Rapor Hijau Emiten Transportasi di BEI: ASSA Raih Predikat Terbaik, Garuda Indonesia Melesat Pasca-Restrukturisasi

Ilustrasi by AI

JAKARTA — Sektor transportasi dan logistik merupakan tulang punggung perekonomian nasional yang menghubungkan mobilitas manusia sekaligus distribusi barang di seluruh Indonesia. Namun, di balik peran strategisnya, aktivitas operasional sektor ini menghasilkan dampak lingkungan yang nyata secara langsung melalui konsumsi bahan bakar fosil, emisi kendaraan, hingga pengelolaan limbah operasional. Menanggapi tantangan ekologis ini, sebuah studi terbaru yang dirilis pada tahun 2026 oleh tim peneliti Universitas Jambi yang terdiri dari Suci Ramadhani, Mukhzarudfa, Wiwik Tiswiyanti, dan Ratih Kusumastuti mengungkap potret kualitas pelaporan keberlanjutan Environmental, Social, and Governance (ESG) pada emiten transportasi dan logistik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang periode 2021 hingga 2024.

Transparansi pelaporan berbasis ESG kini menjadi perhatian utama dunia investasi global karena mencerminkan keseriusan korporasi dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis jangka panjang mereka. Global Reporting Initiative (GRI) menjadi kerangka kerja internasional yang paling luas diadopsi, sementara BEI sendiri telah mengembangkan sistem kategorisasi nilai ESG guna memudahkan investor mengevaluasi kinerja keberlanjutan para emiten. Melalui metode kuantitatif deskriptif berbasis purposive sampling, tim peneliti mengevaluasi kepatuhan pelaporan keberlanjutan menggunakan 114 indikator GRI yang mencakup dimensi lingkungan, sosial, dan tata kelola pada empat perusahaan utama, yaitu PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Mitra Investindo Tbk, PT Mineral Sumberdaya Mandiri Tbk, dan PT Adi Sarana Armada Tbk.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan dan kualitas pengungkapan ESG antar-perusahaan sangat bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh komitmen manajemen internal serta skala operasional masing-masing perseroan. PT Adi Sarana Armada Tbk berhasil mengukuhkan posisi sebagai emiten dengan kualitas pelaporan ESG terbaik secara keseluruhan. Skor pengungkapan keberlanjutan perusahaan ini meningkat konsisten dari kategori Baik sebesar 55,1 persen pada tahun 2021 hingga menembus kategori Sangat Bagus atau Sempurna dengan nilai 76,2 persen pada tahun 2024. Capaian ini menjadikan perusahaan tersebut sebagai satu-satunya emiten dalam sampel yang sukses melampaui batas kepatuhan regulasi minimal melalui langkah dekarbonisasi operasional yang terukur.

Langkah progresif juga ditunjukkan oleh maskapai penerbangan nasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang mencatatkan lonjakan kualitas pelaporan paling dramatis sepanjang periode pengamatan. Pada tahun 2021, kualitas pelaporan emiten ini berada pada kategori Cukup dengan skor 32,7 persen, namun melesat tajam mencapai kategori Baik dengan skor 68,1 persen pada tahun 2024. Kenaikan signifikan ini didorong kuat oleh tekanan regulasi internasional pasca-restrukturisasi perusahaan serta komitmen terhadap inisiatif penerbangan netral karbon. Sementara itu, PT Mitra Investindo Tbk menunjukkan kinerja yang stabil di kategori Baik sejak tahun 2022 dengan skor berada di kisaran 53,7 persen hingga 56,7 persen. Kontras dengan pencapaian tersebut, PT Mineral Sumberdaya Mandiri Tbk menjadi emiten yang paling tertinggal karena terus stagnan di kategori Kurang hingga Cukup dengan skor akhir hanya sebesar 27,3 persen pada tahun 2024.

Bila dibedah berdasarkan dimensi pelaporan, tata kelola menjadi bidang dengan tingkat keterbukaan informasi paling tinggi secara sistemik. PT Mitra Investindo Tbk berhasil mempertahankan skor sempurna 100 persen untuk dimensi tata kelola sejak tahun 2022, diikuti oleh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang meraih skor tata kelola 100 persen mulai tahun 2023. Tingginya transparansi tata kelola ini membuktikan bahwa tekanan koersif berupa aturan pencatatan saham dari BEI dan regulasi Otoritas Jasa Keuangan berjalan sangat efektif di pasar modal. Sebaliknya, dimensi lingkungan justru menjadi titik kelemahan sistemik bagi mayoritas emiten transportasi karena skor pengungkapannya secara umum berada jauh di bawah dimensi lainnya. Pengecualian besar kembali ditunjukkan oleh PT Adi Sarana Armada Tbk yang sukses menaikkan skor lingkungan dari 35,5 persen menjadi 54,8 persen berkat inisiatif konkret berupa pemasangan panel surya di gudang raksasa, audit intensitas energi, serta optimalisasi rute pengiriman berbasis data besar.

Fenomena ketimpangan kualitas pelaporan ini membawa implikasi strategis yang mendalam bagi arah kebijakan pasar modal dan dunia usaha di Indonesia. Perbedaan performa yang mencolok antara dua perusahaan yang berada dalam satu sub-sektor logistik yang sama membuktikan bahwa jenis industri bukanlah penentu tunggal dari kualitas keterbukaan ESG. Kesiapan kapasitas internal, struktur kepemilikan, kepedulian investor institusional, serta komitmen manajemen puncak memegang peran yang jauh lebih krusial dalam menentukan apakah prinsip hijau benar-benar diterapkan atau sekadar menjadi formalitas dokumen. Oleh karena itu, BEI dan OJK perlu merumuskan instrumen kebijakan yang lebih spesifik serta memberikan pendampingan operasional bagi emiten berskala kecil agar kesenjangan kualitas pelaporan ini dapat segera diatasi demi meningkatkan daya saing investasi hijau nasional.

Profil Penulis Suci Ramadhani, Mukhzarudfa, Wiwik Tiswiyanti, Ratih Kusumastuti adalah tim peneliti dari Universitas Jambi 

Sumber Penelitian

Judul Artikel Jurnal: Quality of Sustainability Reporting in the Transport and Logistics Sector in companies listed on the IDX 2021-2024

Nama Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR)
Tahun Publikasi: 2026
Tautan Resmi DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i5.144
Tautan URL Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar