiah dari basis data global ternama seperti Scopus dan Web of ScienceMelalui proses seleksi yang ketat, para akademisi Unesa mengisolasi 25 artikel jurnal empiris dan publikasi ilmiah utama yang terbit antara tahun 2021 hingga 2025. Pembatasan tahun ini sengaja dilakukan agar seluruh data yang dianalisis relevan dengan ekosistem pendidikan digital pascapandemi. Data tersebut kemudian dianalisis melalui tiga tahapan interaktif reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk melihat pola interaksi stres pada anak.

Temuan Utama: Lingkaran Setan Tekanan Sekolah dan Gadget
Analisis multidimensi yang dilakukan para peneliti Unesa membuktikan bahwa tekanan akademik dan digitalisasi pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan saling memperkuat hingga menciptakan dampak buruk bagi siswa:
  • Beban Akademik Menjadi Stres Kronis: Sistem evaluasi yang terlalu fokus pada angka membuat anak memandang belajar sebagai penghakiman konstan, memicu kecemasan tinggi, kelelahan emosional, dan ketakutan akan kegagalan.
  • Kelebihan Beban Kognitif (Cognitive Overload): Paparan layar gawai yang intensif dan stimulus multimedia yang berlebihan melampaui kapasitas memori kerja anak, yang mengakibatkan fragmentasi perhatian dan penurunan kemampuan fokus mendalam.
  • Siklus Umpan Balik Negatif: Siswa yang tertekan oleh standar akademik tinggi cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di platform digital untuk menyelesaikan tugas. Hal ini memicu kelelahan mental, menurunkan efisiensi belajar, menurunkan performa nilai, dan berujung pada datangnya tekanan baru dari guru atau orang tua.
  • Gangguan Fungsi Eksekutif Otak: Stres kronis akibat tuntutan sekolah terbukti mengganggu perkembangan korteks prefrontal anak, sehingga mereka kesulitan dalam perencanaan, memori kerja, kontrol perhatian, dan regulasi emosi.
  • Pergeseran Motivasi Belajar: Mekanisme penghargaan digital dan gamifikasi dalam aplikasi pembelajaran mengubah orientasi siswa. Mereka tidak lagi belajar karena rasa ingin tahu alami (intrinsik), melainkan demi mengejar validasi luar, nilai, atau hadiah digital (ekstrinsik).
Implikasi Nyata bagi Guru, Orang Tua, dan Kebijakan Publik
Riset ini membawa pesan kuat bagi para pengambil kebijakan pendidikan, guru, dan orang tua bahwa digitalisasi sekolah tidak bersifat netral secara psikologis. Penggunaan platform digital di sekolah tanpa manajemen yang tepat justru memperluas arena kompetensi dan kecemasan anak melalui fitur papan peringkat daring (leaderboards) dan dasbor performa yang transparanUntuk memutus rantai stres ini, dunia pendidikan harus segera beralih ke pendekatan humanis-digital. Implementasi praktisnya meliputi pembatasan durasi layar dalam instruksi harian, integrasi pembelajaran sosio-emosional, pengajaran etika digital, serta penyesuaian volume tugas sekolah agar selaras dengan kapasitas neuropsikologis anak.

Profil Penulis
Nursida, S.Pd. adalah peneliti pascasarjana di Universitas Negeri Surabaya yang aktif mengkaji bidang pendidikan dasar, psikologi perkembangan anak, serta kerangka pedagogi kontemporer.
Dr. Ganes Gunansyah, M.Pd. adalah dosen dan peneliti di Universitas Negeri Surabaya dengan kepakaran di bidang pengembangan pendidikan dasar, pedagogi kritis, dan pembelajaran ilmu sosial.
Dr. Neni Mariana, M.Pd. merupakan pakar kurikulum sekolah dasar dan metode instruksional dari Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya.
Prof. Dr. Suryanti, M.Pd. adalah Guru Besar pendidikan dasar di Universitas Negeri Surabaya yang berfokus pada pengembangan karakter anak, model pendidikan humanis, serta pelatihan guru.

Sumber Penelitian
Nursida, Ganes Gunansyah, Neni Mariana, dan SuryantiMental Health Crisis in Elementary School Students: The Hidden Impact of Academic Pressure and Digitalization. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol. 5, No. 6 2026. Hal. 1405-1420
DOI : https://doi.org/10.55927/fjas.v5i6.71
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas